Menjemput Pesawat Latih Grob di Tanah Bavaria

3799
pesawat latih
Pesawat latih dasar Grob G120TP-A TNI Angkatan Udara.

Penerbangan Emirates B777-300ER Jakarta-Dubai dilanjut dengan A380 Dubai-Munich mengantarkan rombongan yang dipimpin Kabaranahan Kemhan Laksamana Muda TNI Ir Rachmad Lubis tiba di Jerman, minggu ketiga Mei 2013. Dari Munich, perjalanan dilanjutkan melalui darat ke sebelah barat kurang lebih satu jam menuju sebuah pedesaan berhawa sejuk. Di Tussenhausen-Mattsies itulah, empat pesawat Latih Dasar Grob G 120TP untuk TNI AU telah siap menanti prosesi Roll-Out.

Perjalanan panjang menentukan pesawat Latih Dasar (LD) berteknologi maju berakhir di Tanah Bavaria, Jerman, ketika Indonesia menetapkan Grob G 120TP sebagai pemenang tender untuk pesawat LD TNI AU pada September 2011.

Baca Juga:

Pesawat Latih KT-1B TNI AU Akan Dilengkapi Kotak Hitam

Ini Dia Pesawat Latih Yak-130 yang Sempat Bersaing dengan T-50

Grob G 120TP dinyatakan sebagai pesawat LD yang paling memenuhi operational requirements yang dibutuhkan TNI AU sekaligus mengalahkan pesawat lain Finnmeccanica/Alenia Aermacchi (sekarang Leonardo) SF-260TP dan Pacific Aerospace CT-4 dalam persaingannya. Dengan anggaran sebesar 72 juta dolar AS, Indonesia mendapatkan 18 pesawat Grob G 120TP berikut paket pelatihan teknisi dan penerbang di pabriknya, FTD (Flight Training Device), Simulator, serta Initial Logistics Support package selama dua tahun dari Grob Aircraft.

Menentukan pesawat latih untuk digunakan dalam jangka waktu yang panjang serta penggunaannya yang membutuhkan jam terbang yang banyak pula di Sekolah Penerbang TNI AU, jelas membutuhkan pengkajian mendalam dari berbagai aspek. TNI AU sebagai operator merupakan pihak yang berkeinginan agar pesawat yang didapatkan sesuai dengan yang diidam-idamkan.

Baca Juga:

Mengintip Latihan Sekbang di Lanud Abdulrahman Saleh

Kenang Masa Sekbang, KSAU Terbangkan T-34 Charlie

Dari situ pula semua hal beranjak hingga diputuskan bahwa Grob G 120TP terpilih sebagai yang terbaik di kelasnya. Hal ini sejalan dengan apa yang ditekankan KSAU saat itu, Marsekal TNI Imam Sufaat, yang menyatakan bahwa untuk mendukung AU Kelas Satu, TNI AU harus dilengkapi dengan pesawat-pesawat terbaik.

Author: Roni Sontani