Naila Novaranti, Pelatih Terjun di 46 Negara Asal Indonesia

11244
Gara-gara hobi ekstrimnya ini Naila punya kesempatan untuk berkeliling dunia. Sumber gambar: facebook.com/naila.novaranti.9

Mendengar kata olahraga terjun payung mungkin sudah tak asing lagi di telinga. Terjun payung telah menjadi hal yang populer di Indonesia. Namun pernahkah Anda mendengar wingsuit dan belly flying?

Wingsuit dan belly flying merupakan sebuah varian olahraga dari terjun payung. Olahraga ini sudah tak asing bagi negara-negara seperti Amerika, Inggris, Rusia, dan Italia.

Di Indonesia, masih sangat sedikit penggiat belly flying, apalagi wingsuit. Salah satu yang menekuni adalah Naila Novaranti. Wanita berdarah Minang dan Sunda ini merupakan orang pertama di regional Asia Tenggara yang menekuni olahraga wingsuit. Ia bukan anggota kesatuan militer. Novaranti hanya seorang sipil, tapi ia melatih Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) dan Mabes TNI untuk belly flying.

“Melatih Kowad untuk belly flying awalnya ada kerjasama dengan Aerodyne (produsen parasut), terus juga kerjasama dari Mabes TNI,” ucap Naila, Sabtu (16/4/2016), di Lanud Halim Perdanakusuma pada pagelaran Bulan Dirgantara Indonesia 2016.

Naila memuji prestasi Kowad dalam hal akurasi. Namun untuk belly flying ia menyebut, masih terkendala dalam pengembangannya karena Kowad selalu terjun rendah dan olahraga ini pun belum populer di Tanah Air.

“Kalo untuk akurasi, Kowad memang jagonya, sudah canggih lah. Tapi kalo untuk belly, karena selalu terjun rendah jadi ada kendala disitu,” ujarnya.

Selain melatih Korps Wanita Angkatan Darat, Naila Novaranti juga melatih terjun payung Kopassus. Tak hanya itu, ibu tiga anak ini juga melatih berbagai kesatuan militer di seluruh dunia yang menggunakan produk Aerodyne.

“Kira-kira ada 47 negara. Inggris, Australia, AS, dan lainnya. Kesatuannya apa saya tidak bisa sebut,” katanya.

Naila sendiri tidak memungkiri kebesaran namanya ia dapat dari tempatnya bekerja. Sekitar 10 tahun lalu ia bergabung dengan produsen parasut kelas dunia Aerodyne sebagai Marketing. Dari sinilah ia mulai mengenal dunia terjun payung. Keinginan yang kuat bertemu dengan kesempatan yang diberikan perusahaan untuk berlatih terjun payung. Jadilah Naila memakai kesempatan ini untuk menjadi yang terbaik.

Dari bakat terpendamnya inilah, sekarang Naila dipercaya untuk mencari penerjun-penerjun potensial dari kalangan militer, melatih orang-orang terpilih itu untuk mengikuti berbagai kejuaraan, dan menjadi semacam manajer bagi tim binaannya.

“Bisa dibilang saya ini sebagai talent scout di kalangan militer. Tapi di Indonesia saya juga berperan untuk menjadi jembatan antara pengguna Aerodyne dari militer dengan rekanan-rekanan di sini,” ungkapnya.

Dari profesi yang ia geluti saat ini ia memiliki kesempatan luas untuk berkeliling dunia. Dalam beberapa bulan sekali Naila biasa pergi ke AS untuk datang ke kantor tempatnya bekerja. Sedangkan kalau hanya Singapura Naila mengaku ia biasa pergi sebulan sekali.

 

Author: Fery Setiawan & Remigius Septian