Aves Beli Pesawat Terbang Sendiri

1975

Penulis: Gatot R.

Perjalanan klub terjun legendaris Aves.

Tahun 1977, Aves pernah membeli sebuah pesawat Cessna 185 di Australia. “Harganya sangat murah, hanya seharga mobil kijang bekas,” ujar Djoni. Jika diuangkan saat ini mungkin senilai Rp 150 juta. Sayangnya pesawat tak jadi dibawa ke Indonesia. Kalau mau dibawa masuk ke Indonesia, yang paling murah adalah lewat Timor Timur (waktu itu). Sayangnya saat itu daerah tersebut sedang dilanda konflik. Jadi pesawat harus memutar lewat Papua dan daerah lain. Karena biaya membawa pesawat lebih mahal daripada harga beli, akhirnya pesawat dijual lagi.

Tahun 1994, Aves kembali membeli pesawat serupa. Kali ini Djoni melihat sebuah pesawat teronggok di ujung landasan Bandara Raden Inten II, Lampung. Ternyata itu pesawat penyemprot pembasmi hama milik PT. PP Berdikari, sebuah perusahaan perkebunan. Karena perusahaan menciutkan bisnis perkebunannya, pesawat pun tidak terpakai dan dibiarkan begitu saja. Aves membelinya seharga Rp 45 juta. Harga yang sangat murah namun memuaskan kedua belah pihak. Penjualnya merasa tertolong karena tidak lagi mengurusi pesawat yang tidak terpakai dan terus menerus membayar biaya parkir di bandara. Sedangkan pembeli beruntung dapat pesawat murah, walaupun harus banyak melakukan overhaul agar kembali laik terbang.

Salah satu pesawat milik TNI AU yang digunakan Aves untuk berlatih
Salah satu pesawat milik TNI AU yang digunakan Aves untuk berlatih

Jadilah Aves sebagai satu-satunya klub yang mempunyai pesawat terbang sendiri, yang kemudian dipakai untuk membesarkan klub dan menggairahkan olahraga terjun payung di Indonesia.

Bantuan Citilink

Untuk membangkitkan kedigdayaan Aves, Citilink ikut dalam mendukung armada pesawatnya.
Untuk membangkitkan kedigdayaan Aves, Citilink ikut dalam mendukung armada pesawatnya.

Bantuan untuk menggeliatkan kembali Aves juga datang dari Citilink. Maskapai yang mempunyai logo tulisan berwarna hijau ini sepakat mensponsori empat parasut untuk kerjasama antar kanopi senilai Rp 500 juta dan biaya untuk latihan atletnya. Payung jenis lomba ini memang cocok untuk promosi karena payungnya sudah dibuka saat masih tinggi di angkasa. Dengan demikian payung akan mengembang lama dan bisa dilihat penonton lebih lama. Bantuan sponsor ini secara simbolis diberikan oleh Direktur Komersil Citilink, Hans Nugroho dan Direktur Operasi Citilink Hadinoto Soedigno kepada Ketua Umum Aves saat ini, Hardi Soesilo. Secara kebetulan, Hadinoto Soedigno yang biasa dipanggil Demdem ini juga peterjun senior dari Aves.

Author: