Helikopter SM-1, Terwelu Terbang dari Polandia

19244
Sumber gambar: Rangga Baswara

Perjanjian kerjasama antara Uni Soviet dengan Polandia ditandatangani tahun 1954 untuk memroduksi helikopter Mi-1 di bawah lisensi. Helikopter itu akan dibangun oleh pabrik pesawat WSK-PZL Swidnik dekat Lublin.

Menjelang akhir tahun 1955 produksi pertama dengan menyandang nama SM-1 keluar pabrik meskipun hampir semua komponen termasuk mesin buatan Ivchenko dikirim dari Uni Soviet.

Tahun 1957 WSK-PZL mengeluarkan varian SM-1/300 yang telah mengadopsi mesin baru Lit-3 buatan dalam negeri. Dua tahun berikutnya lahir SM-1/600 yang menggunakan mesin AI-26V yang lebih bertenaga. Teknologi bilah rotor juga baru, membuat usia pakainya naik dua kali lipat dari versi sebelumnya hingga 600 jam.

Jalur produksi untuk seluruh varian SM-1 mulai dihentikan pada bulan Desember 1965. Hanya dalam kurun waktu satu dasawarsa pabrik WSK-PZL Swidnik telah merilis 1.597 SM-1 (seluruh varian).

Sebagian besar di ekspor kembali ke Uni Soviet, sisanya dikirim ke negara lain termasuk Indonesia. AU Polandia sendiri hanya membeli 85 unit. SM-1 termasuk helikopter terbesar dalam sejarah dalam jumlah produksinya di luar Mi-1 yang diproduksi Uni Soviet.

Heli mungil ini memang terbukti bandel dengan usia pakai yang lama, bahkan beberapa unit SM-1 masih terlihat terbang hingga tahun 1983.

SM-1 termasuk salah satu alutsista yang dibeli pada era Presiden Sukarno untuk digunakan dalam kampanye pembebasan Irian Barat (Opersai Trikora). Indonesia membeli delapan unit SM-1 dari Polandia yang datang mulai tahun 1958–1959.

Bersamaan dengan SM-1, dibeli pula 40 pesawat tempur LIM-5 (MiG-17) dan sejumlah kecil pesawat serang ringan Avia B-33 (Ilyushin Il-10).

Kedatangan helikopter SM-1 itu juga membawa serta seorang instruktur terbang bernama Richard Widskorsky. Ia turut membantu mendidik dan melatih dua orang pilot dalam negeri yakni Soewoto Soekendar dan Ashadi Tjahjadi untuk mengawaki SM-1 tersebut.

SM-1 (4)

SM-1 dimasukkan ke dalam ‘Skadron Helikopter’ berkedudukan di Lanud Andir (Husein Sastranegara) yang baru diresmikan tanggal 20 Juni 1957. Heli ini digabung dengan heli lainnya yang lebih dahulu dimiliki AU yakni Hiller 360.

Tahun 1965 Skadron 7 dibentuk sebagai wadah untuk menampung delapan unit SM-1 dan dua Bell-47J serta sebuah Mi-4. Helikopter di Skadron 7 bertugas sebagai heli angkut  khusus mendukung kegiatan kepresidenan dan heli latih yang bermarkas di Lanud Semplak (Atang Sendjaja).

Tahun 1961 lantaran semakin banyaknya heli yang memperkuat TNI AU, maka Skadron Helikopter ditingkatkan menjadi Skadron 6 yang diperkuat oleh 22 buah Mi-4.

Dengan perannya sebagai helikopter ringan angkut khusus dan latih, maka dapat dimaklumi bila SM-1 tidak dilibatkan dalam operasi-operasi militer yang terjadi pada masa tahun 1960-an.

Namun setidaknya sebuah peran SM-1 tercatat dalam operasi kemanusian. Pada bulan November 1965 SM-1 ikut serta dalam evakuasi kapal Corval berbendera Norwegia yang kandas di pantai selatan Ujung Kulon.

Skadron 7 diminta memberikan pertolongan penyelamatan bagi para penumpang kapal dengan segera mengirimkan helikopter SM-1 yang bergabung bersama helikopter Mi-4 dari Skadron 6.

Masa bakti SM-1 di Tanah Air tak berlangsung lama seperti halnya pesawat terbang dan helikopter yang didatangkan dari Blok Timur yang mengalami kesulitan dalam pengadaan suku cadang. Pasca pecahnya pemperontakan G30S, seluruh SM-1 dinyatakan non operasional pada tahun 1970.

Beruntung, dari delapan unit yang ada masih tersisa sebuah SM-1 yang dijadikan monumen tepat di gerbang masuk Lanud Atang Sendjaja, Bogor. Walaupun kini Skadron Udara 7 telah bergeser ke Lanud Suryadarma, Kalijati, SM-1 tetap bertengger di tempatnya dengan tenang.

Author: Rangga Baswara/Remigius S.