Sang Gajah Berbagi Kisah

4055

Bukan bermaksud jumawa atau menghadirkan kesan pamer, namun tulisan ini bisa menjadi sarana untuk mengenal lebih dekat dan familiar dengan Skadron Udara 8 TNI AU.

Sama seperti satuan operasional lainnya yang sudah pasti memiliki sejarah dan kebanggaannya sendiri, demikian pula “Sang Gajah”, istilah yang disematkan kepada Skadron 8.

Dalam perjalanan waktu, sejak diresmikan sebagai Skadron Udara 8 pada 25 Mei 1965 oleh Menteri / Panglima Angkatan Udara Laksamana Madya Udara Oemar Dhani, Skadron 8 tercatat telah mengawaki dua jenis tipe helikopter.

Helikopter buatan Rusia yang termasuk helikopter raksasa di dunia, Mi- 6 Hook pada periode 1964-1968 dan SA-330 Puma buatan Perancis yang beroperasi mulai 1978 sampai saat ini.

Sebagai satuan yang mengemban tugas helikopter angkut berat, “Sang Gajah” telah banyak melaksanakan tugas operasi bersifat militer ataupun non militer di seluruh penjuru tanah air.  Seperti operasi Dwikora yang dilaksanakan tahun 1964 di sepanjang perbatasan Kalimantan dengan Serawak dan Brunei Darussalam.

Mi-6 yang pernah dioperasikan oleh Skadron 8, Lanud Atang Sendjaja.
Mi-6 yang pernah dioperasikan oleh Skadron 8, Lanud Atang Sendjaja.

Keterlibatan selanjutnya pada Operasi Malirja di daerah Papua yang melaksanakan pergeseran pasukan, dukungan logistik dan bantuan pembangunan wilayah. Saat melaksanakan operasi Malirja personel Skadron Udara 8 melaksanakan operasi pembebasan sandera pilot maskapai Bali Air yang ditawan OPM di daerah Jila Irian Jaya.

Saat itu mereka menggunakan helikopter SA-330 Puma pada tahun 1980  dengan bantuan perlindungan udara oleh pesawat legendaris OV-10 Bronco.

Peristiwa lain yang patut dikenang adalah penyanderaan 26 orang dalam tim ekspedisi Lorentz di Mapnduma Irian Jaya oleh GPK pimpinan Keli Kwalik tahun 1996.  Sekali lagi, “Sang Gajah” terlibat dengan memberangkatkan dua Puma ke daerah operasi. Keseluruhan kegiatan pembebasan sandera ini diberi nama Operasi Kikis.

Misi-misi operasi lain yang menjadi daftar keterlibatan personel Skadron 8 yaitu Operasi Seroja di Timor Timur ketika pelaksanaan integrasi ke Indonesia, Operasi Patok di perbatasan Indonesia dan Papua Nugini yang memanjang dari Jayapura sampai Merauke, dan Operasi Halau di Kepulauan Natuna untuk menghalau manusia perahu.

Medio 1982 Skadron 8 juga terlibat dalam Operasi Wisnu di perbatasan Kalimantan Barat dan Malaysia untuk menumpas sisa-sisa gerombolan PGRST/Paraku.

Di Operasi Militer Selain Perang (OMSP), pengabdian Skadron 8 pun saying jika terlupakan begitu saja. Beberapa operasi yang dilaksanakan adalah operasi bantuan bencana alam (banjir, gempa, longsor , erupsi, kebakaran hutan) yang terjadi di beberapa wilayah seperti Solo, Dieng, Yogyakarta, Padang, Kurima Papua, Kerinci, Maumere, Liwa, Biak, Ternate, Banyuwangi serta hampir seluruh daerah yang mengalami peristiwa bencana di Indonesia semenjak Skadron ini berdiri hingga saat ini.

Selain bencana alam, Skadron 8 juga terlibat dalam operasi bencana sosial (kelaparan, konflik komunal, kecelakaan moda transportasi) di beberapa wilayah Indonesia, seperti Sambas, Pulau Galang, Serui Papua, Lampung, Karimata dan lainnya.

Helikopter Puma saat bertugas mengangkat tugu Kujang yang menjadi ikon Kota Bogor.
Helikopter Puma saat bertugas mengangkat tugu Kujang yang menjadi ikon Kota Bogor.

Operasi yang bersifat bantuan lainnya adalah pembuatan film Awan Jingga tahun 1969 dan pemasangan empat Minoret Masjid Agung Kabupaten Garut tahun 1997. Skadron 8 juga pernah ikut serta dalam pemasangan simbol Kota Bogor yang ikonik,  Tugu Kujang pada 4 Mei 1982 dengan teknik sling untuk mengangkat Kujang raksasa seberat 800 kg.

Segores tinta kenangan kisah pengabdian “Sang Gajah” dan bentangan tugas yang menanti di masa kini dan akan datang, selalu menjadi bukti kualitas dan bakti terhadap tanah air.

 

Disarikan dari majalan Angkasa Edisi Juni 2015.

Author: Kapten Pnb Tatag Onne Setiawan/Remigius S.