Kisah Getir Evakuasi Korban Sukhoi Super Jet 100

12625

Dasar jurang
Sekitar pukul 08.00 WIB, Posko mendapatkan info dari tim VCP di kaki Gunung Salak bahwa cuaca sedikit membaik, namun tidak akan berlangsung lama. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Kabasarnas yang memerintahkan satu helikopter yang pada saat itu siap dan mampu melaksanakan terbang tinggi untuk terbang menuju Gunung Salak.

Dengan puncak tertinggi Gunung Salak sekitar 7.000 kaki, maka hanya pesawat H-3214 yang dinilai mampu mengatasi kendala ketinggian tersebut. Pesawat terbang menuju Gunung Salak melalui Depok dengan ketinggian terbang 1.500 kaki. Lepas dari Depok, saya memutuskan untuk naik ke 7.000 kaki untuk dapat melihat kondisi cuaca di puncak gunung.

Setelah terbang sekitar 20 menit, H-3214 mencapai Gunung Salak. Sebelumnya sudah disiapkan pola pencarian melalui udara oleh Komandan Skadron Udara 6 Letkol Pnb Hendro. Namun setelah tiba di medan yang sesungguhnya, pola pencarian tersebut ternyata meliputi area berpenduduk padat yang cukup luas, yang dalam logika saya tidak mungkin tidak ada laporan dari masyarakat apabila melihat pesawat jatuh di tempat itu. Analisis super cepat ini membawa saya untuk mengubah pencarian ke sekitar area puncak gunung.

Gunung Salak memiliki tiga puncak. Titik tertingginya yang dikenal dengan “Puncak Salak 1” memiliki ketinggian sekitar 7.000 kaki. Awan di sekitar puncak gunung masih menempel pada saat itu, sehingga saya perlu meyakinkan celah yang betul-betul aman untuk dilalui pesawat.

Saya memutuskan mengarahkan pesawat dari selatan ke utara, dan dalam perjalanan terlihat suatu kejanggalan di lereng Puncak Salak 1, yakni ada rerumputan yang seperti terbakar, tetapi tidak tampak sama sekali bangkai pesawat.

”Siapa yang bakar-bakar di ketinggian segini?” itu yang ada di pikiran saya. Namun karena cuaca yang kurang baik konsentrasi saya tetap pada kontrol pesawat. Ketika melintas di lokasi ketiga kalinya, barulah saya menunjuk dan mengatakan melalui mikrofon, ”Mungkin itu ya?”.

Sontak seluruh awak memusatkan perhatian untuk melihat, dan setelah tiga kali berputar untuk meyakinkan, kopilot Lettu Pnb Budiono berseru, “Bang, saya lihat lambang Sukhoi di dasar jurang…!”

Kami kembali ke Halim, sambil melaporkan tempat perkiraan jatuhnya SSJ-100 pada koordinat 06º 41’61.3” S, 106º44’41.2” E, di lereng barat Puncak Salak 1 pada ketinggian kurang lebih 5.800 kaki.

Operasi pencarian udara terhadap pesawat yang mengalami kecelakaan kali ini tergolong yang tercepat, hanya dalam 12 jam lokasi kejadian sudah ditemukan sehingga memudahkan jalannya evakuasi. Sayang, cuaca saat itu sudah kembali memburuk sehingga diputuskan untuk memulai evakuasi keesokan harinya…

Author: Mayor Pnb. M.R.Y. Fahlefie/Remigius Septian