Kisah Getir Evakuasi Korban Sukhoi Super Jet 100

10517
Sumber gambar: indocropcircles.wordpress.com

Hari ini, lima tahun yang lalu adalah hari yang paling kelam bagi keluarga dan kerabat penumpang Sukhoi Superjet 100 yang menabrak salah satu puncak Gunung Salak. Angkasa pun berduka lantaran dua orang ‘prajurit’ terbaiknya, Dodi Aviantara dan Didik Nur Yusuf, masuk ke dalam daftar penumpang yang hilang bersama pesawat itu.

Tulisan ini bukan bermaksud untuk membuka kembali luka lama keluarga dan sahabat para korban kecelakaan Sukhoi Super Jet 100 lima tahun silam. Tapi kisah ini menjadi catatan sejarah yang sangat penting dalam dunia penerbangan kita. Orang bijak berkata, guru terbaik adalah pengalaman.

“Manusia luar biasa adalah mereka yang dapat mengubah ketidakmampuan menjadi kemampuan, kelemahan menjadi kekuatan, dan membawa keterbatasan melampaui berbagai batasan…”

Kata-kata ini disampaikan Mayor Pnb. M.R.Y. Fahlefie yang saat itu merupakan salah satu anggota Skadron Udara 6 Atang Senjaya tatkala mengevakuasi korban Sukhoi Super Jet 100 yang menabrak Gunung Salak di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Meski terlihat mudah, evakuasi diakui cukup sulit dan sempat membuat resah Mayor Fahlefie, captain pilot heli NAS-332 Super Puma. Berikut ini petikan kisahnya:

Pencarian langsung dimulai sejak sore hari setelah pesawat dinyatakan jauh. Namun dinamika cuaca yang cepat berubah di area Gunung Salak Bogor (lokasi perkiraan hilangnya SSJ-100) membuat pencarian mengalami hambatan serius dan belum membuahkan hasil.

Esok harinya, 10 Mei 2012, Komandan Lanud Atang Sendjaja (ATS) yang saat itu dijabat oleh Marsma TNI Tabri Santoso, S.IP memerintahkan satu pesawat NAS-332 Super Puma (H-3214) dari Skadron Udara 6 berangkat untuk melanjutkan pencarian. Saya yang saat itu bertindak sebagai captain pilot berangkat bersama co-pilot Lettu Pnb Budiono, dan dua awak lain serta enam personel dari Kompi Senapan 1 Batalyon 467 Korpaskhasau menuju Halim yang dijadikan posko pencarian.

Rencananya, pencarian akan dilaksanakan bersama unsur udara lainnya melalui komunikasi intensif dengan tim evakuasi darat gabungan serta tim Vehicle Control Post (VCP) TNI AU dari Lanud ATS yang telah diberangkatkan sore sebelumnya.

Saat lepas landas pukul 06.00 WIB, cuaca di sekitar Lanud Atang Sendjaja masih berkabut (ground fog), namun pesawat tetap berangkat dan 10 menit kemudian mendarat di Bandara Halim. Tampak beberapa helikopter dari berbagai instansi lain seperti Basarnas, PMI, Derazona, dan lainnya.

Author: Mayor Pnb. M.R.Y. Fahlefie/Remigius Septian