Pentagon Mulai Merahasiakan Informasi Kekuatan Militer AS

2540
Foto Pentagon dari udara.

Selama bertahun-tahun, pers AS dan dunia begitu mudah memperoleh nukilan informasi mengenai kebijakan, kekuatan, dan bahkan kelemahan alutsista milik Paman Sam.

Sebagai contoh, berlarut-larutnya program F-35 yang dirundung beragam masalah mudah saja didapatkan, atau betapa AL AS sangat kesulitan untuk mencapai jumlah dan tingkat kesiapan untuk kapal-kapal perangnya.

Namun ternyata Pentagon jengah juga dengan pemberitaan negatif tersebut.

Pada awal Maret, Pentagon mulai menerapkan kebijakan yang lebih ketat mengenai distribusi informasi.

Dalam memo yang ditandatangani oleh CNO (Chief of Naval Operations) Laksamana John Richardson, para perwira AL AS didorong untuk tidak mendiskusikan atau mempublikasikan informasi-informasi yang bisa melemahkan imej keunggulan AL AS, tetapi justru harus menutupi dan melindunginya.

Di level Pentagon sendiri, juru bicaranya yaitu Kapten Jeff Davis mengeluarkan memo yang berisi arahan dari Menteri Pertahanan James Mattis untuk mengatur keluarnya informasi-informasi mengenai kekurangan atau kelemahan sistem yang terkait dengan militer AS.

Para perwira tinggi dari setiap kecabangan militer AS diminta memoles kalimat-kalimat mereka sedemikian rupa untuk pembicaraan yang melibatkan pihak eksternal atau pers.

Arahan ini jauh berkebalikan dari semangat keterbukaan yang digadang-gadang oleh Amerika Serikat.

Sebelumnya, para jurnalis dapat mengorek informasi dengan bersenjatakan mekanisme seperti FOIA (Freedom of Information Act) kepada pemerintah, namun Pentagon kini mendorong agar berita-berita khususnya terkait tingkat kesiapan alutsista kini didorong menjadi kategori rahasia sehingga tidak akan dibuka ke hadapan publik.

Pentagon sendiri beralasan bahwa kerahasiaan ini perlu karena situasi global yang semakin menghangat, dimana informasi ini dapat dimanfaatkan oleh lawan-lawan Amerika Serikat untuk memperkirakan disposisi kekuatan strategis AS seperti kapal induk, kapal selam, atau armada pembom jarak jauhnya dan memperkirakan dimana adanya celah yang dapat dimanfaatkan untuk bermain kucing-kucingan dengan AS.

Kondisinya sendiri di AD, AL,  Korp Marinir, dan AU AS juga sebenarnya kurang baik, karena terlambatnya berbagai program kunci untuk memodernisasi alutsista militer AS.

Program seperti GCV (Ground Combat Vehicle) AD AS dan EFV (Expeditionary Fighting Vehicle) milik Korp Marinir AS, adalah 2 contoh program yang dibatalkan di tengah jalan dengan kadung menelan biaya yang sangat besar.

Littoral Combat Ship dan F-35C milik AL AS malah sudah makan anggaran gila-gilaan, bermasalah, dan sudah terlalu mahal kalau mau dibatalkan.

Performanya pun jauh dari janji-janji pabrikan, dan Pentagon terpaksa mempertahankan atau memperpanjang umur sejumlah sistem senjata yang sebenarnya sudah dianggap sebagai legacy alias kuno.

Dari sisi kepentingan strategis pertahanan dan keamanan, meningkatnya kerahasiaan jelas merupakan suatu keharusan untuk menjaga daya deterens.

Di sisi lain, kerahasiaan tersebut tentu akan mengurangi kontrol publik atas penggunaan anggaran militer, yang dibayar dengan sangat mahal oleh pajak warga negara AS. Jadi, mau pilih yang mana?

Author: Aryo Nugroho