Bagaimana Rasanya Menerbangkan Boeing 787 Dreamliner?

2200

27 September 2010 saya diberi kesempatan “menerbangkan” pesawat Boeing 787 Dreamliner di Singapura. Saya duduk di belakang kemudi pesawat. Saya lepas landas dari Bandara Changi dengan instruktur Capt Bob MacGillivary di kursi kanan.

Meskipun pengalaman singkat itu hanya diperoleh di kokpit simulator SevenEightySeven Dreamliner. Simulator Boeing 787 FFS (Full Flight Simulator) buatan pabrik Thales di Crawley, Inggris, ini dirancang menggunakan gerakan yang identik dengan pesawat sesungguhnya. Dalam suasana pagi, siang, sore, dan malam, juga dengan segala macam cuaca yang mungkin dihadapi pilot saat menerbangkan pesawatnya, seperti hujan, kabut, dan salju. Istimewanya lagi, simulator ini dilengkapi dengan dua HUD (Head Up Display) yang belum umum melengkapi kokpit pesawat penumpang, juga ada EFB Electronic Flight Bags).

“Full Flight Simulator ini sama dengan kokpit pesawat B787 Dreamliner sesungguhnya,” ujar Sherry Carbary, Boeing Vice President for Flight Services ketika memberikan keterangan pada media regional.

Sumber gambar: aviationcivil.com
Sumber gambar: aviationcivil.com

Saya dipersilakan duduk di kursi kanan, pada kesempatan pertama mencoba simulator. Pemandangan di luar kokpit diatur ketika ancang-ancang akan gelinding lepas landas dari Bandara Changi. Menara berada di sebelah kanan. Capt Bob MacGillivary duduk di kursi kiri melakukan check list sebelum “pesawat” bergerak, lalu meminta flaps pada posisi 5

Flaps 5 in position, Captain,” jawab saya, setelah flaps saya tempatkan di posisi tersebut.

Dengan kedua mesin meraung hidup, sambil tangannya di atas tangan saya, Bob menggerakkan tangan saya untuk mendorong tuas throttle perlahan-lahan pada suatu posisi, beberapa detik setelah meminta release break.”Break release, Captain,” ucap saya, setelah melakukan permintaanya.

Begitu rem dibebaskan dan throttle gas perlahan-lahan ditambah, SevenEightySeven ternyata tak mau bergerak maju. Diulangi tetap tak maju dan diulangi lagi sama saja.
Akhirnya, instruktur lain yang berada di belakang kami meminta waktu setengah jam untuk melihat gangguan apa yang terjadi. Bersama dengan Femy Adi Soempeno dari Kontan, Raydion dari Bisnis Indonesia, juru kamera Rieszy Moolda dari Metro TV, dan seorang wartawan dari The South Morning Post di Hong Kong, saya keluar dari simulator.

Kokpit didesain cukup luas dan sangat ergonomis bagi penerbangnya. Sumber gambar: Dudi Sudibyo

Kami pun berkeliling melihat-lihat fasilitas lain di Pusat Pelatihan Boeing di Singapura ini sambil menunggu simulator berfungsi kembali. Hujan salju Setengah jam kemudian, simulator Dreamliner normal lagi. Kali ini saya duduk di kursi kiri. Prosedur sebelum pesawat lepas landas diulangi lagi.

Bedanya dengan yang pertama, cuacanya diatur hujan salju, seperti di landasan pacu Boeing Field di Seattle sewaktu musim dingin. Memang unik menyaksikan salju turun di runway Changi yang merupakan kawasan tropis. Begitu pesawat airborne (mengudara), perangkat roda pendarat dimasukkan ke dalam badan pesawat.

Setelah melewati ketinggian 1.000 kaki, flaps ditarik masuk. Sambil terus menanjak, naik ke ketinggian, salju tampak tambah deras dan dengan keras membentur kaca kokpit dan behenti setelah pesawat mencapai ketinggian 5.000 kaki.

Penampakan bandara Changi dari simulator Boeing 787 Dreamliner. Sumber gambar: Dudi Sudibyo
Penampakan bandara Changi dari simulator Boeing 787 Dreamliner. Sumber gambar: Dudi Sudibyo

Suasana terasa tenang dan 787 yang saya “kemudikan” terasa “enak” diterbangkan. Ketika dibelokkan ke kiri, pesawat “menyahut” dengan halus mengikuti “perintah” berbelok. Terasa amat jauh perbedaannya dengan menerbangkan pesawat kecil berbaling-baling dengan mesin tunggal, seperti Cessna 172, yang memang beda generasi.

Sayang waktu terbatas, sehingga saya tak lama menikmati pegang kemudi SevenEightySeven. Waktu mendarat tiba. Untuk merasakan pendaratan autopilot, pesawat diatur pada pendaratan itu. Bob meminta saya untuk mengatur kecepatan pada 134 dan flaps pada posisi 25.Mengagumkan merasakan dan melihat langsung dari kokpit, Dreamliner mendaratkan dirinya sendiri dengan mulus. Wow, pengalaman yang tak ada duanya!

Cerita tentang simulator Dreamliner yang ditempatkan di Singapura cukup unik. Untuk mendapatkan cerita ini, Anda bisa menikmatinya di Angkasa Edisi Koleksi: Boeing 787 Dreamliner Vs Airbus A350XWB.

EKOL_Cover 1.indd

 

Author: Dudi Sudibyo & Remigius Septian