Museum Sasmitaloka, Saksi Tragedi Subuh Berdarah

28532
Sumber gambar: Edi Dimyati

Seakan membuka kembali lembaran kisah pilu masa lalu. Pertama kali menginjakkan kaki di bekas kediaman Jenderal Ahmad Yani, aura perjuangan mulai muncul.

Dulu, di rumah kediaman pribadi almarhum Jenderal Ahmad Yani ini telah terjadi peristiwa berdarah yang menggemparkan dunia. Pemberontakan tengah terjadi.

Ya, peristiwa bersejarah Gerakan 30 September 1965 yang melibatkan Partai Komunis Indonesia (PKI) telah menjadi daftar kisah gelap bangsa ini. Usaha penculikan terhadap sang jenderal kala itu harus berakhir tragis. Yani ditembak, meninggal di tempat, 1 Oktober 1965.

Tepat satu tahun setelah peristiwa berdarah itu, tempat yang menjadi saksi pilu peristiwa kelam ini resmi dijadikan museum dengan nama Museum Sasmitaloka. Diserahkan langsung oleh sang istri kepada pemerintah sebagai bentuk dedikasinya yang menyimbolkan semangat nasionalisme.

Kini, museum Sasmitaloka dikelola oleh Dinas Sejarah TNI AD ini menjadi media informasi buat mereka yang ingin mencari informasi sejarah perjalanan bangsa ini.

Petugas dengan postur tegap siap menyambut siapapun yang datang berkunjung ke museum yang berdiri di atas lahan seluas 1.300 m2 ini.

Perjalanan sejarahpun dimulai dari pintu utama. Melangkah dari pintu ini, ruang pertama yang akan kita kunjungi adalah tempat memajang segala bentuk cenderamata dalam bentuk patung serta miniatur profil Yani.

Ke kiri, zona berikutnya terdapat sebuah ruangan yang dihiasi berbagai macam penghargaan yang diperoleh sang jenderal semasa hidupnya. Dari ruangan ini terlihat sebuah ruang kerja sekaligus perpustakaan kecil milik Yani.

Lukisan `Subuh yang Berdarah’ di ruang tamu. Dilukis oleh B.P. Omar tahun 1967 menggambarkan detik-detik saat Pak Yani berkelahi dengan pasukan Tjakrabirawa. Sumber gambar: Edi Dimyati
Lukisan `Subuh yang Berdarah’ di ruang tamu. Dilukis oleh B.P. Omar tahun 1967 menggambarkan detik-detik saat Pak Yani berkelahi dengan pasukan Tjakrabirawa. Sumber gambar: Edi Dimyati

Interior masih lengkap dan utuh, di antaranya meja kecil yang pernah digunakan ajudan. Sebuah bendera merah putih pun dibiarkan menjadi properti yang menghidupkan semangat kebangsaan. Sebagian koleksi lain yang terpajang adalah barang kenangan dari sahabat dan kerabat.

Memasuki ruangan berikutnya adalah ruang tamu kehormatan. Khusus di ruangan ini pengunjung tidak diperkenankan menyentuh setiap properti yang ada. Yang menarik, pada dinding ruang tamu ini terdapat lukisan dengan ukuran besar. Dibuat oleh Omar pada tahun 1967 yang melukiskan proses penculikan terhadap Jenderal Yani.

Mini bar di ruang makan tempat keluarga Ahmad Yani berkumpul. Sumber gambar: Edi Dimyati
Mini bar di ruang makan tempat keluarga Ahmad Yani berkumpul. Sumber gambar: Edi Dimyati

Lebih dalam lagi, terdapat ruang makan keluarga lengkap dengan foto-foto keluarga Ahmad Yani. Suasana kekeluargaan dan kebersamaan sangat kental di sini.

Tepat di sebelah ruang inilah Ahmad Yani menghembuskan nafas terakhirnya. Bagian dapur adalah lokasi dimana Ahmad Yani diseret anggota PKI dengan darah mengucur dari tubuhnya.

Masa revolusi

Museum ini tak lain sebuah bentuk penghargaan terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia. Bangunan Museum Sasmitaloka A. Yani bergaya arsitektur Indische, dibangun sekitar tahun 1930 pada saat pengembangan wilayah Menteng, Jakarta Pusat.

Museum ini semula adalah rumah tinggal pejabat maskapai swasta Belanda/Eropa. Pada tahun 1950-an dikelola oleh Dinas Perumahan Tentara dan kemudian dihuni oleh Letjen Yani.

Bangunan tua bersejarah ini menyimpan perjalanan bernilai dan membangkitkan pengalaman menarik. Menjadi lebih menarik lantaran bangunan asli peninggalan Belanda ini berdiri kokoh di antara bangunan modern lain di sekililingnya milik para pejabat.

Author: Edi Dimyati