Pengelola Bandara Harus Hati-hati, Ini Penyebab Penembakan Massal Ft. Lauderdale

826
Sumber gambar: csmonitor.com

Kasus penembakan massal di dalam terminal 2 Bandara Ft. Lauderdale Florida, Amerika Serikat (AS) yang dilakukan Esteban Santiago sangatlah mengejutkan. Ia mencabut pistol yang dibawanya di dalam tas dan mulai menembaki penumpang lain yang sedang dalam proses pengambilan bagasi. Kejadian yang terjadi pada Jumat pukul 1 siang waktu setempat tersebut menewaskan lima orang dan melukai 13 orang lainnya.

Polisi bandara yang bergegas menuju lokasi berhasil menangkap Santiago yang menyerah setelah kehabisan peluru. Setelah diinterogasi FBI, ketahuan bahwa Santiago menderita sakit jiwa dan sedang berhalusinasi. Ia merasa mendengar suara-suara yang memerintahkannya untuk bergabung dengan ISIS, dan saat sedang menunggu connecting flight ke Minneapolis, ia curiga aparat keamanan sudah menunggu dan siap menjebaknya.

Kejadian penembakan ini menimbulkan pertanyaan, bukankah setiap bandara di AS selalu diawasi dan diperiksa dengan ketat oleh Transportation Security Administration (TSA)?

Bukankah setiap orang yang masuk ke dalam sudah melalui proses screening ketat seperti sinar X dan perabaan? Bagaimana bisa seorang penembak aktif masuk ke dalam dan menembaki orang-orang tak bersalah?

Jawabannya ada pada kelemahan atau minimnya pengawasan di dalam area bandara setelah melewati checkpoint yang dijaga oleh TSA.

Dalam kasus Esteban Santiago yang turun dari penerbangan awal dan menunggu penerbangan selanjutnya, tidak ada checkpoint TSA di wilayah pengambilan bagasi, karena diasumsikan bahwa seluruh penumpang tersebut sudah diperiksa dengan ketat di bandara sebelumnya. Jadi, seseorang yang berniat jahat seperti Esteban secara teoritis bisa berangkat dari bandara yang pengawasannya lebih lemah, kemudian melancarkan aksinya di bandara besar yang menjadi hub dan lebih ramai.

TSA sendiri memperbolehkan penumpang membawa pistol atau senapan ke atas pesawat. Syaratnya, senjata tersebut dalam kondisi kosong dan magasen tidak terpasang, serta masuk dalam bagasi dalam kontainer senjata khusus yang terkunci.

Namun, begitu berganti pesawat dan bagasi tersebut diturunkan dan diambil penumpang di bandara transit, sang penumpang memiliki akses terhadap senjata berikut pelurunya. Jika berniat melancarkan aksi, maka terjadilah kasus seperti Esteban Santiago di Bandara Ft. Lauderdale.

Serangan-serangan teroris yang diarahkan ke bandara di seluruh dunia acap memanfaatkan titik lemah semacam ini. Masih ingat serangan bom di bandara Belgia yang menewaskan 32 orang dan melukai 300 lainnya pada bulan Maret 2016?

Bom yang ditaruh di troli tersebut diledakkan di area tunggu sebelum penumpang atau pengunjung melewati area X-Ray ke arah check in counter bandara. Ditarik sebelumnya pada tahun 2011, bom bunuh diri di Bandara Domodedovo, Moskow, pun terjadi dengan modus yang sama.

Aparat keamanan dengan keterbatasan personilnya jelas masih akan menghadapi tantangan untuk modus-modus serangan semacam ini, mengingat tidak mungkin mengawasi seluruh area secara kontinyu.

Peningkatan pengamanan melalui pengintaian elektronis perlu ditingkatkan. Begitu pula pelatihan psikologis agar aparat yang menjaga objek vital bisa melakukan profiling atas orang-orang yang berkeliaran di bandara, sehingga terduga pelaku bisa dikenali lebih cepat.

Apalagi dalam kasus ini Esteban Santiago yang terbang tanpa bagasi kecuali tas berisi pistolnya, sehingga sudah harus menjadi red flag dan menimbulkan kecurigaan tersendiri atas individu tersebut. Yang terpenting, harus ada SOP yang jelas dan tegas mengenai kondisi-kondisi darurat sehingga waktu respon dan penanganannya dapat dilakukan secepat mungkin untuk mengurangi jatuhnya korban.

Author: Aryo Nugroho