National Air Space Museum, Museum Penerbangan yang Gratis dan Keren

960
Sumber gambar: Taufik Hidayat

 

 

Kalau di Jakarta banyak sekali pusat perbelanjaan sebagai tempat mejeng, santai, atau berbelanja, di Washington, Amerika Serikat (AS) justru cuma ada satu. Namanya, National Mall.

Di area mal yang membentang dari Capitol di bagian timur sampai Lincoln Memorial di bagian barat ini juga banyak museum yang sangat menarik, terutama Smithsonian National Air Space Museum.

National Air Space Museum menjadi ikon wisata kota Washington. Tampilannya memang mentereng, berlokasi persis di persimpangan Independence Avenue dan 6th Street.

Lokasi ini strategis karena tepat di jantung National Mall dan mudah diakses dengan transportasi umum, seperti Metrorail atau Metrobus.

Dari stasiun L’enfant Plaza, kita bisa berjalan menyusuri Maryland Avenue, belok kiri melewati 6th Street, dan setelah menyeberangi Independence Avenue, sampailah di Smithsonian National Air Space Museum.

National Air Space Museum buka setiap hari, kecuali tiap tanggal 25 Desember. Memasuki museum ini, sama seperti semua museum di kawasan National Mall, gratis alias tak harus bayar. Hanya ada pemeriksaan keamanan sebelum masuk.

Ruang pertama yang kita temui adalah Welcome Centre. Kita dapat meminta berbagai informasi di sini, seperti jadwal acara, juga ruang pamer dan fasilitas museum yang menjadi wahana pameran kedigdayaan dunia penerbangan dan ruang angkasa Amerika Serikat.

Suasana ruang angkasa terasa sangat kental dengan banyaknya benda-benda yang berhubungan dengan penerbangan dan antariksa. Pesawat asli, replika ataupun model, ada yang dipajang di ruangan, ada juga yang digantung di langit-langit.

Sekilas benda-benda yang dipamerkan terlihat tidak beraturan. Namun setelah dinikmati, ternyata tata pamer itu memiliki keindahan yang khas. Coba lihat pesawat yang menggantung di langit-langit Welcome Centre.

Pesawat dengan bentang sayap (wing span) sekitar 33,8 meter ini bernama Rutan Voyager. Pesawat ini pernah mengelilingi Bumi tanpa berhenti dan tanpa mengisi bahan bakar selama sembilan hari tiga menit  44 detik pada Desember 1986.

Di belakang Welcome Centre terdapat ruang pameran terbuka dengan tema Milestones of Flight. Kita dapat melihat kembali sejarah perkembangan penerbangan dan antariksa yang telah dicapai manusia dalam kurun waktu satu abad.

Ada Spirit of St Louis, yang pernah diterbangkan Charles Lindberg dalam penerbangan solo dari New York ke Paris pada Mei 1927. Ada juga Bell XP59 Airacomet, pesawat dengan mesin propulsi jet pertama yang dikembangkan di Amerika.

Pesawat Bell X1 yang menjadi pesawat pertama yang terbang dengan supersonik pada Oktober 1947 juga bisa dilihat secara langsung.

Serba-serbi petualangan ke ruang angkasa juga dipamerkan di tempat ini dengan kapsul Mercury Friendship 7, yang diterbangkan astronot John Glenn. Begitu juga dengan Modul Columbia yang ada dalam Apollo 11 pada misi pertama pendaratan di Bulan.

Baju yang digunakan oleh Yuri Gagarin dalam misinya. Sumber gambar: Taufik Hidayat
Baju yang digunakan oleh Yuri Gagarin dalam misinya. Sumber gambar: Taufik Hidayat

Kalau di Moskow ada monumen yang dibangun untuk memperingati kejayaan kosmonot Soviet sebagai manusia pertama yang mengeliling orbit, di Washington kita bisa melihat perlombaaan dua negara adi daya dalam menaklukkan ruang angkasa.

Benda-benda yang dipamerkan, antara lain, baju ruang angkasa warna jingga yang pernah dipakai Yuri Gagarin dan baju ruang angkasa warna putih keperakan yang pernah dipakai John Glenn.

Salah satu ruang pamer di National Air Space Museum didedikasikan untuk didedikasikan untuk Wright Bersaudara yang meletakkan dasar penerbangan di AS. Kita bisa mengenal sejarah nenek moyang mereka dimulai dari kedatangan Samuel Wright dari Inggris ke Amerika pada pertengahan pertama abad ke-17.

Digambarkan pula garis keturunan dua bersaudara Wright sampai orang tua mereka, Milton dan Susan Wright.

Tentu saja yang menjadi pusat perhatian adalah pesawat asli yang diterbangkan pada momen-momen bersejarah 1903 itu. Pesawat yang diberi nama Wright Flyer itu dipamerkan di ruang khusus ini.

Sumber gambar: Taufik Hidayat
Sumber gambar: Taufik Hidayat

Setelah lelah melihat-lihat raang demi ruang, kita bisa mampir Lockheed Martin Imax Theatre, yang memutar film D-Day. Kisah mengenai pendaratan tentara Sekutu di Normandia pada 1944 ini mengawali keruntuhan Jerman pada Perang Dunia II, yang kemudian mengubah sejarah dunia.

Menikmati National Air Space Museum dalam beberapa jam memuaskan rasa ingin tahu kita tentang dunia penerbangan dan antariksa yang penuh misteri. Benda-benda dan nama-nama yang selama ini hanya pernah dibaca dalam buku atau dilihat pada film, dapat disaksikan langsung di depan mata. Pengalaman ini sungguh menyenangkan!

 

Author: Taufik Hidayat/Remigius S.