TALOA, Nama untuk Sebuah Legenda Penerbang TNI AU

3943
Peluncuran buku TALOA tahun 2015. Sumber gambar: Beny Adrian

Sebuah kenangan indah bagi 60 pemuda Indonesia yang mengikuti pendidikan penerbangan di Kalifornia pada tahun 1950. Kenangan itu dibukukan oleh anak-cucu mereka dalam sebuah buku foto “Kepak Sayap The 60 Taloans Sebuah Kilas Balik” setebal 128 halaman.

Jika dirunut ke belakang, kisah ini tidak akan pernah terjadi jika Kementerian Pertahanan RI tidak mengeluarkan pengumuman bertanggal 25 Juli 1950. Isinya adalah, dibukanya pendaftaran bagi pemuda Indonesia untuk menjadi penerbang.

Responnya luar biasa. Ratusan pemuda mendatangi Markas Besar Angkatan Udara di Jalan Merdeka Barat No. 8, dari berbagai wilayah di tanah air. Hasil seleksi menyatakan bahwa hanya 60 orang yang diterima sebagai kadet (calon penerbang). Pengumuman kelulusan disampaikan lewat surat dan RRI.

Para kadet berbaris di depan hanggar TALOA.
Para kadet berbaris di depan hanggar TALOA.

Meski umumnya dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, tapi ada juga yang bela-belain datang dari Manado yaitu John Nayoan. Ada juga yang bekas Tentara Pelajar, lulus SMA (Leo Wattimena), mahasiswa (Sugandi di IPB dan Hapid Prawira Adiningrat di ITB), bekerja (Saleh Basarah di Lanud Andir dan Omar Dani di Bank Indonesia), bahkan sudah menjadi anggota AURI (Makki Perdanakusuma dan Andoko).

Tentu setelah melalui proses administrasi berikutnya, mereka kemudian dilepas KSAU Komodor Surjadi Suryadarma di Bandara Kemayoran untuk diterbangkan ke Bakersfield, Kalifornia pada 16 November 1950.

Di wilayah Bakersfield inilah terdapat lapangan terbang Minterfield, tempat Transocean Airlines Oakland (TALOA) Academy of Aeronautics berada. Mereka berangkat dengan pesawat khusus DC-4 “Mount Fairwather” milik Transocean Airlines (TAL), semacam holding bagi usaha kedirgantaraan yang dibangun Orvis Nelson pada 1946.

Dipilihnya TALOA sebagai tempat berlatih penerbangan adalah atas saran Komodor Wiweko Soepono, yang merasa Amerika adalah tempat terbaik untuk belajar. Wiweko sendiri yang mengunjungi Minterfield untuk melihat langsung sekolah ini.

Saat itu Wiweko bertemu dengan salah seorang pejabat TALOA, Leenhuizen, yang fasih berbahasa Belanda. Pertemuan itulah yang dijadikan dasar dibuatnya kontrak pendidikan untuk 60 pemuda Indonesia, generasi baru airman AURI.

Semasa Perang Dunia II, Minterfield dipakai sebagai tempat latihan pilot tempur untuk dikirim ke wilayah Pasifik. Hampir seluruh areanya dibangun untuk menunjang pendidikan penerbang. Permukaannya diperkeras dengan kontruksi beton.

Kurang lebih 20 persen dipakai untuk parking ramps yang mampu menampung ratusan pesawat BT-13. Sisanya merupakan area landasan.

Pada saat kedatangan para kadet ini, Minterfield yang memiliki tiga runway masih difungsikan sebagai pangkalan udara, meski operasionalnya lebih banyak untuk mendukung penerbang crop dusters (penyemprotan hama), pesawat pribadi dan hobbiest.

Di sekitar pangkalan kebetulan banyak dihuni warga imigran dari Meksiko dan Filipina, yang langsung menjadi pertimbangan utama Wiweko untuk menentukan pilihannya.

Saat itu TALOA hanya membutuhkan waktu satu tahun untuk mencetak penerbang. Sementara jika mengikuti pola pendidikan penerbang militer yang lazim, calon penerbang dan calon navigator harus menjalani pendidikan hampir tiga tahun di akademi militer.

Hal itu dialami perwira ALRI yang dididik di Akademi Militer Den Helder, Belanda. Cepatnya masa pendidikan di TALOA dikarenakan kepada kadet hanya diberikan materi seputar penerbangan. Nah, pendidikan militer nanti akan mereka terima sepulangnya ke tanah air.

Skenario ini sangat tepat untuk menghindari kelumpuhan total AURI, menyusul banyaknya penerbang mengundurkan diri terkait konflik internal yang terjadi di tubuh AURI.

Long John

Sebelum diterbangkan ke Kalifornia, ke-60 pemuda ini ditampung di sebuah asrama di kawasan Cililitan (sepertinya di mess AURI). Mereka dikelompokkan ke dalam enam grup berdasarkan tinggi badan, dengan setiap grup beranggotakan 10 orang dengan satu orang sebagai group leader.

Sebagai leader dari kesemua pemuda ini, KSAU Surjadarma secara langsung menunjuk Makki Perdanakusuma. Mudah ditebak, karena Makki sudah menjadi perwira AURI ketika terpilih sebagai kadet.

Kepada setiap kadet diberikan sejumlah perlengkapan. Terdiri dari pakaian seragam dari bahan drill katun warna khaki, satu stel jas pesiar dari wol warna abu-abu yang mereka sebut jas kebo, dan pakaian dalam long john putih yang sering mereka sebut baju Anoman.

Dengan semua bekal yang diberikan, mereka pun berangkat menyongsong kehidupan baru di dunia baru yang nyaris tidak mereka kenal sama sekali.

Penerbangan yang melelahkan mereka lalui selama 58 jam. Empat mesin radial Pratt & Whitney R-2000 hanya mampu memberikan kecepatan maksimum sekitar 300 km/ jam, sehingga penerbangan DC-4 menjadi begitu lama.

Dari Kemayoran, pesawat mendarat di Labuan (Malaysia), Manila, Guam, Honolulu hingga akhirnya tiba di bandara Oakland, San Fransisco di wilayah pantai barat.

Peristiwa lucu terjadi di Honolulu, yang membuat mereka terpaksa dikarantina. Bermula dari ditemukannya bercak-bercak merah-hitam di tubuh salah seorang kadet oleh petugas imigrasi bandara.

Menduga itu sebagai sebuah penyakit, si kadet yang malang berikut seluruh temannya dikarantina di kawasan bandara sampai ada klarifikasi dari petugas kesehatan bahwa mereka “aman”. Rupanya saat itu orang Amerika belum mengenal yang namanya pengobatan tradisional kerokan, yang dianggap manjur mengobati orang yang masuk angin.

Saat DC-4 mendarat di San Fransisco, mereka disambut staf Departemen Luar Negeri RI, warga Indonesia setempat dan William Rea (akrab dipanggil Bill) dan istrinya Lilian Rea.

Pasangan ini adalah calon orang tua asuh mereka, yang kelak meninggalkan kenangan teramat mendalam hingga saat ini, sampai usia Lilian sekarang sudah mencapai 94 tahun.

Keduanya langsung menemani para kadet dalam penerbangan leg terakhir dari Oakland ke Bakersfield. Oh ya, tak lupa saat di San Fransisco, petinggi TALOA sebagai tuan rumah yang baik menyuguhkan makan malam yang sangat lezat.

Itulah kali pertama sejak meninggalkan Jakarta, ke-60 kadet ini merasakan makanan nikmat yang mengenyangkan. Hari ketiga perjalanan, menjelang malam, mereka akhirnya tiba di Bakersfield.

Warga di sekitar Minterfield sangat antusias menyambut pendatang dari seberang lautan ini. Wajah mereka terlihat gembira dan melambai-lambaikan tangan ke arah kadet di dalam bus.

Beberapa anak muda melambaikan tangan sambil mengacungkan jari tengahnya (fuck), yang dibalas para kadet juga dengan mengacungkan jari tengahnya. Baru kemudian setelah agak lama di Minterfield, mereka mengerti maksud mengacungkan jari tengah tersebut.

Hari-hari setelah itu, mereka sudah langsung dihadapkan kepada materi pendidikan penerbangan yang dimulai dengan ground school. Enam grup yang dibentuk di Jakarta, kali ini dilebur menjadi hanya dua kelompok (skadron) yang masing-masing beranggotakan 30 orang.

Skadron 1 dihitung kacang dari Grup 1, 2, dan 3. Selanjutnya menjadi Skadron 2.

Di awal perkenalan dengan direktur flying school James Hennessy dan para instruktur, agak menggelikan ketika para instruktur kesulitan mengejakan nama para siswanya.

Sejak itulah bermunculan nicknames dari “the sixty boys” yang terus terbawa hingga mereka mengabdi sebagai perwira TNI AU. Makki dipanggil Mackey, Leonardus Willem Johanes Wattimena dipanggil Leo, dan Saleh Basarah dipanggil Lex.

Meski tidak menggunakan gaya militer, tetap saja pendidikan harus dijalani dalam jadwal yang ketat. Pukul 5 pagi di tengah dinginnya suhu, mereka sudah harus bangun dan berbaris menuju mess hall.

Setelah itu makan pagi dilanjutkan pelajaran kelas. Namun semua dihadapi dengan semangat tinggi sampai akhirnya mereka memasuki tahap primary menggunakan pesawat single engine Aeronca.

Di bagian luar hangar, setiap saat dikibarkan bendera Merah Putih bersanding dengan Stars and Stripes. Di depannya terdapat apron dengan 20 pesawat Aeronca berbalut warna perak berderet rapih.

Pesawat ini digunakan secara bergiliran oleh Skadron 1 dan 2. Jika Skadron 1 belajar terbang, maka Skadron 2 ground school. Begitu sebaliknya. Pelajaran teori dan praktik berlangsung bergiliran sehingga waktu yang ada dimanfaatkan secara efektif.

Pelajaran diberikan berdasarkan manual yang diterbitkan CAA (Civil Aeronautics Administration), sekaligus sebagai acuan untuk mengikuti ujian tertulis guna mendapatkan pilot license.

Sedangkan latihan terbang dijadwalkan mulai dari tingkat mula (primary), dasar (basic), dan lanjut (advanced). Pendidikan tingkat advanced berarti sampai ke level pendidikan instruktur penerbang.

Di akhir tingkat mula setelah memperoleh 40 jam terbang, setiap mereka mendapat kesempatan terbang solo cross country sejauh 180 mil, sebuah jarak yang tidak dekat bagi kadet tingkat mula dengan pesawat single engine di atas wilayah yang asing bagi mereka. Wiweko memang cerdas.

Perwira penerbang AURI yang pernah dididik di TALOA.
Perwira penerbang AURI yang pernah dididik di TALOA.

Ia sengaja memilih Minterfield karena wilayah ini tidak pernah terpengaruh oleh faktor cuaca. Lokasinya terletak di kawasan yang terkenal sebagai the country of sunshine, sebuah tempat yang tidak pernah tertutup salju.

Namun begitu, para kadet tetap harus menyesuaikan diri dalam udara dingin, khususnya saat mulai terbang dengan pesawat Aeronca yang memiliki model kokpit terbuka sebelah. Agak terbantu setelah mereka mendapat jatah jaket kulit hitam dengan badge Swa Bhuana Paksa di dada kiri dan tulisan Indonesian Flight Student di bawahnya, dan dengan mengumpulkan uang saku bisa membeli kacamata Ray Ban.

Tahap basic dilanjutkan dengan pesawat latih Boeing Stearman. Setiap kadet harus mencapai 80 jam, dan bagi yang lolos dilanjutkan menggunakan pesawat Harvard dengan waktu 90 jam terbang.

Akhirnya mereka naik ke pesawat yang lebih besar, yaitu mengumpulkan akumulasi 45 jam di pesawat Beechcraft dan C-47 Dakota.

Hingga akhirnya mereka lulus setahun kemudian, semuanya memperoleh sertifikat dan wing TALOA. Sebagian besar lulus sebagai penerbang dan ada juga sebagai navigator, link trainer instructor, dan aerial photographer.

Pada Desember 1951, mereka kembali ke tanah air secara bertahap menggunakan berbagai maskapai penerbangan. Sebanyak 20 orang tetap di Minterfield untuk melanjutkan pendidikan flight instructor hingga enam bulan ke depannya.

Kompak selalu

Sungguh masa setahun di Kalifornia meninggalkan kesan mendalam bagi ke-60 kadet AURI generasi TALOA. Dari semula ada perasaan takut, khawatir, cemas, akhirnya sirna setelah hari demi hari mereka menjalani aktivitas di Minterfield.

Kebersamaan dalam suka dan duka, terkenang selalu kejenakaan Roesdi yang piawai memainkan piano dan biola, atau Omar Dani dan Kardjono yang piawai mencukur rambut.

Salah satu kenangan yang sangat berkesan dan mengharukan adalah saat mereka diundang menghadiri Veteran’s Day. Pada waktu lagu kebangsaan Amerika akan dinyanyikan, ternyata tidak seorangpun di antara yang hadir bisa mengiringinya dengan piano.

Panitia pun panik. Pembawa acara berusaha menanyakan kepada hadirin, apakah ada yang bisa duduk di depan piano. Di situlah Roesdi hadir sebagai penyelamat. Dengan tenang ia maju dan duduk di depan piano.

Jari jemarinya bermanuver menekan tuts demi tuts untuk membentuk sebuah nada The Star Spangled Banner. Luar biasa Roesdi, sang kadet TALOA.

Sekembalinya ke tanah air dan menjadi perwira AURI, anak-anak TALOA berkiprah di berbagai kecabangan. Seiring konflik yang terjadi di sejumlah wilayah di tanah air, mereka pun langsung mengisi pos terdepan, lead the way, menyongsong setiap ancaman terhadap keutuhan NKRI.

Menjelang akhir pengabdian mereka di TNI AU, tiga di antara mereka menduduki posisi puncak sebagai KSAU yaitu Omar Dani, Sri Mulyono Herlambang, dan Saleh Basarah. Beberapa di antara mereka menjadi legenda seperti Leo Wattimena dan Ign. Dewanto.

Menurut Jeanny Sugandi yang memimpin tim penulis berjumlah tujuh orang yang kesemuanya anak-anak alumni TALOA saat peluncuran buku “Kepak Sayap The 60 Taloans Sebuah Kilas Balik” di Warung Solo, Kemang, Jakarta Selatan (9 Agustus 2015), kiranya apa yang sudah dilakukan para orang tua mereka bisa dijadikan teladan.

“Ayah-ayah kami sudah melakukan yang terbaik, mereka adalah kebanggaan bagi kami anak-anak dan cucu-cucunya,” ujar Jeanny saat memberikan sambutan.

Meski acara peluncuran terbilang sederhana karena tidak mengundang media selain Angkasa, namun aura kebersamaan dan kekompakan yang diperlihatkan generasi kedua TALOA yang menyiapkan acara ini, sungguh luar biasa.

Mengutip ucapan salah seorang purnawirawan TNI AU, bahwa yang namanya paguyuban purnawirawan adalah sebuah organisasi yang sifatnya sementara. Karena satu demi satu anggotanya akan habis, hingga pada akhirnya sudah tidak ada lagi yang bisa menjalankan paguyuban.

Foto bersama keluarga besar TALOA. Sumber gambar: Beny Adrian
Foto bersama keluarga besar TALOA. Sumber gambar: Beny Adrian

Namun paguyuban putra-putri TALOA menjadi antitesis, bahwa pandangan itu tidak berlaku bagi mereka.

Meski generasi ayah mereka tinggal dua orang (Hapid Prawira Adiningrat dan Steve Kristedja), namun tidak terlihat tanda-tanda berakhir pula keharmonisan mereka. Sebaliknya semakin kuat.

Kehadiran Hapid Prawira Adiningrat di tengah-tengah anak-cucu TALOA seperti menjadi kebanggaan bagi semua (Steve Kristedja berhalangan karena tinggal di Kalifornia).

Marsekal (Pur) Chappy Hakim yang didaulat memberikan sambutan, tak kurang memberikan hormat kepada seniornya, Hapid Prawira Adiningrat, penerbang P-51 Mustang terakhir yang masih hidup di Indonesia.

BOX

Bill & Lilian Rea

Bill Rea bekerja pada Pacific Gas and Electronic Company di Bakersfield. Ia juga menjadi anggota beberapa organisasi kemasyarakatan di Kern County. Selain itu, ia aktif di Kamar Dagang lokal dimana ia bertugas dalam Military Service Wing. Sesungguhnya saat itu, ia dan Lilian adalah pengantin baru.

Rencana kedatangan 60 kadet AURI ini dibicarakan dalam rapat antara Kamar Dagang dan Transocean. Forum menyampaikan kebutuhan tempat untuk menampung para kadet selama berlatih.

Bill pun menawarkan diri menjadi sukarelawan, istilahnya social director alias orang tua asuh bagi the sixty boys. “Bill melakukannya dengan sungguh-sungguh,” kenang Lilian terhadap almarhum suaminya. Berkat Bill dan Lilian lah para kadet bisa menghabiskan waktu akhir pekan atau liburan ke sejumlah tempat di Amerika.

Bill pula yang menjembatani agar hubungan sosial mereka harmonis dengan warga setempat, sehingga setiap Sabtu mereka dijemput oleh beberapa keluarga yang menampung dalam kelompok-kelompok kecil. Wisnu Djajengminardo menyebut Bill sebagai our godfather, sosok yang paling dihormati dan dicintai para kadet AURI.

Author: Beny Adrian