OV-10 Bronco, Kuda Liar Legendaris yang Lahir dari Garasi

13908
Deretan OV-10F Bronco TNI AU siap terbang. Sumber gambar: DN Yusuf/Angkasa

Siapa yang tidak kenal dengan OV-10 Bronco? Kiprahnya di TNI AU menorehkan tinta emas dalam jejak perjalanan Republik Indonesia. Tiba di saat-saat genting dimana jasanya sangat dibutuhkan di tengah ketiadaan alutsista akibat putusnya hubungan dengan Uni Soviet, OV-10 yang akrab disebut Kampret di kalangan para penerbang dengan segera membaktikan dirinya dalam ganasnya operasi militer untuk menamatkan perlawanan eks Tropaz dan Fretilin di Timor Timur yang saat itu baru diintegrasikan ke Republik Indonesia melalui Operasi Seroja.

Dengan ragam senjata yang bisa dibawa, si Kampret seringkali menjadi penentu jalannya pertempuran dan membalikkan keadaan.

Kiprah OV-10 yang malang-melintang di tanah air dalam beragam operasi tempur maupun patroli rutin, sesungguhnya hanyalah satu lembaran unik dari tebalnya buku sejarah OV-10 Bronco.

Formasi diamond empat OV-10A Bronco terbang di atas Shaw Air Force Base, South Carolina.
Formasi diamond empat OV-10A Bronco terbang di atas Shaw Air Force Base, South Carolina.

Pesawat dengan desain unik twin tail boom ini padahal awalnya boleh dikata tidak diinginkan dan hanya bisa diadopsi setelah upaya keras, lobi, dan keberuntungan dari dua penciptanya, W.H. Beckett dan Kolonel K.P. Rice yang merupakan seorang penerbang dari Korp Marinir AS.

Di masa 1960-an dimana seluruh Angkatan yang mengoperasikan aset udara sedang kesengsem berat dengan yang namanya pesawat tempur bermesin turbojet dan rudal, kedua orang ini merasa bahwa tetap ada ruang untuk sebuah pesawat yang didesain secara sederhana, tahan banting, dan mampu membawa banyak muatan dan melakukan misi serangan darat.

Sedemikian sederhananya hingga pesawat ini harus mampu dioperasikan dari jalan raya aspal yang tidak mulus dan lapangan rumput, bisa melakukan pengintaian dan mendarat untuk berkoordinasi dengan pasukan darat, dan langsung terbang lagi untuk mencarikan sasaran bagi pasukan kawan.

Kedua penemu ini mematangkan idenya di garasi rumah masing-masing dan bahkan sempat membuat mock up kayu dan fiberglass. Keduanya secara aktif menawarkan konsep mereka ke sana-sini, berupaya menembus ruwetnya birokrasi Pentagon, hingga akhirnya sukses menggolkan OV-10 melalui program LARA (Light Armed Reconnaissance Aircraft) yang kemudian diadopsi AU AS, Korp Marinir, dan AL AS. Sisanya adalah sejarah.

OV-10F Bronco milik TNI AU. Sumber gambar: DN Yusuf/Angkasa
OV-10F Bronco milik TNI AU. Sumber gambar: DN Yusuf/Angkasa

AS yang terlibat di Vietnam harus bersyukur karena mereka memiliki OV-10, yang bisa menemukan musuh bersembunyi di balik rerimbunan daun dan kamuflase, yang kemudian juga dibuktikan oleh pilot TNI AU dalam operasi di Timtim. Walaupun jumlahnya tidak banyak, OV-10 selalu mendapatkan ponten bagus di medan tempur dari awaknya berkat beragam muatan yang bisa dibawanya.

Awal kiprah di Asia Tenggara tersebut kemudian tak terbendung, dengan berbagai negara sahabat mendapatkan jatah distribusi OV-10, baik itu baru maupun eks lungsuran AS yang sudah tidak membutuhkannya pasca Perang Vietnam. Uniknya, kemanapun sang Kuda Liar pergi, aksi selalu mengiringi. Selain Indonesia, Bronco merasakan ganasnya medan pertempuran di Thailand, Filipina, Venezuela, dan Kolombia.

Bahkan ketika hampir seluruh negara pengguna memensiunkan Bronco yang mulai menua, Bronco tidak benar-benar tutup buku. Amerika Serikat bahkan menghidupkan dua Bronco tersisa, yang sebenarnya sudah berpindah tangan beberapa kali dari Departemen Luar Negeri, NASA, dan kemudian kembali lagi ke tangan AL AS.

Dua pesawat ini dipermak dengan teknologi penginderaan terkini dan terbang sebagai pesawat pengamat dan pengendali tempur bagi pasukan khusus AS yang bertugas di bawah. Siapa nyana, pesawat tua ini masih memiliki darah muda.

Kesiapan terbang di masa evaluasinya mencapai 99%, sebuah prestasi yang tak bisa dipandang sebelah mata dan tak terkejar oleh pesawat tempur AS di masa kini. Ongkos terbangnya saat mengarahkan berbagai amunisi pintar tidak lebih dari 1.000 dolar AS per jam terbang, bisa rendah karena biaya penyusutannya tentu sudah tidak dibukukan lagi, tinggal bayar biaya bahan bakar, pelumas, dan suku cadang. Kalau bukan upaya cawe-cawe dari Senator John McCain yang menyetop pendanaan untuk program evaluasi OV-10G+ boleh jadi Bronco akan hidup lagi.

Halaman depan (cover) edisi Commando Series yang mengupas tuntas pesawat Bronco.
Halaman depan (cover) edisi Commando Series yang mengupas tuntas pesawat Bronco.

Karena keistimewaan dan karier yang penuh warna itulah, Majalah Commando mengangkat OV-10 Bronco sebagai bahasan dalam edisi kali ini. Pembaca akan dibawa bertualang melewati berbagai masa, melihat dari dekat bahwa pesawat yang menyandang kode O alias observasi tersebut ternyata akrab dan berkalang mesiu dengan segenap kisah-kisahnya.

Dapatkan edisi Commando Series OV-10 Bronco: Kiprah Tempur si Kuda Liar di Toko Buku Gramedia dan lapak langganan anda pada Minggu pertama Agustus 2016. Nantikan!

Author: Aryo Nugroho