Budaya Keselamatan Penerbangan di Indonesia Belum Terwujud

1733
Safety first.

Budaya keselamatan (safety culture) dunia penerbangan di Indonesia masih belum terwujud. Safety masih sebatas tahap awareness (kesadaran) yang sayangnya dalam pelaksanaannya seringkali diabaikan. Data sejumlah kecelakaan pesawat yang terjadi di Indonesia menunjukkan, sebagian besar disebabkan karena faktor manusia (human factor). Mengapa faktor manusia begitu dominan? Karena rendahnya tingkat disiplin personel penerbangan dalam hal airmanship dan safety.

Airmanship tidak bisa tercipta dalam waktu sekejap, melainkan harus ditanamkan sejak dini dan dilatih secara terus-menerus. Orang harus selalu disadarkan untuk eling, ingat, bahwa keselamatan adalah prioritas utama dalam penerbangan.

Demikian beberapa pokok pikiran yang dilontarkan sejumlah praktisi penerbangan dalam Focus Group Discussion (FGD) mengenai airmanship dan safety awareness yang diselenggarakan oleh Bandara Halim Perdanakusuma di Hotel Ibis, Jakarta Timur, Rabu (1/2/2017).

GM Bandara Halim A. Rasyid Jauhari. Sumber gambar: Suharso Rahman
GM Bandara Halim A. Rasyid Jauhari. Sumber gambar: Suharso Rahman

GM Bandara Halim A. Rasyid Jauhari sebagai host kegiatan menyatakan, Bandara Halim Perdanakusuma berkepentingan dan peduli terhadap tercapainya keselamatan penerbangan. “Kami rutin menyelenggarakan safety meeting. Kali ini dilaksanakan agak berbeda, kebetulan juga Marsma TNI Asep Adang yang akan melaksanakan sidang doktoral mengenai kebijakan publik, airmanship, dan keselamatan penerbangan di Universitas Brawijaya ini mengajak kami untuk menyosialisasikan masalah keselamatan penerbangan,” ujar Rasyid menjelaskan latar belakang dilaksanakannya FGD tersebut.

FGD dengan tema “Airmanship dan Safety Awareness dalam Perspektif Keselamatan Penerbangan untuk Mendukung Kebijakan Tol Udara” menghadirkan sejumlah nara sumber dan peserta dari beragam kalangan penerbangan. Mulai dari akademisi, pilot, operator penerbangan, regulator, hingga konsultan keselamatan penerbangan. Hadir pula perwakilan dari TNI AU yakni Sesdislambangja dan Danwing I Lanud Halim Perdanakusuma.

Sebelum diskusi dilaksanakan, Marsma Asep Adang terlebih dahulu menyampaikan pemaparan singkat hasil penelitian disertasinya yang kemudian menjadi tema dasar FGD. Peserta FGD berjumlah kurang lebih 100 orang selanjutnya menyampaikan pendapat, testimoni, maupun masukan terkait masalah airmanship dan safety awareness kepada forum. Dari situ kemudian coba dicari solusinya.

Kandidat doktor kebijakan publik Marsma TNI A. Adang Supriyadi memaparkan ringkasan hasil penelitiannya. Sumber gambar: Suharso Rahman
Kandidat doktor kebijakan publik Marsma TNI A. Adang Supriyadi memaparkan ringkasan hasil penelitiannya. Sumber gambar: Suharso Rahman

Pembahasan, masukan, dan saran dari FGD tersebut selanjutnya diharapkan menjadi rekomendasi atau masukan bagi pemerintah.

Wajib punya kompetensi

Salah satu perwakilan dari Otoritas Bandara menekankan pentingnya sosialisasi dari aturan-aturan atau SOP penerbangan di samping ketentuan yang mewajibkan personel yang bekerja di bandara atau air site adalah mereka yang berkompeten di bidangnya dan dibekali pengetahuan mengenai airmanshipr dan safety awareness.

Ia misalnya menyebut Keputusan Pemerintah (KP) nomor 21 yang menerangkan bahwa personel yang bekerja di bandar udara wajib memiliki kompetensi di bidangnya dan mengikuti pembekalan pengetahuan mengenai human factor atau safety awareness yang dilakukan oleh otoritas maupun lembaga pendidikan yang di-approved. “Ini kalau kita bicara bandara, di Indonesia ada 300-400 bandara besar dan kecil. Itu yang akan kita kejar soal penerapan aturannya,” ujarnya.

GM Bandara Halim A. Rasyid Jauhari saat membuka FGD. Sumber gambar: Suharso Rahman
GM Bandara Halim A. Rasyid Jauhari saat membuka FGD. Sumber gambar: Suharso Rahman

Selain kompetensi, pembicara lain menyoroti masalah disiplin. Direktur Keselamatan, Keamanan, dan Standardisasi AirNav, Yurlis Hasibuan, menyatakan disiplin menjadi fondasi penting dalam pelaksanaan keselamatan penerbangan. “Di luar negeri masalah disiplin sudah dilaksanakan dengan ketat, di kita belum,” ujar Yurlis.

Diakui, membangun disiplin butuh waktu dan proses, bahkan harus mulai dilakukan sejak perekrutan awal personel penerbangan.

Beragam kecelakaan pesawat di Indonesia, terjadi karena rendahnya masalah disiplin. Di Bandara Soekarno-Hatta misalnya, Yurlis menyebut dalam dua tahun terkahir terjadi rata-rata 80 kali kejadian atau 6-7 kejadian per bulan. “Kalau go around, yang paling banyak itu di Bandung. Kalau holding paling banyak adalah di Denpasar, mencapai 200 kali holding per bulan,” terangnya.

Suasana FGD masalah safety awareness dan airmanship. Sumber gambar: Suharso Rahman
Suasana FGD masalah safety awareness dan airmanship. Sumber gambar: Suharso Rahman

Bicara masalah disiplin, ke depannya bisa jadi Bandara Soekarno-Hatta akan menerapkan aturan bahwa hanya pilot-pilot yang memiliki reaction time yang tinggi yang boleh masuk. “Misal untuk line up mau take off itu maksimal tujuh menit. Kami punya alat untuk memantaunya. Soekarno-Hatta adalah bandara yang padat, sehingga tidak bisa kalau pilot yang tidak disiplin soal waktu terbang di sana,” kata Yurlis.

Soal yang ini, pilot perwakilan dari Citilink menyatakan agak keberatan dan perlu adanya peninjauan ulang. “Tidak mungkin waktu line up tujuh menit tercapai kalau tiba-tiba ada kerusakan di pesawat. Sedangkan pilot harus memastikan dulu kerusakan tersebut untuk jadi terbang atau tidak, ” ujarnya.

Ditambahkan, pilot adalah insan penerbangan berkualifikasi yang telah mendapatkan lisensi dari pihak otoritas untuk terbang. “Kalau tujuh menit tidak tercapai, apakah kami kemudian tidak bisa terbang dari Soekarno-Hatta?”

Soal disiplin, lanjutnya, masih ada faktor kontribusi dari organisasi. “Perusahaan, operator, regulator, negara, itu semua adalah organisasi. Walau kami para pilot sudah disiplin, kalau organization factor tidak mendukung, maka sama saja safety tidak akan tercapai. Lingkungan sangat memengaruhi,” ujarnya.

Pembicara lain menyatajan, guna mencapai airmanship dibutuhkan lembaga pendidikan yang mendukung terciptanya hal tersebut. “Lembaga pendidikan harus bisa membangun kultur keselamatan, maka dengan begitu nilai-nilai airmanship akan tertanam,” kata dia.

Nara sumber menyampaikan pendaat dan testimoninya. Sumber gambar: Suharso Rahman
Nara sumber menyampaikan pendaat dan testimoninya. Sumber gambar: Suharso Rahman

Rafael Antonius, konsultan safety, komunikasi, dan leadership berpendapat, tidak tercapainya safety awareness dalam dunia penerbangan dipengaruhi lima faktor. Yaitu kebosanan, tidak peduli, tidak tahu, kurang pelatihan, dan over confidence. Lima faktor itu akarnya adalah disiplin. “Tanpa disiplin, mustahil safety awareness dan airmanship dapat tercapai,” ujarnya.

Kecelakaan terjadi karena orang berpikir pragmatis, berpikir urgent bukan important. Sehingga orang memilih pergi terburu-buru karena takut terlambat. Terjadilah kecelakaan.

Rafael menandaskan, masalah safety di Indonesia baru mencapai tahapan awareness, belum menjadi culture. “Belum jadi way of life. Nah, bagaimana caranya agar menjadi way of life? Ya harus disiplin. Orang harus terus disadarkan agar eling, bahwa keselamatan penerbangan itu adalah prioritas.

“Terbang bawa fuel sekian, terus dikurangi dan diganti dengan kargo. Pada saat AirNav bilang pesawat harus muter, dia kehabisan bahan bakar. Ya pesawat jatuh. Ini contoh,” ujar Rafael.

Sesdislambangja Kolonel Pnb Tri Bowo Budi Santoso. Sumber gambar: Suharso Rahman
Sesdislambangja Kolonel Pnb Tri Bowo Budi Santoso. Sumber gambar: Suharso Rahman

Sementara mengenai kebijakan publik, sebenarnya banyak aturan yang telah baku dan bagus. Tapi sayang, aturan tersebut seringkali tidak dijalankan. Inilah yang kemudian menyebabkan kecelakaan pesawat, insiden atau eksiden, terjadi berulang di Indonesia.

Sesdislambangja TNI AU Kolonel Pnb Tri Bowo Budi Santoso mengemukakan, kecelakaan banyak terjadi karena banyak orang suka menyederhanakan masalah, tidak menaati aturan dan prosedur keselamatan. Akhirnya celaka. Hal ini berlaku dalam segala hal.

“Intinya satu. Jangan suka menyederhanakan masalah, kalau kita tidak mau ketemu masalah,” ujarnya.

Foto bersama nara sumber dan moderator. Sumber gambar: Suharso Rahman
Foto bersama nara sumber dan moderator. Sumber gambar: Suharso Rahman

GM Bandara Halim menyambut baik antusias para nara sumber dan peserta FGD untuk berbagi pendapat sekaligus memberikan solusi. “Harapan saya, kegiatan ini bisa dilanjutkan ke level yang lebih besar lagi,” ujarnya.

Author: Roni Sontani