Bagaimana Pilot Wanita Muda Memaknai Hari Kartini?

1638
Sumber gambar: JR Nugroho

Pada Hari Kartini 21 April ini, Angkasa berbincang dengan lima pilot dan satu calon pilot, keenamnya adalah perempuan, di Curug Tangerang. Perbincangannya segar tapi serius seputar keseharian mereka menjalankan tugas profesinya.

Menarik karena lima pilot perempuan itu  sedang mengikuti APTL (Air Transport Pilot License) Ground. Mereka adalah Nanda Esalawati Lifantri, Indri Jwitasari, Septiani Langen Sari (Septi), Karin Amanda, dan Irena Nur Fadhilah (Iren).

Kenapa mereka ikut kursus ATPL Ground? Karin, yang rupanya baru lulus dari Global Aviation Flying School pada Februari lalu, tahu bahwa tidak mudah untuk masuk maskapai penerbangan. Persaingan makin ketat ketika di lapangan ada seribuan pilot pemula yang sedang berburu kerja.

“Daripada nggak ada kegiatan, lebih baik kalau aku menambah pengetahuan. Apalagi sekarang, airline juga ada yang minta kami punya ATPL Ground,” ujar Karin.

“Sekarang memang banyak airline minta kita punya lisensi itu. Bahkan ada yang minta pilot yang sudah punya type rating pesawat tertentu. Aku sih senang makin banyak pengetahuan yang diperoleh,” tambah Nanda, yang lulus sekolah pilot tahun 2007 dan sejak tahun 2014 menjadi instruktur pilot di sekolah pilot Global.

Iren juga mengungkapkan hal senada tentang menambah pengetahuan itu. Pilot memang harus terus menambah ilmu, pengetahuan, dan wawasan. Sekarang Iren adalah seorang FO (First Officer) atau kopilot di Dimonim Air, perusahaan penerbangan carter yang saat ini banyak menerbangi rute perintis, khususnya di Papua.

Iren sudah 15 bulan di Dimonim Air dan terbang dengan pesawat DHC-6 Twin Otter untuk rute perintis di Papua. Ada tiga pilot perempuan di maskapai ini. “Menyenangkan juga dan banyak pengalaman,” kata pilot yang lulus tahun 2015 dari AeroFlyer Institute ini.

Para pilot perempuan tersebut memang penuh semangat. Indri misalnya, antusias menceritakan pengalamannya mengajar di kelas. “Kalau siswanya sudah pintar itu biasa, tapi kalau siswa itu ‘sulit’ kemudian berubah menjadi bisa, wah… itulah senangnya,” ucapnya.

Terkadang ada pula yang siswa yang sulit ditanganinya. “Aku minta saja sama bu Nanda yang cantik dan penuh senyum itu. Tapi kalau siswa ini betul-betul tak disiplin, bu Nanda lebih galak…hahaha,” tutur Indri.

Bagaimana dengan penampilan? “Nah itu…Aku yang penting rapi. Soal dandan, nggak perlu,” jawab Indri, yang lulus sekolah pilot dari Deraya Flying School tahun 2015 dan sekarang menjadi instruktur di Global.

Terkait tampilan itu, ada pengalaman menarik yang dialami Septi sewaktu melamar kerja di suatu airline. Rupanya, tampilan Septi yang cuek dinilai kurang positif oleh tim seleksinya. “Iya, … gimana katanya Sep? Pokoknya harus dandan, gitu,” kata Iren, yang waktu itu sama-sama diwawancara.

“Sebenarnya Septi diterima juga,” tambah Iren. Namun Septi yang hanya senyum-senyum tanpa komentar akhirnya tetap menjadi instruktur. “Aku memang suka jadi instruktur. Dari awal masuk sekolah pilot ingin jadi instruktur,” kata Septi, yang lulus tahun 2015 dari Global dan menjadi instruktur di almamaternya itu.

Rupanya, Septi punya paman, sedangkan Indri punya kakak, yang menjadi instruktur pilot. Karena itulah, mereka suka menjadi instruktur.

Urusan penampilan, Nanda “jagonya”. Dia memang selalu tampil rapi dan cantik. Septi memberi komentar tentang penampilan Nanda ini. “Kalau kita ke restoran, kita kan cari tempat duduk atau lihat menu. Ibu satu ini malah ke toilet untuk benerin dadanan.”

Ada seorang lagi, perempuan yang ikut teraenyum mendengar komentar para seniornya itu. Dia adalah Nyimas Safiqa Maydina (Fiqa) yang selangkah lagi akan mengantongi CPL-IR (Commercial Pilot License-Instrument Rating) dari Global.

Kenapa ingin jadi pilot, padahal tahu masih banyak yang belum bekerja sebagai pilot? “Saya memang ingin menjadi pilot. Belajar itu tak akan sia-sia dan aku percaya bahwa pilot itu sangat dibutuhkan,” ujar Fiqa, yang tetap semangat belajar dan berlatih untuk menjadi pilot yang baik dan safe.

Nanda juga mengatakan, kalau belum diterima bekerja, jangan putus asa atau mengeluh dan protes. Tetap berusaha untuk mengaktualisasi diri sendiri dan berusaha beraktivitas di bidang lain selain penerbangan.

“Ini supaya pemikirannya jangan tertutup bahwa pilot itu melulu harus ke maskapai besar saja. Banyak kesempatan kerja di bidang lain, seperti penerbangan perintis, carter, kargo, pertanian, atau bahkan penerbangan misionaris,” papar Nanda.

Komentar mereka tentang Hari Kartini? “Kalau dirayakan, manfaatnya apa ya? Tapi kalau tidak, nggak ada karnaval dong,” ujar Nanda. Indri menambahkan, ”Bukan tidak nasionalis ya, tak perlu lah ada perayaan. Perempuan itu bisa equal kok sama laki-laki.

Tak ada perayaan bukan berarti tanpa mengingat jasa pahlawan yang memacu semangat perempuan untuk eksis itu. Para pilot perempuan tersebut memang sudah menapak dan mengujudkan apa yang dicita-citakan Kartini.

Apa kabar Indonesian Women Pilot (IWP)? “Women Pilot vakum satu tahun karena banyak yang hamil kemarin-kemarin. Banyak yang melahirkan juga. Jadi, aktivitasnya nggak ada,” jawab Nanda Esalawati Lifantri, Bendahara IWP.

Pada Hari Kartini, tepatnya 21 April 2014, IWP didirikan oleh beberapa pilot perempuan yang senang kumpul-kumpul. Mereka mendata lewat orang per orang, sehingga pada waktu itu mereka dapat menjaring data ada sekitar 135 pilot perempuan di Indonesia, yang minimal mengantongi PPL (Private Pilot License).

Seiring waktu, jumlah teman-teman mereka sesama pilot perempuan pun bertambah. Kata Nanda, boleh jadi saat ini ada lebih dari 200 pilot perempuan, baik sipil maupun militer, di Indonesia.

Walaupun vakum, bukan berarti IWP bubar. Mereka masih kumpul-kumpul secara spontan jika tidak tidak tugas terbang pada waktu yang sama. Memang kesibukan terbang atau menjadi instruktur saja yang “merantai”, sehingga tidak bisa bebas berkumpul.

Kendala berorganisasi para pilot memang sulitnya mengajak para anggota berkumpul. Padahal diakui Nanda, banyak pilot muda yang ingin kumpul juga, ingin bertanya-tanya pada seniornya. Walaupun di sisi lain, para pilot junior itu seringkali merasakan ketidaknyamanan ketika bertemu dengan para seniornya. Bar sama, tapi rasa sungkan pada mereka yang sudah lulus lebih dulu tetap muncul. Hambatan ini rupanya susah dihilangkannya.

“Pernah kita bisa kumpul bisa sampai 40 orang. Tapi sekarang, walaupun tiap bulan kita bisa kumpul, tapi tak sebanyak itu,” ucap Nanda.

Susah kumpul bukan berarti tidak berkomunikasi. Para pilot perempuan ini berkomunikasi lewat dunia maya dan media sosial. Mereka berbagi, terutama soal dunia kerja dan perusahaan tempat mereka bekerja.

Para pilot pemula umumnya bertanya tentang kondisi maskapai yang akan dimasukinya pada seniornya yang sudah bekerja di sana.

IWP, walaupun sekarang belum berkiprah besar khususnya bagi anggotanya, setidaknya organisasi ini dapat mengukuhkan bahwa Indonesia pun memiliki pilot perempuan. Bahkan jumlahnya lebih dari 200 orang. Pilot perempuan Indonesia yang secara individu berkarya sesuai profesinya.

Author: Reni R.