Potensi Besar bagi Operator Bus untuk Operasi Rute Jabodetabek-Bandara Soekarno-Hatta

1257
soekarno-hatta
Sumber gambar: Reni Rohmawati

Pergerakan penumpang dari dan ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta saat ini rata-rata 120.000 orang setiap hari. Bahkan sekarang, menjelang libur Lebaran, pergerakannya bisa mencapai 150.000 orang. Layanan transportasi darat ke dan dari bandara untuk melayani para penumpang sebanyak itu pun tentu membutuhkan sarana yang makin banyak pula.

Untuk mengatasi kepadatan kendaraan pada akses ke dan dari bandara itu, Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) memprakarsai layanan Jabodetabek Airport Connexion (JAConnexion) dengan rute dari hotel-hotel dan mal-mal ke Soekarno-Hatta, juga sebaliknya.

“Dengan trafik penumpang di Bandara Soekarno-Hatta setiap hari 150.000 orang ditambah sekitar 25.000 pekerja di bandara, kehadiran bus menjadi suatu keharusan,” ujar Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, para peresmian JAConnexion di Plaza Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Selasa (30/5).

Kemudian, Menhub menekankan bahwa JAConnexion sebagai bagian dari Bus Rapid Transit (BRT) merupakan suatu keharusan bagi Jakarta. Dengan JAConnexion, masyarakat yang akan ke Bandara Soekarno Hatta, begitu pun sebaliknya, mempunyai alternatif angkutan umum, termasuk Kereta Api Bandara yang akan segera beroperasi.

“Tanpa angkutan massal, kemacetan akan bertambah banyak. Nanti akan ada kereta bandara atau Light Rail Transit (LRT) yang lebih efisien tiga kali lipat dari bus, sementara  bus lima  kali lipat lebih efisien dari kendaraan pribadi,” ujar Budi.

Menhub menambahkan, saat ini baru ada 91 bus JAConnexion dan ini masih kurang. Dia pun berharap pada akhir tahun ini jumlah armadanya menjadi 400 bus karena layanan ini mempunyai potensi yang besar. Di samping itu, ia meminta operator bus menjaga tingkat pelayanan yang baik agar menjadi favorit masyarakat.

Kepala BPTJ Elly Adriani Sinaga menambahkan agar operator dapat menambah armadanya dan berharap ada operator lain yang akan turut berpartisipasi. Saat ini ada empat operator yang berpartisipasi, yaitu Perum DAMRI, PPD, Big Bird dan Sinar Jaya.

Layanan JAConnexion saat ini baru ke 15 hotel di seputar Jabodetabek, yaitu Hotel Borobudur, Alila, Luminor, Sari Pan Pasific, Aryaduta, Grand Cemara, Ibis Tamarin, Millennium, Grand Sahid Jaya , Ascot, Amaris Thamrin City, Aston Sentul City, Sahid Jaya Lippo Cikarang, dan Hotel Mall BTM Bogor. Sementara ada tujuh kawasan mal yang dilayani, yaitu dari Mal Taman Anggrek, Plaza Senayan, ITC Cempaka Mas, Kelapa Gading, Thamrin City Tanah Abang, BTM Bogor, dan Grand Indonesia.

“JAConnexion mulai beroperasi hari ini dan tarifnya masih promosi. Dari mal Rp25.000 dan dari hotel Rp50.000,” jelas Elly.

Direktur Utama PT Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin berterima kasih dengan bertambahnya layanan angkutan massal dari Bandara Indonesia Soekarno-Hatta yang dikelolanya. Apalagi, katanya, sampai akhir tahun ini pergerakan penumpangnya bakal mencapai 60 juta orang.

“Pergerakan di Terminal 1 dan 2 mencapai 33 juta penumpang, sedangkan di Terminal 3 ada 27 juta orang,” ujar Awaluddin. Dengan adanya JAConnexion, katanya, ada pilihan angkutan umum bagi penumpang di samping yang ada saat ini, yakni taksi dan bus.

Peresmian JAConnexion dihadiri pula oleh Walikota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany, Walikota Tangerang Arief Rachadiono Wismansyah, dan Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto, serta pimpinan para operator bus. Pihak Big Bird pun mengatakan senang dapat turut berpartisipasi dalam JAConnexion dan berharap dapat turut pula mengatasi kemacetan di Jabotabek.

Setelahnya, Menhub beserta rombongan mencoba bus JAConnexion dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Mal Grand Indonesia. Di sini, ia meresmikan beroperasinya aplikasi Moovit di Indonesia.

Moovit adalah aplikasi yang membantu memperoleh informasi pilihan rute, posisi armada, waktu kedatangan, waktu tempuh, jenis moda, dan titik transit, angkutan umum. Aplikasi ini diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi masyarakat bagaimana menggunakan angkutan umum yang dikehendaki. Ujungnya, masyarakat menjadi semakin tertarik untuk menggunakan angkutan umum.

Author: Reni Rohmawati