Josaphat, Anak Kopasgat yang “Diincar” Dunia

45824
Prof Josaphat dengan piringan CP SAR racangannya. Sumber gambar: Dok. Pribadi

Wawancara mengagumkan dengan seorang putera Indonesia berprestasi dilakukan Angkasa, Selasa malam (20/12/2016) lewat media komunikasi digital. Dia adalah Prof. Dr. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo (46 tahun), Guru Besar teknologi penginderaan jauh di Universitas Chiba, Jepang, yang belakangan amat “diincar” berbagai badan antariksa dunia dan mestinya industri kemiliteran ternama.

Badan-badan antariksa seperti NASA (AS), JAXA (Jepang), ESA (Eropa) dan KARI (Korea Selatan) itu aktif mengontak Josaphat karena dia adalah satu-satunya pemegang hak paten teknologi terbaru di bidang synthetic apparture radar, pemindai obyek jarak jauh yang bisa menembus awan dan gulita malam. Jika sejauh ini teknologi SAR yang diandalkan NASA, JAXA dan ESA bersosok besar dan harus diusung satelit seberat 1.000 kg, ia mampu meringkasnya jadi hanya sepersepuluhnya. Mereka tertarik karena obyek yang dipindai bisa berupa planet-planet yang letaknya sangat jauh dari Bumi.

UAV buatan Lab Josaphat yang telah dipasangi radar mikro buatannya. Sumber gambar: Dok. Pribadi
UAV buatan Lab Josaphat yang telah dipasangi radar mikro buatannya. Sumber gambar: Dok. Pribadi

Radar mikro ciptaannya ini dinamai Circularly Polarized – Synthetic Aperture Radar atau CP-SAR. “Yang selama ini digunakan dunia adalah jenis linear polarized. Nah, berdasar prinsip microwave, saya berhasil mengembangkan yang circular. Saya kembangkan sejak 2010, dan kini saatnya saya pasang di satelit mikro buatan Indonesia, Lapan A-5,” ungkapnya kepada Adrianus Darmawan dari Angkasa.

Satelit mikro Lapan A-5 yang tengah digarap di fasilitas Lapan, Rancabungur, Bogor, Jawa Barat sendiri hanya berbobot 150 kg. Jika selama ini Lapan seri A harus puas mengusung pencitra optis buatan luar yang memiliki berbagai kelemahan, A5 yang akan diluncurkan pada 2021 pun bakal mengguncang dunia. Itu karena jeroan CP-SAR yang akan dipasang di satelit buatan 100 persen Anak Bangsa ini, sengaja tak dibuka penuh kepada dunia.

CP-SAR menurutnya bisa diberdayakan jadi pelacak pesawat dan kapal perang siluman (stealth) dan radar AESA. Dengan begitu Lapan A5 pun akan jadi satelit pertama di dunia pengusung perangkat intai berteknologi baru. Keputusannya memilih satelit Lapan tak lain didorong oleh kecintaannya terhadap Indonesia. Pihak TNI AU sebenarnya pernah memintanya untuk diterapkan pada pesawat intai, namun CP-SAR lebih cocok dipasang di satelit mikro. Lalu untuk mengamati wilayah seluas Indonesia, kira-kira dibutuhkan berapa satelit?

Prof Josaphat saat mengajar di Universitas Chiba, Jepang. Sumber gambar: Dok. Pribadi
Prof Josaphat saat mengajar di Universitas Chiba, Jepang. Sumber gambar: Dok. Pribadi

“Kalau orbit satelitnya polar, butuh lima. Tapi kalau dari jenis equatorial, cukup dua. Begitupun saya sudah mencobanya di pesawat tanpa awak buatan Josaphat Laboratory Experimental UAV di Universitas Chiba, Jepang, dan itu berhasil,” tutur alumnus SMAN 1 Surakarta, Jawa Tengah yang pernah bekerja pula di BPPT ini, penuh semangat.

Tentang pesawat tanpa awak itu sendiri, ia punya cerita khusus. Sang UAV sengaja dicat warna jingga lantaran kekagumannya yang luar biasa terhadap korps baret jingga alias Korpaskhasau. Kenapa? “Itu karena saya mengenyam pendidikan dari gaji ayah saya yang pelatih Kopasgat (kini Korpaskhas TNI AU). Dia adalah Lettu Michael Suman Juswaljati atau sering dipanggil Bimo Kunting,” ujarnya.

Ketika muda, Josaphat rupanya pernah bercita-cita jadi penerbang AURI, namun tidak diijinkan oleh ibunya. Sejak itu ia pun bernazar kepada orangtuanya, bahwa kelak dirinya akan jadi pembuat pesawat dan radar. Siapa sangka, nazarnya itu tercapai.

 

(Ikuti tulisan lengkapnya di Majalah Angkasa edisi Januari 2017).

Author: Adrianus Darmawan