Pesawat Tidak Airworthy Tidak Boleh Terbang

1257
Pesawat-pesawat maskapai nasional di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Foto: Gatot R/ Angkasa

Keselamatan merupakan hal yang  mutlak dalam bisnis penerbangan. Untuk itu keselamatan harus dipatuhi, dijaga dan dikembangkan oleh semua pihak yang terkait dengan bisnis penerbangan. Semua stakeholder penerbangan harus selalu diingatkan bahwa bisnis penerbangan adalah bisnis keselamatan (safety).

Demikian arahan dari Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso kepada para pemangku kepentingan di bidang penerbangan di seluruh Indonesia pada hari ini, Jumat (17/3/2017). Pengarahan di lakukan di Ruang Nenggala, Gedung Cipta di Kompleks Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta.

IMG-20170317-WA0029Hadir dalam pengarahan tersebut para jajaran direktur di Ditjen Perhubungan Udara, para pimpinan maskapai penerbangan, pimpinan pengelola navigasi penerbangan, pimpinan pengelola bandara udara, pimpinan sekolah pilot dan pemangku kepentingan lainnya.

“Kita menginginkan keselamatan penerbangan kita terus meningkat di semua aspek. Jadi semua stakeholder kita kumpulkan hari ini mulai dari pengelola bandara, navigasi, maskapai dan lainnya. Karena keselamatan penerbangan itu disiapkan dan berawal dari darat atau bandara,” ujar Agus.

Agus juga mengingatkan bahwa sebentar lagi akan memasuki musim sibuk (peak season) untuk bisnis penerbangan yaitu puasa Ramadhan dan Lebaran 2017. Dalam peak season Puasa dan Lebaran, dari tahun ke tahun jumlah penumpang pesawat udara  selalu naik 7-9 persen.

“Selalu ada penambahan penerbangan (extra flight) saat puasa Ramadhan dan Lebaran. Oleh karena itu harus disiapkan pesawatnya baik jumlah maupun kualitasnya. Pesawat yang boleh terbang adalah pesawat yang airworthy. Artinya pesawat yang sudah memenuhi aturan-aturan yang ditetapkan baik tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya.

Author: Gara