Apa Hubungannya Kecamatan Playen dengan AURI?

4751
Sri Sultan Hamengkubuwono IX (tengah), Paku Alam VIII (kanan), dan Soekirman (salah satu anggota PHB AURI) pada saat peresmian monumen Stasiun Radio AU PC-2 di Kecamatan Playen pada 10 Juli 1984.

Desa Banaran terletak sekitar 37 km dari kota Yogyakarta. Desa ini berada di Kecamatan Playen, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Bagi kebanyakan orang, desa ini tidak terlihat berbeda dari desa lainnya.

Hanya ada sebuah monumen yang kini dikenal dengan nama Monumen Stasiun Radio PHB AURI PC-2 Playen. Monumen ini dibangun pada tahun 1982 oleh Yayasan 19 Desember 1948, dan diresmikan pada 10 Juli 1984 oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Monumen ini ternyata menjadi bukti keterlibatan Playen dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Keberadaan dan aktivitas Stasiun Radio PHB AURI PC-2 Playen dimulai pada awal Januari 1949, ketika Opsir Udara III Boedihardjo dibantu Basir Surya dan Sersan Udara Soeroso, masing-masing Komandan dan Kepala Bagian PHB Pangkalan Udara Gading, Wonosari membangun sebuah stasiun radio rahasia di Dusun Banaran, Kecamatan Playen. Tipe radio pemancar yang dipakai saat itu adalah People Cooperation, dengan callsign PC-2.

Pada awalnya radio PHB AURI ini ditempatkan di Desa Bandung yang letaknya berdekatan dengan Pangkalan Udara Gading, Wonosari. Setelah Kota Yogyakarta diduduki Belanda, peralatan PHB AURI ini kemudian dipindahkan ke Desa Banaran, Playen, Wonosari Gunungkidul.

Pemilihan lokasi didapat berkat  jasa SU Soeroso, yang pada waktu itu menjabat sebagai Kepala Bagian PHB Pangkalan Udara Gading. Stasiun ini berkedudukan di rumah Ibu Prawirosetomo yang memiliki anak bernama Martono dan seorang gadis yang membantu para gerilyawan dalam menyelamatkan peralatan radio peninggalan Jepang ini dari serangan Belanda.

Ibu Prawirosetomo (perempuan berambut putih dan berkebaya) yang merelakan rumahnya digunakan Markas Komunikasi Radio Para Pejuang RI.
Ibu Prawirosetomo (perempuan berambut putih dan berkebaya) yang merelakan rumahnya digunakan Markas Komunikasi Radio Para Pejuang RI.

Di tempat baru ini instalasi radio disesuaikan dengan kondisi setempat. Pembangkit listriknya disembunyikan di sebuah tungku tanah dan ditutupi kayu bakar, sedangkan antenanya dibentangkan antara dua batang pohon kelapa dan dipasang hanya pada malam hari saat akan melakukan siaran.

Pada pagi hari perlengkapan tersebut disembunyikan, sehingga aktivitas siaran ini tidak diketahui Belanda. Pemancar dan penerimanya diletakkan di dalam dapur dekat kandang sapi milik Prawirosoetomo. Pembangkit listriknya disembunyikan di sebuah lubang dalam tanah dan ditutupi kayu bakar.

Stasiun Radio PHB AURI PC-2 yang berada di Playen memiliki peran strategis dalam catatan sejarah perjuangan Bangsa Indonesia. Melalui  stasiun radio AURI itu, nota-nota dan radiogram berita-berita tentang perjuangan bangsa Indonesia, terutama radiogram Serangan Umum 1 Maret 1949 yang dikenal dengan “Enam Jam di Yogya” sampai ke perwakilan RI di New Delhi dan diterima PBB. Hasilnya Yogyakarta diserahkan kembali kepada Pemerintah RI.

Author: