Anak Bos Perkebunan Kopi yang Sukses Kuasai Bisnis Kedirgantaraan

4903
perkebunan kopi
Anthony Herman Gerard Fokker. Sumber gambar: geheugenvannederland.nl

Pada tanggal 6 April 1890 telah lahir di kota Blitar, Jawa Timur (dahulu Karesidenan Kediri, Hindia Belanda) seorang bayi laki-laki bernama Anthony Herman Gerald Fokker, yang kemudian hari dikenal sebagai salah satu pelopor di dunia penerbangan. Ayahnya yang bernama Herman Fokker Sr merupakan seorang pemilik perkebunan kopi.

Pada saat usianya empat tahun, Fokker dibawa pulang ke Amsterdam, Belanda untuk mengenyam pendidikan yang lebih baik. Namun ternyata ia tidak terlalu berminat dengan sekolah dan bersama temannya, Frits Cremer meninggalkan sekolah lalu membuat ban anti bocor yang ternyata telah dipatenkan lebih dulu oleh seorang berkebangsaan Perancis.

Pada masa remajanya yang dihabiskan di Belanda, Fokker mulai tertarik dengan dunia penerbangan. Awal ketertarikannya itu ketika menyaksikan pesawat hasil ciptaan Wilbur Wright yang dipamerkan di Perancis pada tahun 1908.

Saat usianya yang ke-20 tahun, Fokker dikirim oleh orang tuanya ke Jerman untuk menempuh sekolah teknik di Bingen. Namun karena ketertarikannya dengan dunia penerbangan, ia pun pindah ke sekolah lain yakni Erste Deutsche Automobil-Fachshul di kota Mainz.

Walaupun di sekolah itu mengajarkan konstruksi pesawat terbang dan menerbangkan pesawat, namun lagi-lagi, Fokker tidak betah dengan sekolahnya itu lantaran ia menilai pengetahuan staf pengajar di sana tidak jauh berbeda dengan muridnya.

Bersama temannya, Franz von Daum yang kemudian menjadi perwira Angkatan Darat, mereka meninggalkan sekolah itu dan bekerjasama untuk membuat pesawat terbang. Pesawat pertama yang buat itu diberi nama ‘de Spin’ (laba-laba) dengan menggunakan biaya dari orang tuanya dan von Daum.

Pesawat pertamanya tidak berumur panjang, karena saat diterbangkan oleh von Daum menabrak pohon dan pesawat itu pun hancur berantakan. Namun mesinnya masih selamat dan Fokker pun merancang pesawat de Spin versi II lalu menyematkan mesin itu di sana. Lagi-lagi, pesawat de Spin II kembali hancur karena menabrak hingga luluh lantah saat diterbangkan von Daum.

Kenyang makan dua pengalaman pahit dengan von Daum, Fokker memutuskan untuk menyudahi kerja sama di antara mereka. Kemudian Fokker membangun de Spin versi III dan dengan pesawat inilah Fokker belajar menerbangkan pesawat.

Setelah mahir terbang, Fokker mendesak ayahnya untuk mengusahakan izin untuk mengadakan demonstrasi terbang di Haarlem, Belanda yang bertepatan dengan ulang tahun Ratu Belanda. Akhirnya keinginannya itu terlaksana pada tahun 1911. Fokker mengadakan Joy Flight dengan meminta bayaran seikhlasnya sekaligus untuk menumbuhkan minat kedirgantaraan. Dari sini ia melihat peluang bisnis yang menjanjikan di dunia penerbangan.

Usai sukses melakukan demonstrasi udara, Fokker kembali ke Jerman. Pada tahun 1912 ia mendirikan perusahaan bernama Fokker Aeroplanbau dengan fokus bisnis menjual pesawat terbang dan pendidikan terbang.

Ternyata usahanya yang ia bangun itu mendapat perhatian dari militer Kekaisaran Jerman. Ketika pecahnya perang dunia I, tercatat perusahaan Fokker berhasil menjual hampir 4.000 unit pesawat kepada pihak militer. Yang paling mencolok dari pesawat produksinya adalah mekanisme terminasi yang memungkinkan pilot militer menembakkan senapan saat baling-baling enjin berputar.

Usai perang, Fokker membawa pulang pesawat-pesawat sekaligus peralatannya ke tanah airnya, Belanda dan kemudian mendirikan N.V. Koninklijke Nederlandse Vlietuigenfabriek Fokker di Amsterdam.

Fokker kemudian merancang pesawat penumpang F2 dan kemudian F.VII yang menjadi pesawat penumpang yang cukup laris. Dengan pesawat itu maskapai penerbangan BElanda, KLM berhasil menguasai seluruh penerbangan di Eropa. Tak ketinggalan, pesawat ini menjadi armada KNILM, maskapai penerbangan Hindia Belanda (Indonesia).

Tak puas sampai di situ, Fokker kembali membangun pesawat penumpang Foker F18 yang kemudian memecahkan rekor penerbangan ke Batavia (Jakarta sekarang). Kemudian lahir Fokker F20 yang dapat dilipat rodanya.

Secara keseluruhan, terdapat 28 jenis pesawat pada periode 1927-1933. Fokker sungguh-sungguh menguasai pasar untuk tipe pesawat angkut penumpang dan bahkan perusahaan-perusahaan penerbangan di Amerika Serikat pada periode tersebut banyak menggunakan pesawat Fokker.

Sebagai penerbang, Fokker terkenal andal dengan panggilan ‘The Flying Dutcman’. Ia pernah melintasi Amerika Serikat nonstop pada 1928 dengan pesawat ciptaannya yang ia namai Fokker T-2 dan melintasi KUtub Utara dengan pesawat bermesin tiga.

Salah satu pesawat hasil ciptaannya yaitu Eindecker diterbangkan oleh Max Immelman yang membawanya menjadi seorang aces dan orang yang menciptakan taktik bertempur yang dikenal dengan nama Immelman Loop.

Sedangkan pesawat jenis Dr1 menjadi andalan dari penerbang legendaris Manfred Von Richthofen atau yang lebih dikenal dengan Red Baron.

Anthony Fokker meninggal pada usianya yang ke-49 tahun (23 Desember 1939) di New York, AS kerena menderita Meningitis. Ia tidak sempat melihat bagaimana pabrik pesawatnya dihancurkan ketika pecahnya perang dunia II. Abu jenazahnya dibawa ke Belanda dan dikuburkan di pemakaman keluarga.

Author: Fery Setiawan & Harzan Djajasasmita