Kisah Getir Evakuasi Korban Sukhoi Super Jet 100

12588

Semakin berat
Jumat 11 Mei 2012, sekitar pukul 14.30 WIB diperoleh laporan bahwa tim evakuasi darat sudah berhasil membuka medan, namun mereka sendiri belum yakin dapat didarati helikopter.

Sementara bantuan kekuatan dari Polisi Udara (NBell-412) dan Penerbad (Mi-17) disiagakan di Lanud ATS, karena selain keterbatasan kapasitas helipad Cijeruk, kedua pesawat itu tidak dilengkapi dengan peralatan SAR terutama hoist (whinch) dan perlengkapan rappelling.

Tanggal 12 Mei 2012, ditemani oleh Mayor Pnb Z.A. Purba sebagai kopilot dan bahan bakar yang tidak lebih dari 700 liter di tangki pesawat, saya terbang ke koordinat yang sehari sebelumnya dilaporkan oleh “Jaguar” (kode sandi tim Paskhas yang ada di Puncak Salak 1).

Kekhawatiran saya terjawab, lokasi evakuasi yang disiapkan adalah Puncak Salak 1, yang belum bisa didarati oleh Super Puma. Tetap dengan H-3214 kami melemparkan logistik untuk pasukan darat yang sudah empat hari hari belum makan sambil mengamati situasi sekeliling.

Angin di puncak cukup kencang dan sering kali berlawanan arah dengan yang ada di lereng. Dan saya melihat kantong-kantong jenazah sudah mulai dikumpulkan di pick-up point tersebut. Kami kembali ke Cijeruk untuk melaksanakan persiapan selanjutnya.

Di Cijeruk kami mulai mempersiapkan rescue net untuk mengangkut kantong jenazah ke pesawat, dan saat menurunkannya kami masukkan logistik, terutama air minum sebagai pemberat mengingat kondisi angin yang cukup kencang.

Selama proses climbing ke 7.000 kaki saya terus saling mengingatkan dengan seluruh awak pesawat agar memastikan bahwa kami masih bisa go around bila terjadi emergency saat menjelang hover. Bila emergency terjadi saat hover, pilihan hanya satu: jatuh tegak lurus di atas Puncak Salak 1! Ini tentu pilihan yang tak disukai siapapun.

Proses penurunan logistik dan pengambilan kantong jenazah yang pertama berjalan aman, demikian pula yang kedua dengan tetap memperhitungkan setiap risiko.

Kantung jenazah kami bawa ke helipad Cijeruk dan dari sana diterbangkan lagi menggunakan heli lain jenis NBO-105 ke Halim untuk kemudian dilaksanakan proses identifikasi. H-3214 sendiri dikhususkan untuk evakuasi dari “Jaguar” menuju Cijeruk. Sedangkan pengiriman logistik dilaksanakan oleh Mi-17 dan NBell-412 dengan titik muat dari Lanud ATS Bogor.

Hal lain yang belum saya perhitungkan sebelumnya, saya mengamati kondisi kantong jenazah yang berair. Saya minta kepada petugas PMI untuk menyiram kabin H-3214 dan rescue net dibersihkan dengan cairan antiseptik setiap kembali ke Cijeruk. Awak heli saya perintahkan juga untuk selalu menggunakan sarung tangan guna mengantisipasi berbagai kemungkinan.

Pada tanggal 13 Mei 2012, tim evakuasi asal Rusia mulai bergerak menuju crash site melalui jalur darat. Baru empat jam perjalanan dua orang sudah menyatakan mundur karena beratnya medan. Pada keesokan paginya tiga orang lagi meminta untuk dievakuasi karena kondisi mereka yang tidak memungkinkan.

Saya cek peralatan SAR ,yang ada hanya jangkar penyelamat. Saya pikir ini tidak cocok karena bila si korban panik justru akan sangat berbahaya.

Secara tidak sengaja saya melihat tiga anggota Paskhas dari Wing 3 dipimpin Mayor Psk Tambunan membawa body harness dan akan naik lagi ke crash site. Saya panggil mereka dan saya perintahkan untuk mengenakan harness yang mereka bawa namun turun ke “Jaguar” dengan rappelling.

Saya sampaikan untuk mengenakan harness itu ke personel KNKT Rusia dan Indonesia. “Tiga orang dulu, karena total yang harus dievakuasi ada lima orang.”

Pelaksanaan rappelling kali ini lebih menegangkan karena angin bertiup kencang dan awan pun ikut sesaat menutupi “Jaguar”.

Melihat kondisi cuaca saya putuskan untuk melaksakan hoist tiga orang dalam sekali hover (yang biasa dilatihkan adalah satu kali hoisting lalu memutar terlebih dahulu untuk proses cooling down). Kopilot dan flight engineer mengecek instrumen heli pada saat hovering.

Mendarat di Cijeruk, tiga orang yang baru saja dievakuasi turun dengan aman. Pesawat melaksanakan hot refueling (pengisian bahan bakar ke heli saat mesin heli masih berputar) karena kami berpacu dengan cuaca.

Sampai di final leg, saya baru ingat bagaimana cara menurunkan tiga body harness tadi ke “Jaguar”? Apa yang akan terjadi kalau itu dilempar ke bawah?

Sekali lagi berkat kebesaran Tuhan, body harness yang kami lemparkan aman dan tepat jatuh di “Jaguar” dan dapat segera dikenakan oleh satu orang Rusia dan satu anggota KNKT. Proses penarikan pun sama, tiga kali hoisting dalam sekali hover.

 

Tulisan ini dimuat pada Majalah Angkasa edisi November 2012.

Author: Mayor Pnb. M.R.Y. Fahlefie/Remigius Septian