MPT-76, Senjata Andalan AD Turki

2435
Sumber gambar: thaimilitaryandasianregion.wordpress.com

Setelah senapan tempur MKEK MPT-76 diserahkan kepada Angkatan Bersenjata Turki, timbul  pertanyaa kenapa Turki mengganti senapan tempur andalannya, padahal mayoritas negara NATO sudah beralih ke senapan serbu 5,56×45 mm?

Turki bukannya tidak mencoba. Sebelum MPT-76, MKEK memperkenalkan Mehmetcik-1 pada tahun 2008, namun peruntungannya tidak baik. Mehmetcik-1 justru meniru habis senapan serbu HK416 yang saat itu masih anyar diproduksi pabrikan Heckler & Koch. Akibatnya, litigasi hukum pun datang dari sang empunya paten.

Di lapangan, prajurit Turki menolaknya, terutama yang ditugaskan di sebelah Utara yang medannya bergunung-gunung. Menggunakan peluru 5,56mm di tempat yang sangat berangin dan engagement rangenya jauh, sama saja mimpi buruk.

Itulah sebabnya kenapa MKEK akhirnya kembali ke meja desain dan akhirnya muncul lah MPT-76. Dalam banyak hal, MPT-76 tetaplah senjata konvensional yang dapat diproduksi dengan peralatan sederhana.

Desainnya memang tidak lagi meniru HK416, tetapi kalau melihat receivernya, kentara betul kalau senapan tempur Turki ini sesungguhnya adalah modifikasi besar dari desain senapan AR-10, yang secara langsung merupakan mbahnya AR-15, M16, dan kemudian M4 dan seterusnya.

Desain receiver yang terbelah antara bagian atas dan bawah, terhubung dengan pivot pin, lalu bentuk bolt dan keberadaan bolt assist dan deflektor kelongsong, semuanya merujuk pada layout M16. hanya saja handguard sudah dimodifikasi dengan rel Picattinny untuk penempelan aksesoris.

Yang berbeda adalah mekanisme pengoperasiannya, yang mengandalkan operating rod atau piston kecil, yang sebenarnya merupakan mekanisme bawaan AR-180 dan kemudian diturunkan ke HK417.

Yang membuat MPT-76 kelihatan berbeda adalah pemasangan aksesoris berupa sandaran tangan yang dipasang di bagian depan lubang magasen, memeluk rel di handguard kuadran bawah. Sandaran tangan lebih dipilih dibandingkan dengan front grip mengingat hentakan tembakan peluru 7,62 mm jauh lebih besar dibandingkan dengan 5,56 mm. Sehingga posisi tangan didekatkan sebisa mungkin dengan tubuh untuk menahannya.

Lagipula menempelkan tangan ke lubang magasen juga sudah seperti menjadi kebiasaan bagi prajurit di sebagian negara. Walaupun secara umum ini membuat senapan terlihat gemuk, namun manfaat yang dirasa menjustifikasi bentuknya.

MPT-76 sendiri menggunakan popor tarik untuk menjaga agar bentuknya tetap kompak. Bagi yang melihat popor MPT-76, coba saja bandingkan dengan bentuk popor HK416A3 atau HK417A2, niscaya masih akan melihat pengaruh desain HK yang ‘menginspirasi’ desainer MKEK untuk memasang popor serupa ke MPT-76.

Untuk magasen, MPT-76 pun menggunakan magasen polimer sehingga sisa peluru yang ada dapat diukur oleh penembak. Terakhir, MPT-76 juga disiapkan dengan gagang pembawa alias carry handle yang bisa dilepas karena ditempelkan ke rel yang disediakan receiver atas. Menurut penulis, bentuk carry handle pada MPT-76 tersebut wagu alias aneh karena tidak selaras desainnya dengan desain MPT-76 sebagai senapan tempur. Lebih baik langsung siapkan optik saja untuk bertahta di sana.

Author: Aryo Nugroho