Tak Banyak Yang Tahu, Indonesia Pernah Bantu Pejuang Mujahidin Afganistan

20246
Sumber gambar: pribadi

Dalam Perang Dingin II yang berlangsung sejak 1975 hingga 1985, Amerika Serikat dan Uni Soviet masih saling tarik dalam merebutkan pengaruh ideologi mereka. Kali ini targetnya bukan hanya Asia Tenggara, tapi juga Timur Tengah.

Pada saat itu Uni Soviet mencoba mempengaruhi Afganistan dengan sebuah invasi militer yang melibatkan 75.000 pasukan. Perang sengit pun terjadi antara Uni Soviet yang mendukukng rezim Perdana Menteri Nur Muhammad Taraki dengan para kelompok mujahidin lokal yang didukung oleh AS dan sekutunya, termasuk Indonesia. Indonesia diminta untuk mendukung persenjataan bagi pejuang mujahidin lewat Pakistan.

Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) pada akhir tahun 1970-an banyak memiliki persenjataan dan logistik buatan Uni Soviet. Persenjataan ini rupanya cocok untuk digunakan dalam melanjutkan perang gerilya Pejuang Mujahidin melawan kekuatan pasukan Uni Soviet di Afganistan. Dengan alasan inilah, Pemerintah Indonesia bersedia membantu Pejuang Mujahidin.

Tanggal 18 Februari1981, Pimpinan Intelijen RI Letjen TNI LB Moerdani didampingi Paban VIII Staf Intel Hankam RI Kolonel Udara Teddy Rusdy melakukan pertemuan khusus dengan Kepala Intelijen Negara Pakistan. Ini pertemuan rahasia untuk membahas permintaan Pejuang Mujahidin dan Intelijen Pakistan dalam membantu logistik, obat-obatan, dan persenjataan.  Saat itu pula, LB Moerdani setuju!

Dengan persetujuan Presiden Soeharto, dikumpulkan senjata buatan Uni Soviet dari berbagai jenis yang disimpan di gudang-gudang di seluruh Indonesia. Total senjata yang dikumpulkan mampu untuk melengkapi pasukan sebesar dua batalyon infanteri.

Selama beberapa bulan, senjata dan logistik tersebut diangkut ke Jakarta, lalu dikumpulkan di gudang-gudang khusus milik Staf Intel Hankam, Pusat Intelijen Strategis, dan Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Senjata-senjata itu juga harus dihapus semua nomor serinya untuk mengaburkan asal sumbernya. Pekerjaan ini membutuhkan waktu yang cukup lama.

Juli 1981 dipersiapkan cara dan sarana untuk pengangkutannya dari Jakarta ke Afganistan. Semua senjata dimasukkan ke dalam peti dan diberi label palang merah. Peti-peti ini dicampurkan dengan peti-peti obat-obatan dan selimut. Untuk pengangkutannya banyak alternatif yang didiskusikan, dan akhirnya diputuskan untuk mengangkut kargo tersebut melalui udara.

Pesawat Boeing 707 milik Pelita Air Service ditugaskan untuk membawa ‘bantuan’ ini. Tiga pilot: Capt Arifin, Capt Abdullah, dan Capt Danur menerbangkan pesawat tersebut untuk operasi intelijen. Pelita Air Service dan Garuda Indonesia Airways dengan pilot-pilot terpilih memang seringkali digunakan untuk menunjang operasi intelijen.

Author: Reni R. & Remigius Septian