L-29 Delfin AURI, Pesawat yang Banyak Jasanya

3083

Saat AURI dikenal sebagai Angkatan Udara terkuat di belahan bumi Selatan pada dekade 1960-an, prestasi tersebut tak bisa dilepaskan dari jasa pesawat latih lanjut.

Pesawat latih lanjut di masa itu berjasa mengantarkan kadet-kadet penerbang menjalani transisi menjadi pilot pesawat buru sergap, seperti MiG-17, MiG-19, dan MiG-21. Pesawat-pesawat tersebut pada saat itu hanya dimiliki segelintir negara.

Pada dekade 1950-an, AURI menyandarkan pendidikan lanjutan para kadet penerbangnya pada pesawat baling-baling AT-6 Harvard, yang jumlahnya lebih dari 60 unit. Namun seiring masuknya AURI ke era pancar gas (mesin jet) dan kedekatannya dengan Blok Timur, maka Harvard pun dianggap tidak lagi memadai.

Oleh karena itu, AURI pun membeli 30 unit MiG-15 UTI berkursi ganda yang mulai datang pada tahun 1957-1958. Siapa nyana, karir MiG-15 UTI tidaklah mulus. Problem suku cadang dan mesin yang rewel membuat pesawat jet latih ini mangkrak.

AURI pun buru-buru mencari kandidat baru untuk pesawat latih lanjutnya pada bulan Januari 1964. Tim dibentuk di bawah pimpinan Komodor Udara Budiardjo, Deputi Logistik AURI atau yang sekarang menjadi Koharmatau.

Sasaran yang dituju adalah Cekoslovakia. Saat itu Cekoslovakia memiliki pesawat latih baru L-29 Delfin (lumba-lumba) buatan Aero Vodochody. NATO memberinya kode Maya. Di dunia saat itu baru AU Suriah yang memakainya.

Komodor Budiardjo dan timnya tiba di Praha, Cekoslovakia pada bulan Juni 1964 untuk menginspeksi L-29 di pabriknya. Kontingen TNI AU tersebut dibuat kagum dengan L-29.

L-29 dari awal memang didesain sebagai pesawat latih, handling pesawat dibuat mudah untuk dikendalikan. Bidang pandang dari kokpit juga sangat jelas dan tak terhalang karena penggunaan desain kaca gelembung, termasuk pada kanopi depan.

Pada saat itu tidak banyak pesawat Blok Timur yang punya desain seperti itu. Satu lagi nilai plusnya, L-29 juga sudah terpilih sebagai pesawat latih standar Blok Timur, mengalahkan kandidat seperti Yak-30 dan Ts-11 Iskra.

Dalam pengoperasiannya, L-29 Delfin juga dikenal bandel karena mampu lepas landas dan mendarat langsung di lapangan rumput atau landasan tanah yang diperkeras.

Sistem persenjataan yang dapat dipasang meliputi kanon dan roket untuk latihan weapon delivery.

Pihak pabrikan juga mengatakan bahwa L-29 dapat mengurangi jam terbang yang dibutuhkan untuk menyiapkan pilot AURI. Hal ini sangat diidamkan karena pada saat itu AURI mengalami kekurangan pilot yang sangat kronik karena datangnya alutsista tidak imbang dengan produksi pilot dari sekolah penerbang.

Komodor Budiardjo dan timnya sangat puas dengan pesawat itu dan L-29 pun dipesan. Kedutaan Besar Indonesia di Cekoslovakia menangani urusan keuangan, termasuk negosiasi harga.

Cekoslovakia yang terhitung pelit dalam memberikan kredit untuk penjualan senjatanya justru membuka tangannya lebar-lebar untuk Indonesia. Indonesia bahkan tercatat sebagai debitur pertama untuk kredit ekspor dari Cekoslovakia.

Demi Indonesia, produksi pun dikebut. Dua L-29 pertama sudah tiba di tanah air pada awal tahun 1965, dengan beberapa penyesuaian untuk pengoperasian di wilayah tropis.

Pesawat latih lanjut ini menerima kelir berupa strip petir warna merah yang memanjang di tubuhnya, beda dengan kelir Skadron Pendidikan TNI AU yang terpampang pada L-29 Delfin yang dapat ditemui di museum Dirgantara Mandala Yogyakarta saat ini.

Walaupun perubahan politik kemudian membuat puluhan jet tempur yang dimiliki AURI kehabisan suku cadang, nasib berbeda dialami oleh L-29 Delfin. Indonesia membuat satu-satunya perkecualian dari kebijakan putus hubungan dengan Blok Timur dengan tetap menjalin kontak dengan pabrikan Aero Vodochody.

AURI merasa, walaupun jet tempur mereka mayoritas sudah habis, pendidikan tidak boleh berhenti. Sampai tahun 1976 tim teknisi dari Cekoslovakia tercatat masih datang untuk melakukan perawatan dan asistensi terhadap L-29.

L-29 Delfin sendiri baru benar-benar pensiun dari TNI AU ketika pesawat latih lanjut British Aerospace Hawk Mk.53 datang ke tanah air pada tahun 1980.

Setelah itu, L-29 dinyatakan pensiun. Sebagian masih dipertahankan untuk kursus teknik, sebagian dijadikan monumen, dan sebagian lagi ada yang dijual ke luar negeri seperti Amerika Serikat dan Australia dan saat ini bahkan masih terbang di kalangan pehobi aviasi.

Author: Aryo Nugroho