Pesawat Losari Air Terbakar Di Makassar

2406
foto-foto: Dok. AP I

Pesawat Losari Air dengan nomor penerbangan MKS090 dari Haneda menuju Makassar jatuh dan terbakar sebelum memasuki runway 21 Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Pesawat Airbus 330-200 dengan kode registrasi PK-UPG tersebut kehilangan kendali dan jatuh di area luar pagar bandara, tepatnya pada gridmap C6 di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar.

Kontan saja personil di bandara terbesar di Pulau Sulawesi ini dibuat terkejut dan sibuk. Di tengah kepanikan yang terjadi, petugas Air Traffic Control (ATC) yang sigap segera menyalakan crash bell dan menginformasikan petugas watchroom.

General Manager Bandara Sultan Hasanuddin Makassar segera mengaktifkan Emergency Operation Center (EOC). Sedangkan petugas Airport Rescue and Fire Fighting (ARFF) langsung menuju lokasi kecelakaan, memadamkan api, dan mengevakuasi korban.

PKD Makassar 3Dari keterangan petugas ARFF, diketahui bahwa pesawat tersebut diketahui mengangkut 205 orang penumpang dan 13 orang kru pesawat. Akibat kejadian itu,  30 orang meninggal, 81 orang luka berat, dan 49 orang luka ringan.

Customer Service Unit melakukan penanganan penumpang di lokasi greeters-meeters. Dalam waktu bersamaan, Unit Humas melakukan persiapan Konferensi Pers mengenai kejadian darurat dimaksud. Seluruh tindakan dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang tertuang di dalam Airport Emergency Plan (AEP).

Terjadi keriuhan luar biasa di bandara.

Namun untunglah kejadian tersebut hanya merupakan bagian dari skenario Latihan Penanggulangan Keadaan Darurat (PKD) Dirgantara Raharja ke-90 yang dilaksanakan di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar hari ini, Kamis (16/3/2017). Latihan ini melibatkan sedikitnya 1.000 personel yang terdiri dari Airport Emergency Committee dan Airport Security Committee dari PT Angkasa Pura I (Persero), TNI AU Lanud Sultan Hasanuddin, Perum LPPNPI, TNI/ Polri, Basarnas, Kantor Kesehatan Pelabuhan, Kantor Imigrasi Makassar, Kantor Bea Cukai Makassar, serta beberapa rumah sakit di sekitar Bandara Sultan Hasanuddin Makassar.

Latihan PKD Dirja ke-90 ini terdiri dari full scale exercise (latihan yang berkaitan dengan kecelakaan pesawat terbang), aviation security exercise (latihan terkait penanganan bom dan ancaman keselamatan penerbangan) dan fire building exercise (latihan terkait penanganan kebakaran gedung).

Dalam ketiga latihan tersebut, waktu respon unit ARFF tidak boleh lebih dari 3 menit, sebagaimana tercantum dalam peraturan internasional dan nasional tentang Airport Emergency Plan  (AEP).

Di samping penanganan pada saat kejadian, dalam PKD Dirja ke-90 ini juga dilakukan latihan penanganan pasca-kejadian meliputi penanganan terhadap keluarga korban melalui simulasi Greeters Meeters serta penanganan terhadap media melalui simulasi kegiatan Media Handling.

Menurut Direktur Operasi PT Angkasa Pura I (Persero) Wendo Asrul Rose, simulasi ini dilakukan setiap dua tahun sekali. Fungsinya untuk menguji  fungsi koordinasi, komunikasi, komando dan sinkronisasi atas prosedur tetap dari setiap unsur yang ada di bandara dan fungsi penunjang di sekitarnya.

“Dalam bisnis kebandarudaraan, keamanan dan keselamatan penerbangan merupakan aspek utama yang perlu mendapat perhatian ekstra. Dalam latihan PKD ini selain menguji penanganan pada saat kejadian, kami juga melakukan simulasi penanganan pasca-kejadian baik penanganan kepada para penumpang, keluarga penumpang maupun terhadap media yang mencari informasi kejadian tersebut. Diharapkan melalui simulasi penanganan saat kejadian maupun pasca kejadian ini, kami selalu dalam keadaan siap, baik secara sumber daya manusia maupun fasilitas karena kejadian tersebut dapat terjadi sewaktu-waktu di bandara yang kami kelola,” terang Wendo.

Rencananya, di tahun 2017 ini, latihan serupa juga akan digelar di beberapa bandara di bawah pengelolaan AP I. Di antaranya Bandara Lombok Praya, Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin, Bandara Adisutjipto Yogyakarta, dan Bandara Pattimura Ambon.

Author: Gara