‘Urang Gelo’ yang Jadi Bapak Helikopter Indonesia

3301
Sumber gambar: Dok. Angkasa

Belajar desain dan konstruksi pesawat lebih secara otodidak, di tengah semangatnya menciptakan helikopter di dalam negeri, ia kehilangan sebelah lengannya akibat kecelakaan. Bukannya berkurang, semangatnya untuk membangun lebih banyak lagi helikopter malah makin membara. Wajar kalau pria kelahiran 10 April 1916 di Purworejo ini dijuluki Urang Gelo (Orang Gila) oleh orang-orang di sektiarnya di Bandung.

Namanya Yum Soemarsono. Tahun 1948 ia telah membangun sebuah helikopter yang ditenagai oleh mesin motor BMW. Kapasitas mesinnya kala itu cuma sekitar 500cc yang menghasilkan 24 tenaga kuda. Dalam hitungan Yum, helikopter RI-H itu mampu terbang 50 km per jam dengan kecepatan naik 1,5 m per detik.

Jika dilihat, RI-H memang sama dengan helikopter-helikopter lain yang dikembangkan di AS dan Eropa. Namun, di tahun 1948 Yum sudah menanam rotor stabilizer untuk helinya itu. Padahal saat itu rotor stabilizer baru sebatas desain awal. Tahun 1950-an bahkan teknologi itu baru diuji coba.

Yum Soemarsono bersama salah satu rekannya yang membantu dalam pembangunan helikopter. Sumber gambar: Dok. Angkasa

“Oh, pentolan itu, saya ngarang saja,” ujar Yum santai saat ditemui Angkasa di tahun 1990-an. Yum mengaku, ia tak sengaja menemukan sebuah gambar aneh di majalah Popular Science edisi tahun 1939 yang ia beli di tukang loak. Tidak ada keterangan apapun di situ, sehingga Yum menerka apa sebenarnya benda asing itu.

Nyatanya, insting Yum tak salah. Di kemudian hari Leonard Parish, instruktur Hiller Helicopter, tercengang saat melihat helikopter kedua yang Yum bangun di tahun 1954.

Sumber gambar: Dok. Angkasa
Yum Soemarsono (kedua dari kanan) bersama para penerbang TNI AUdi tahun 1994. Sumber gambar: Dok. Angkasa

Sayang, pesawat pertamanya itu dianggap berbahaya oleh Belanda. RI-H yang belum sempat terbang dipereteli dan disembunyikan di semak belukar agar tidak diketahui pesawat-pesawat pemburu milik Belanda. Apa daya, pesawat Kitty Hawk menjejak keberadaan helikopter Indonesia pertama itu. Tak ayal helikopter itu dihabisi.

Author: Remigius Septian