Anak-anak Diajak untuk Cinta pada Budaya Keselamatan Penerbangan

652
anak-anak
Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso saat bercerita.

Cinta dimulai dari kenal. Tak kenal maka tak cinta. Begitu pepatahnya. Maka Ditjen Perhubungan Udara pun mengenalkan dunia aviasi, khususnya budaya keselamatan penerbangan, kepada anak-anak agar mereka mencintainya.

PESAN DIRJEN PERHUBUNGAN UDARA

Karakter yang diharapkan tertanam dengan baik:
– Tertib antre ketika check in dan menyiapkan segala sesuatu agar prosesnya cepat;
– Mematuhi dan memahami peraturan terkait barang-barang berbahaya yang dapat membahayakan diri sendiri dan penumpang lain.

Peduli dan turut menciptakan keselamatan:
– Mematikan telepon genggam agar tak mengganggu komunikasi navigasi;
– Memakai seat belt agar jika terjadi goncangan tidak terlempar dan membentur kemana-mana;
– Kaitannya dengan Center of Gravity, tidak bergeser pada titik tertentu, sehingga mengganggu stabilitas terbang.

Peduli dan turut menciptakan keamanan:
– Tidak membawa benda tajam ketika naik pesawat;
– Tidak membawa cairan dalam ukuran tertentu ke kabin pesawat.

Langkah awal pengenalan itu dilakukan dengan mengadakan acara “Duta Aviasi Anak Indonesia” di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, pada Selasa (9/5/2017).

“Acara ini untuk mengedukasi anak-anak, terutama dari sekolah dasar, tentang keselamatan di transportasi udara,” ucap Agus Santoso, Dirjen Perhubungan Udara.

Menurut Agus, anak-anak dari sembilan SD di Jabodetabek itu kemudian menjadi Duta Aviasi Anak Indonesia IP agar lebih lebih termotivasi, serta aktif dan sukarela menyebarkan virus kebaikan keselamatan penerbangan kepada teman, saudara, orangtua, sanak keluarga, dan masyarakat. “Betapa pentingnya keselamatan penerbangan,” ujarnya.

Membangun transportasi udara menjadi tugas kita semua dan untuk kepentingan kita semua. Maka masyarakat, termasuk anak-anak, menjadi salah satu yang berkepentingan dalam terciptanya transportasi udara yang selamat, aman, dan nyaman.

Membentuk karakter manusia yang perduli pada ketertiban, keselamatan, dan keamanan, khususnya di bidang penerbangan, memang selayaknya dilakukan sejak dini; sejak kanak-kanak. Dengan demikian, karakter bangsa yang baik itu dapat tertanam sampai mereka dewasa.

Agus pun berpesan agar anak-anak lebih rajin belajar dan mematuhi nasehat orangtua dan guru. “Kami juga mengucapkan terima kasih kepada oara guru atas waktu dan kesediaannya untuk mengikuti kegiatan ini,” ucapnya.

Author: Reni Rohmawati