Ketika Dirjen Perhubungan Udara Bercerita Tentang Pesawat Pada Anak SD

877
anak-anak
Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso saat bercerita.

Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Agus Santoso ternyata juga pintar bercerita. Bahkan jalan cerita yang dipaparkan terlihat mengalir dan gampang dicerna oleh anak-anak. Hal tersebut terlihat dilakukannya saat pembukaan acara “Duta Aviasi Anak Indonesia” di auditorium kantor pusat PT. Angkasa Pura II pagi ini, Selasa (9/5/2017).

Sambil memegang miniatur pesawat, Agus mulai bercerita pada 50 anak-anak SD yang menjadi Duta Aviasi Indonesia tersebut. “Anak-anakku, siapa yang tahu, apa yang menyebabkan pesawat bisa terbang?” tanyanya. Ada yang bisik-bisik, ”Tentu saja karena ada mesinnya!”

Agus yang tersenyum kemudian melanjutkannya ceritanya. Ternyata bukan mesin yang membuat pesawat terbang. “Mesin itu hanya membuat pesawat bergerak maju, bukan terbang. Untuk bisa terbang, ada yang namanya flap di belakang sayap. Kalau pesawat mau terbang, flap-nya turun ke bawah sehingga sayapnya jadi lebih lebar. Sayap yang lebar ini kalau terkena angin dari belakang (karena mesinnya dinyalakan) akan terdorong terbang,” ujarnya sambil tersenyum lebar.

Agus juga bercerita bagaimana pesawat bisa belok. “Pesawat yang besar itu, kalau belok hanya bergantung pada benda kecil di ujung ekornya yang namanya rudder. Kalau rudder-nya berdefleksi (bergerak) ke kanan, pesawatnya akan belok ke kanan. Kalau rudder-nya berdefleksi ke kiri, pesawatnya belok ke kiri,” ujar Agus lagi sambil memainkan minitur pesawat di tangannya.

Terlihat beberapa anak manggut-manggut. Mungkin mereka kagum dan takjub, ternyata pesawat yang besar badannya tersebut, masih bergantung pada benda-benda kecil yang sangat penting.

Agus Santoso saat mengajari anak-anak Duta Aviasi Indonesia untuk check-in di bandara. Foto-foto: Dok. Hubud Dephub
Agus Santoso saat mengajari anak-anak Duta Aviasi Indonesia untuk check-in di bandara. Foto-foto: Dok. Hubud Dephub

Memang agak mengejutkan seorang Dirjen Perhubungan Udara yang terbiasa menangani masalah-masalah berat soal penerbangan nasional, masih bisa bercerita dengan baik tentang pesawat di depan anak-anak.

Namun Agus memang bukan orang sembarangan di dunia penerbangan nasional. Sebelum berkarir di Kementerian Perhubungan, Agus yang alumni Teknik Sipil (S1) dan Traffic Engineering (S2) ITB ini lebih dulu berkarir selama 15 tahun di PT. Dirgantara Indonesia. Agus bahkan turut serta dalam memproduksi pesawat jenis CN235 dari PTDI.

Di Kementerian Perhubungan, Agus mula-mula menjadi inspektur untuk teknik pesawat terbang. Dan selanjutnya, berbagai jabatan diembannya hingga terakhir ini menjadi Dirjen Perhubungan Udara. Dengan pengalaman panjang seperti itu di dunia penerbangan, agaknya membuat Agus lancar bercerita tentang pesawat terbang kepada anak-anak.

Tak terasa hampir 30 menit Agus bercerita. Tidak hanya anak-anak, orang dewasa yang memenuhi auditorium itu pun juga dibuatnya terkesima dengan ceritanya.

Di akhir cerita, Agus berpesan pada anak-anak Duta Aviasi Indonesia tersebut agar lebih rajin belajar dan mematuhi nasehat ayah/ ibu juga bapak/ibu guru. Agus menginginkan anak-anak tersebut tidak hanya bisa menjadi personil penerbangan seperti pilot dan pramugari, tapi juga bisa menciptakan sebuah pesawat terbang untuk kejayaan penerbangan Indonesia.

Author: Gara