BNPT: 63.6% Profil Pelaku Teroris Berpendidikan SMA

1119
profil pelaku teroris

Deputi I Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Mayjen TNI Abdul Rahman Kadir menyebutkan bahwa hasil riset yang dilakukan Kementerian Luar Negeri (Kemlu), IN SEP dan Densus 88 terhadap 110 pelaku terorisme tahun 2012 berdasarkan tingkat pendidikan, sebanyak 63,6 % profil pelaku terorisme berpendidikan SMA. Dari riset tersebut juga disebutkan bahwa rentan usia para pelaku terorister banyak  antara usia 21 hingga 30 tahun sebesar 47,3 %.

“Hasil riset yang dilakukan oleh Kemlu, IN SEP kemudian Densus 88, dari 110 pelaku terorisme, ada 63,6 % perpendidikan SMA yang terbanyak. Makanya kita kumpul sekarang, karena masih ada 63,6 % itu hanya lulusan SMA. Kemudian umur atau usia pelaku terorisme yang  paling banyak adalah di bawah 30 tahun ,” papar Rahman dalam acara Dialog Pencegahan Faham Radikal Terorisme dan ISIS di Kalangan Guru dan Rohis SMA/SMK dan Sederajat Se-Jabodetabek, Kamis (9/6/2016) di Jakarta.

Generasi muda, terutama pelajar sangat rawan ditunggangi propaganda kekerasan melalui dunia digital termasuk sosial media. Hal tersebut tak lepas dari keberadaan pelajar dan generasi muda yang sangat akrab dengan dunia digital. Pelajar dan generasi muda cukup haus akan informasi atau bahan bacaan.

“Propaganda faham radikal teroris di kalangan generasi muda, khususnya pelajar kian menghantui masyarakat di Indonesia. Fenomena tersebut membutuhkan perhatian serius dari semua pihak demi menyelamatkan generasi muda agar tidak tenggelam dalam faham-faham radikal teroris,” ujar Rahman.

Dirinya menambahkan, bahwa para pelajar yang kini mengenyam pendidikan SMA atau sederajat perlu dibekali pengetahuan agama yang tak hanya dipermukaannya saja agar dapat membentengi diri mereka dari banyaknya propaganda teroris yang tersebar di dinia digital dan sosial media,” kayanya.

Konsumsi informasi yang cukup intens dilakukan pelajar amat berbahaya apa bila mereka belum memiliki kemampuan untuk menyaring informasi yang mereka peroleh dari dunia digital maupun sosial media. Bukan hal yang tidak mungkin mereka akan terkontaminasi dengan berbagai faham radikal teroris.

“Kelompok-kelompok teroris ini sangat mahir menggunakan teknologi informasi. Dia mampu bermain di internet, dia bisa bermain di semua media sosial untuk bisa melakukan propaganda, melakukan perekrutan, melakukan hasutan dan sebagainya,” uangkapnya.

Rahman menjelaskan, bahwa mereka (kelompok teroris) mampu memanfaatkan itu untuk bisa menggalang, merekrut, mempengaruhi dan bisa mengajak, terutama anak-anak yang ditingkat remaja, sehingga banyak dari anak-anak kita yang masih remaja berhasil direkrut untuk ikut bergabung dengan kelompok ISIS yang ada di Syiriah.

Rahman menekankan bahwa peran tenaga pendidik atau guru sangat vital untuk membantu menyelamatkan pelajar sebagai generasi muda penerus bangsa agar tidak terlalap oleh faham-faham radikal teroris.

“Kasus radikalisasi di lingkungan sekolah tidak bisa dianggap enteng. Kurangnya pengawasan dan pendampingan dari sekolah menjadi salah satu faktor ketidaktahuan aktivitas seperti apa yang telah dilakukan oleh siswa di sekolah. Sekolah bahkan Dinas Pendidikan pun kadang kecolongan dengan peredaran buku-buku rujukan keagamaan di sekolah,” imbuh Sekretaris Utama (Sestama)BNPT Mayjen TNI R. Gautama Wiranegara.

Berita Terkait:
BNPT Bekali Pemahaman Pencagahan Terorisme ke Guru dan Rohis

Author: Fery Setiawan