Lis Andriana: Atlet Paralayang yang Mendunia

1380

 

Sebagai atlet paralayang wanita Indonesia yang berprestasi juara dunia, Lis Andriana ternyata memiliki rasa takut pada ketinggian dan harus berjuang keras untuk menjadi atlet paralayang internasional. Keterlibatannya pada olah raga dirgantara yang membutuhkan nyali dan keterampilan ini, juga bukan keinginan pribadi, melainkan atas bujukan sang ayah yang cenderung memaksa.

 

Namun jiwa nasionalis Lis terhadap daerahnya muncul ketika Pemerintah Kutai Barat mengalami kesulitan memperoleh atlet paralayang puteri yang dikirim ke Pekan Olah Raga Provinsi Kalimantan Timur tahun 2006. Atas bujukan sang ayah yang secara gigih memintanya menjadi atlet paralayang, Lis akhirnya mengiyakan dan kemudian ia dikirim ke Malang, Jawa Timur untuk berlatih. Tidak mudah bagi Lis menjalani latihan terbang paralayang pertama kalinya. Demikian takutnya pada ketinggian saat didorong pelatih untuk terbang, Lis hanya bisa memejamkan mata dan kemudian lari melompat. Meskipun terbang paralayang sambil memajamkan mata,  Lis ternyata bisa mendarat mulus dan tanpa cedera. Perlu enam kali latihan terbang dan mendarat bagi Lis untuk mendapatkan kepercayaan diri dan pemahaman bahwa olah raga paralayang ternyata aman dan menyenangkan.

 

Rasa takut terhadap ketinggian pun perlahan sirna dan untuk latihan terbang berikutnya, Lis sudah berani membuka mata. Satu accident yang tak terlupakan oleh Lis pun terjadi. Dalam sebuah latihan terbang paralayang, parasutnya terbawa angin dan tersangkut di pohon selama dua jam. Para pelatih dan rekan-rekannya susah payah menurunkannya dari pohon. Namun, peristiwa tersangkut di pohon itu tak membuatnya patah semangat. Lis Andriana bahkan makin semangat berlatih dan akhirnya berhasil menjadi penerbang paralayang profesional.

 

Ketika turut bertanding dalam PON 2006 di Kalimantan Timur, diluar dugaan Lis berhasil meraih prestasi. Olah raga paralayang yang semula ditakutinya itu, kini justru menjadi bagian dari hidupnya sehingga Lis sampai memiliki motto, tiada hari tanpa terbang paralayang.

 

Lis Andriana kemudian menjadi salah satu srikandi paralayang di Tanah Air. Ia tidak hanya berlaga mewakili daerahnya, tapi mewakili Indonesia di berbagai kejuaraan dunia.  Kejuaraan paralayang tingkat Asia yang pertama kali diikuti Lis adalah Asian Beach Games di Bali pada 2008. Berkat latihan keras bersama timnya di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat selama kurang lebih setahun, Lis berhasil menyabet dua medali emas pada nomor ketepatan mendarat dan jarak untuk beregu puteri. Delapan emas yang disediakan untuk kejuaraan, tujuh di antaranya bahkan berhasil disabet tim Indonesia. Dua srikandi rekan Lis yang juga memiliki kualifikasi juara dunia adalah  Ifa Kurniawati dan Milawati Sirin.

 

Pretasi luar biasa itu pun makin meningkatkan rasa percaya diri Lis dan memutuskan paralayang menjadi salah satu pilihan hidupnya.

 

Anda merasa beruntung menggeluti olah raga yang semula Anda takuti. Anda masih memiliki persaan itu saat terbang?

Sudah tidak lagi karena saya justru menikmatinya. Untuk merebut atau mempertahankan juara dunia, saya bahkan bisa berlatih dari pagi sampai magrib. Banyak hal yang saya peroleh saat terbang, seperti menghilangkan rasa stres. Dari udara semuanya tampak indah dan saya biasa bernyanyi atau berteriak-teriak. Saya betul-betul menikmatinya.

 

Anda punya komentar tentang peran ayah yang cenderung memaksa?

Dalam hal ini saya sangat berterima kasih kepada ayah karena berkat dorongannya saya bisa menjadi atlet paralayang profesional. Kini saya sudah tidak takut ketinggian lagi bahkan merasa selalu ketagihan untuk melayang-layang di udara. Saya juga merasa sangat beruntung karena banyak keluarga melarang anak puterinya menekuni paralayang, sedangkan saya malah dianjurkan.

 

Ada pengalaman paling menarik waktu terbang khsususnya yang membahayakan nyawa Anda?

Selain pernah tersangkut pohon, saat bertanding di Turki paralayang saya pernah tersangkut di tiang listrik sehingga membuat seluruh kota padam. Untung mereka memiliki sistem pemadaman yang bagus karena begitu ada gangguan aliran listrik langsung mati. Mungkin kalau kejadiannya di Indonesia saya sudah mati, ha-ha-ha…’’

 

Sebagai  ibu tiga anak, Anda pasti sering meninggalkan mereka demi menggeluti olah raga paralayang ini. Apakah Anda tersiksa?

Itu merupakan konsekuensi yang harus saya tempuh karena bisa meninggalkan mereka cukup lama. Misalnya saat harus mengikuti Pelatnas di Jakarta saya bisa meninggalkan mereka dalam hitungan bulan. Itu cukup berat. Saya hanya bisa menangis ketika anak saya yang paling bungsu saya tinggalkan belum bisa jalan, tapi ketika saya pulang sudah bisa jalan dan memanggil bunda. Untuk mengatasi kerinduan, saya selalu menelepon dan itu bisa berlangsung berbulan-bulan. Setiap akan menghadapi pertandingan, mereka selalu berpesan bahwa saya harus menang. Dan itu merupakan motivator yang luar biasa untuk selalu memenangi pertandingan.

 

Dari berbagai kejuaraan yang Anda menangi termasuk Sea Games dengan empat medali emas, bonus yang Anda peroleh digunakan untuk apa?

Tentu saja yang pertama untuk keluarga, untuk pendidikan anak-anak, asuransi mereka, modal usaha persiapan pensiun, dan juga untuk pengadaan peralatan paralayang secara mandiri. Setiap saya menghadiri kejuaraan dunia, biaya transportasi dan akomodasi juga saya tanggung sendiri dan biaya itu bisa ditalangi dengan penghasilan yang saya peroleh dari paralayang. Kita masih kesulitan untuk mencari sponsor meskipun olah raga paralayang Indonesia telah berkali-kali terbukti membawa nama harum bangsa di luar negeri.

 

Apa kiat Anda agar selalu meraih prestasi tingkat dunia?

Menjadi juara dunai selalu menjadi cita-cita saya. Kiatnya latihan dan latihan secara keras, gunakan feeling seoptimal mungkin, tidak emosional saat bertanding. Karena sesungguhnya menjadi juara dunia tidak mudah perlu perjuangan dan kerja keras.

 

Apa yang akan Anda lakukan bila pensiun dari paralayang?

Saya akan mengembangkan olah raga paralayang di Kutai Barat, Kalimantan Timur.

 

Menurut Anda, apa yang harus dilakukan pemerintah agar olah raga paralayang Indonesia makin maju?

Mohon didukung dan lebih diperhatikan olah raga paralayang, karena olah raga ini sudah menjadi aset untuk Indonesia. Saya yakin semakin banyak atlet paralang Indonesia yang ikut di kejuaraan dunia maka tidak menutup kemungkinan prestasi paralayang indonesia akan semakin bersinar di dunia .

 

Biodata

Nama : Lis Andriana

Lahir : Kutai Barat, 1 April 1983

Ayah/ibu : Achdaniar/Rita Andriani

Status : Ibu dengan tiga anak

Nama anak :

1. Erika Yolanda Putri (12 thn)

2.Adinda Puspita Kusmadani (9 thn)

3.Nazwa Quinsa Syabila ( 3 thn)

Pendidikan terakhir : SMA

Prestasi : 2 medali emas Asian Beach Games 1 (2008), 2 emas Sea Games XXVI/2011, Juara 1 Seri PGAWC 2013 Painan, Sumatra Barat, Juara Dunia Ketepatan Mendarat Paralayang (Para Gliding Accuracy World Cup/PGAWC) Puteri 2012, Atlet Puteri Terbaik Anugerah Olah Raga Indonesia (AORI) 2012 oleh Tabloid Bola, dan lainnya.

 

Author: