Prajurit AD AS Kini Lebih Mudah Mengenakan Turban dan Jilbab

3329

Tahun baru membawa semangat kesetaraan baru di dalam AD AS. Bagi prajurit AD AS beragama tertentu yang mewajibkan umatnya untuk selalu mengenakan aksesoris busana sebagai bagian dari ibadah, AD AS pada awal tahun ini merelaksasi peraturan perijinannya.

Menteri urusan AD AS Eric Fanning sudah menandatangani memorandum menteri yang memberikan wewenang kepada komandan Brigade untuk memberikan izin bagi  prajurit AS yang ingin menggunakan aksesoris busana tersebut.

Sebelumnya, seorang prajurit yang hendak menggunakan aksesoris busana tambahan harus mengajukan izin sampai ke tingkat menteri sebelum dapat mengenakan aksesoris seperti hijab dan turban. Pengajuan izin ini jelas makan waktu dan bertentangan dengan prinsip egaliter dan kebebasan yang menjadi fondasi dasar bangsa Amerika Serikat.

Ini artinya seorang prajurit AS penganut Sikhisme diperbolehkan mengenakan Turban, atau seorang wanita Muslim yang menjadi prajurit AS boleh memakai jilbab atau kerudung setelah memperoleh izin dari komandan Brigade yang diharapkan lebih mengenal prajurit-prajuritnya.

hijab us army

Tujuan perubahan ini menurut Direktur Humas dan Deputi Meteri AD Letkol Randy Taylor, “Bertujuan untuk menyeimbangkan kesiapan dan keamanan prajurit dengan mengakomodasi praktek ibadahnya, dimana arahan terbaru ini memampukan kita untuk melakukannya.”

Namun kebebasan mengenakan turban dan hijab, jilbab, atau kerudung ini tetap ada aturannya. Aksesori kepala yang dikenakan prajurit tingginya tidak boleh lebih dari 2 inci atau lebih kurang 5cm dari titik tertingginya.

Aksesori yang diperbolehkan tersebut juga ditulis dengan jelas: turban, patka, dan jilbab. Di luar itu, AD AS ternyata juga mengizinkan penggunaan gaya rambut seperti kepang, kepang cornrow dan gaya rambut gimbal (locks) yang banyak dianut oleh kalangan kulit hitam di AS.

Para pria Sikh pun juga diperbolehkan memelihara jenggot, sesuatu yang tadinya dilarang AD AS karena ditakutkan dapat menyebabkan celah masuknya gas pada saat prajurit mengenakan masker antigas. Di masa lalu, para prajurit Sikh di dalam AD AS bahkan sampai harus maju ke pengadilan agar mereka dapat bertugas di dalam AD AS tetap dengan menumbuhkan jenggot.

Perubahan yang diinisiasi oleh AD AS ini tentu saja disambut dengan gembira oleh para aktivis hak asasi manusia di tengah meningkatnya ketegangan rasial dan agama di Amerika Serikat, yang salah satunya juga disebabkan oleh perilaku rasis dari Presiden AS terpilih Donald Trump.

Yang sempat menjadi sorotan dalam masa kampanye adalah ketika Donald Trump saat itu mengumumkan kebijakan diskriminatif terhadap Muslim di AS. Partai Demokrat yang bersaing mengajukan Khizr Khan, pria Pakistan yang putranya, Kapten Humayun Khan, gugur di Irak. Terlebih lagi, semakin banyak orang-orang dari kaum minoritas yang mendaftarkan diri ke dalam dinas ketentaraan dan bertugas di garis depan membela panji-panji Amerika Serikat.

Author: Aryo Nugroho