Kisah Skadron Udara 8 Evakuasi Korban OPM yang Mendebarkan

9238
Kru Skadron Udara 8. Sumber gambar: Skadron Udara 8

Hari itu, Kamis, tanggal 21 Februari 2013 pukul 12.00 WIT, turun perintah dari komando atas agar crew segera menyiapkan helikopter. Skadron Udara 8 ditugaskan untuk berangkat ke daerah puncak Mulia dan Sinak yang merupakan salah satu tempat di jajaran Pegunungan Papua. Masih belum jelas apa persisnya operasi yang bakal dijalankan. Yang terpikir di benak para kru adalah ini bukan operasi sembarangan.

Baru saat briefing kru mengetahui kalau mereka bakal terbang ke salah satu sarang Organisasi Papua Merdeka (OPM). Skadron Udara 8 diperintahkan untuk mengevakuasi personel TNI AD yang gugur dan terluka akibat kontak tembak dengan Orang Tak Dikenal (OTK), yang menurut data menurut informasi adalah bagian dari Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Pada saat itu Skadron Udara 8 melaksanakan kegiatan operasi pengamanan daerah perbatasan di wilayah Provinsi Papua sebagai BKO (Bawah Kendali Operasi) dari Kodam XVII Cendrawasih. Pada periode ini pesawat yang digunakan adalah helikopter SA-330 Puma dengan call sign HT-3318 yang ditempatkan di Pangkalan TNI Angkatan Udara (AU) Jayapura, Papua Barat.

Posisi puncak Mulia dan Sinak kurang lebih sekitar 180 Nm (Nautical Mile) dari Bandara Sentani di Jayapura. Puncak Mulia dan Sinak, keduanya merupakan sebuah distrik di Kabupaten Jaya. Durasi menuju lokasi apabila ditempuh dengan helikopter Puma akan memakan waktu 1 jam 45 menit.

Pre-flight inspection sebelum memulai operasi. Sumber gambar: Skadron udara 8
Pre-flight inspection sebelum memulai operasi. Sumber gambar: Skadron udara 8

Waktu menunjukkan pukul 13.00 WIT. Helikopter Puma dengan registrasi HT-3318 pun berangkat dari Bandara Sentani menuju ke daerah evakuasi korban di puncak Mulia dan Sinak. Lima orang prajurit Skadron Udara 8 mengawaki helikopter Puma tersebut. Mereka adalah Mayor Pnb Asep Wahyu Wijaya, Kapten Pnb Tatag Onne Setiawan, Lettu Tek Amang, Pelda Agustinus, dan Sertu Sambiyanto.

Sesuai dengan informasi yang didapat, jumlah personel yang akan dievakuasi adalah dua orang pasukan TNI AD di puncak Mulia. Satu orang luka tembak dan satu orang meninggal. Selain dua orang itu ada juga empat orang pasukan di Sinak yang akan dievakuasi, kondisi mereka sudah meninggal.

Selama penerbangan, komunikasi tetap dilaksanakan antara heli dengan pos pasukan yang berada di puncak Mulia dan Sinak agar didapatkan informasi terbaru. Melalui komunikasi itu diketahui bahwa kontak tembak terjadi pada pagi harinya. Jumlah korban juga sangat mungkin akan bertambah karena masih ada personel yang belum ditemukan akibat terjatuh ke dalam jurang.

Rute yang dilewati saat itu kondisi cuacanya mulai kurang bersahabat. Selain angin pegunungan yang mulai kencang, pertumbuhan awan pun mulai semakin memburuk. Bukan hal aneh memang, sebab karakter cuaca di daerah pegunungan Papua dikenal semakin “menantang” di siang hari.

Menghadapi kondisi saat itu maka helikopter Puma naik ke ketinggian 12.500 kaki untuk menghindari kepungan cuaca yang sedang memburuk. Akibatnya, crew harus menghirup oksigen dari tabung portable secara bergantian agar tidak mengalami hipoksia. Hal tersebut terpaksa dilakukan karena helikopter Puma adalah unpressurized cabin atau kabin tanpa sistem pengatur udara bertekanan.

Setelah melewati rintangan cuaca, heli mendarat di puncak Mulia yang berelevasi 5.400 kaki. Sesampainya di sana, ternyata dua korban yang akan dievakuasi belum tiba di pick up point. Crew pun berpikir untuk berangkat menuju ke Sinak mengevakuasi korban lain yang berada di sana demi efektifitas dan efisiensi waktu.

Kru Skadron Udara 8 berencana untuk menuju ke Sinak dan selanjutnya kembali ke puncak Mulia. Setelah semua korban terevakuasi dari kedua titik tersebut, barulah akan diterbangkan ke Jayapura. Pada saat itu ada personel dari Koramil Mulia yang menawarkan diri untuk ikut terbang menuju ke Sinak sebagai pemandu karena yang bersangkutan cukup menguasai data–data medan di daerah tersebut. (**ery)

Membawa pasukan lokal nyatanya juga tak menjamin keamanan. Di tengah perjalanan situasinya amat menakutkan.

Author: Kapten Pnb Tatag Onne Setiawan