Polymath Ini Tercatat Sebagai Manusia Pertama yang Mengembangkan Alat Penerbangan

5723
manusia pertama
Listosphere

Abbas Ibn Firnas (810-887 M), merupakan seorang polymath yang ahli pada bidang matematika, astronomi, fisika, dan penerbangan yang hadir pada abad ke-9. Dirinya tercatat sebagai manusia pertama yang mengembangkan alat penerbangan di dunia. Ia pun berhasil melakukan uji terbang dengan alat ciptaannya tersebut.

Jauh sebelum Orville dan Wilbur (Wright bersaudara) berhasil menerbangkan pesawat pada tahun 1903, ternyata Abbas Ibn Firnas telah lebih dulu mengembangkan prinsip-prinsip penerbangan. Hal tersebut diungkapkan sejarahwan bernama Phillip K. Hitti yang ditulis dalam History of the Arabs, “Ibn Firnas was the first man in history to make a scientific attempt at flying.”

Sebelum menerangkan lebih jauh, yang menjadi catatan dalam tulisan ini adalah bahwa pengertian manusia pertama di sini berlaku umum, yakni mencakup siapa pun yang berhasil terbang menggunakan alat apa pun serta tidak harus berupa pesawat terbang seperti yang ada saat ini.

Baca Juga:

Jenderal Ini Penemu Benua Amerika Sebelum Columbus

Bapak Boeing 747, Semua Berawal dari Summer Job

Abbas Ibn Firnas berhasil terbang menggunakan glider, yang merupakan sebuah alat terbang sederhana yang dilengkapi sayap. Namun demikian, Wright bersaudara tetap merupakan penemu sekaligus penerbang pesawat terbang pertama.

Alat penerbangan yang diciptakan Abbas Ibn Firnas memang terbilang masih sederhana. Namun begitu, keberhasilan Abbas Ibn Firnas menguji dan menerbangkan alat ciptaannya itu pada tahun 852 memberi inspirasi kepada ilmuwan-ilmuwan lainnya untuk mengembangkan konsep alat angkut udara yang kita kenal dengan pesawat terbang.

Siapa Abbas Ibn Firnas?

Abbas Ibn Firnas merupakan seorang pria kelahiran Izn-Rand Onda (sekarang Ronda, Spanyol) pada tahun 810 Masehi. Pria Maroko ini hidup di masa kekhalifahan bani Umayyah II di Andalusia (Spanyol). Ilmuwan muslim ini juga dikenal sebagai Abbas Abu al-Qasim bin Firnas bin Wirdas al-Takurini.

Semasa hidupnya, seorang genius yang hidup dan tinggal di Umayyah Emirat Córdoba ini dikenal sebagai seorang polymath, yakni ilmuwan serba bisa yang menguasai beragam disiplin ilmu pengetahuan.

Menurut beberapa sumber, ketertarikan Abbas Ibn Firnas pada bidang aeronautika bermula saat dirinya menyaksikan atraksi pria pemberani bernama Armen Firman yang membuat alat dari sutra yang diperkuat dengan batang kayu.

Armen Firman lantas terjun dari ketinggian, akan tetapi dirinya tak berhasil. Beruntung alat yang ia buat itu cukup menghambat gerak jatuh bebas Firman sehingga ia tak terluka.

Baca Juga:

‘Urang Gelo’ yang Jadi Bapak Helikopter Indonesia

Inilah Pesawat Pertama yang 100% Dibuat di Indonesia

Abbas Ibn Firnas yang juga berada dalam kerumuman penonton, terkesan dengan aksi yang dilakukan Armen Firman. Pengalamannya itulah yang akhirnya mendorong untuk mempelajari aeronautika lebih dalam.

Konsep dan Percobaan yang Dilakukan

Abbas Ibn Firnas merancang sebuah perangkat sayap yang secara khusus berbentuk seperti kostum burung. Abbas Ibn Firnas menggunakan semacam sayap burung lengkap dengan bulu-bulunya yang terbuat dari sutra. Ia telah memperhitungkan alat ciptaannya itu mampu menahan berat tubuhnya dengan prinsip kepakan sayap seperti pada burung, kelelawar atau serangga.

Setelah yakin dengan kemampuan hasil penelitiannya itu, ia pun mencoba alatnya itu pertama kali dari sebuah menara masjid di Córdoba pada tahun 852 M. ilmuwan muslim ini terbang dengan menggunakan dua sayap. Abbas Ibn Firnas pun sempat terjatuh, beruntung berpikir visioner untuk melengkapi dirinya dengan baju khusus yang mampu menahan laju jatuhnya. Baju khusus tersebut di kemudian waktu menjadi cikal bakal parasut yang kita kenal sekarang.

Pada tahun 875 M, saat usianya menginjak 65 tahun, Abbas Ibn Firnas merancang dan melakukan percobaan terbangnya yang terakhir, menggunakan pesawat layang yang merupakan cikal bakal gantole.

Baca Juga:

Clarence Leonard Johnson: Legenda Perancang Pesawat dari Amerika

NASA Ciptakan Pesawat Komersil QueSSt untuk Tur Ke Luar Angkasa

Percobaan kali itu dilakukan dari menara di gunung Jabal al-‘Arus (Mount of the Bride) di kawasan Rusafa, dekat Córdoba dan disaksikan banyak orang yang antusias dengan percobaan-percobaan ilmuwan kebanggaan mereka. Namun demikian, sebagian orang menganggap bahwa apa yang akan dilakukan oleh Abbas Ibn Firnas adalah hal gila dan mengkhawatirkan keselamatannya.

Sebelum melakukan uji coba penerbangannya itu, Abbas Ibn Firnas sempat mengucapkan salam perpisahan, karena khawatir jika percobaan penerbangannya gagal.

Ada yang menyebutkan bahwa ilmuan jenius asal Arab ini berhasil terbang selama beberapa menit di udara, melakukan manuver, hingga menempuh jarak terbang yang cukup signifikan. Namun sayang Abbas Ibn Firnas gagal mendarat ke tempatnya dengan mulus. Abbas Ibn Firnas terempas ke tanah bersama hasil ciptaannya itu (pesawatnya) dan mengalami patah tulang pada bagian punggung. Kecelakaan itu terjadi lantaran dirinya lupa untuk menambahkan ekor pada alat buatannya itu.

Abbas Ibn Firnas lupa memperhitungkan pentingnya ekor sebagai bagian yang digunakan untuk memperlambat kecepatan saat melakukan pendaratan sebagaimana layaknya burung ketika menggunakan ekornya. Cedera punggung akibat kecelakaan tersebut beberapa tahun kemudian menjadi sebab wafatnya sang ilmuwan muslim ini.

Menjadi Inspirasi

Pengalaman uji coba terbang yang dilakukan Abbas Ibn Firnas menjadi tongak awal bagi ilmuwan lain mempelajari lebih dalam menganai ilmu aernautika. Gagasannya terus dipelajari oleh ilmuwan-ilmuwan perintis ilmu kedirgantaraan lain setelahnya seperti Leonardo da Vinci (1452-1519) dari Italia, Otto Lilienthal (1848-1896), hingga Wright bersaudara (Orville, 1871-1948 dan Wilbur 1867-1912) dari Amerika Serikat.

Tak hanya mempelajari aeronautika dan membuat pesawat, Abbas Ibn Firnas juga mempelajari halilintar dan kilat, membuat tabel astronomi, serta menciptakan gelas berwarna. Abbas Ibn Firnas pun juga menemukan jam air yang disebut Al-Maqata.

Di bidang astronomi, ilmuwan muslim ini juga mengembangkan peraga rantai cincin yang digunakan untuk menjelaskan pola pergerakan planet-planet dan bintang-bintang.

Atas kontribusinya terhadap ilmu pengetahuan, beberapa negara bahkan memberikan penghormatan khusus pada Abbas Ibn Firnas. Pemerintah Libya mengeluarkan prangko bergambar Abbas Ibn Firnas untuk mengenangnya.

Hal serupa juga dilakukan pemerintah Irak yang membangun patung sang penerbang pertama itu di sekitar lapangan terbang internasionalnya. Bahkan Irak mengabadikan nama sang ilmuwan sebagai nama bandara di utara Baghdad, yakni Ibnu Firnas Airport.

Baru-baru ini nama Abbas Ibn Firnas pun dijadikan sebagai nama sebuah jembatan besar di Sevilla, Abbas ibnu Firnas Bridge. Tak hanya itu, NASA pun menamai salah satu kawah di bulan dengan nama Ibnu Firnas Crater.

Diolah dari berbagai sumber

Author: Fery Setiawan