Atlet Paralayang Nasional Indonesia Berlomba Lawan Atlet Berusia 78 Tahun

1077
Gendon Subandono dan Huub Coumans. Sumber gambar: Gendon Subandono

Dalam minggu kedua bulan Mei ini sekitar delapan atlet paralayang nasional Indonesia bertanding di Albania. Mereka didampingi pelatih andalan Gendon Subandono.

Lomba paralayang tingkat dunia bertajuk Paragliding Accuracy World Cup (PAWC) 2017 itu diikuti atlet paralayang dari 100 negara lebih.

Nilai lomba ditentukan oleh ketepatan mendarat para peserta di titik pendaratan yang dinamai landing pad.

Jika peserta lomba bisa mendaratkan salah satu kakinya tepat di tengah landing pad maka nilainya adalah 0.

Dalam lomba ketepatan mendarat paralayang nilai tertinggi adalah nol karena nilai-nilai berikunya yang bisa diukur dengan sensor merupakan angka pendaratan yang kurang tepat.

Misalnya saja atlet paralayang yang bisa menjejakkan kakinya pada angka 10 akan memiliki nilai lebih unggul dibandingkan atlet yang bisa menejejakkan kaki pada angka 30.

Tim paralayang nasional Indonesia termasuk tim yang tangguh karena bisa mendarat pada titik nol dan masuk ke dalam urutan lima besar dunia.

Kategori Tim Indonesia masuk peringkat ke tiga. Sedangkan di kelas Putri Indonesia masuk peringkat empat.

Tim paralayang nasional Indonesia dikejutkan karena harus berhadapan dengan atlet paralayang asal Belanda, Huub Coumans yang sudah berusia 78 tahun.

Gendon Subandono merasa salut atas keterlibatan Huub Coumans dalam PAWC 2017. Menurutnya, semangat Huub bisa digunakan untuk memotivasi para atlet paralayang Indonesia.

Author: A. Winardi