Bom Panci, Modus Baru Serangan Teroris di Indonesia

6583
Barang bukti bom panci. Sumber gambar: Valian Danendra

Keberhasilan Densus 88 dalam membongkar rencana teror yang menyasar Istana Negara dalam penggrebekan rumah kos di Bintara, Bekasi memang patut diapresiasi. Bukan tanpa sebab, karena bom yang ditemukan dalam operasi ini memiliki daya ledak tinggi dan potensi merusak yang sangat letal. Berbeda dengan kasus-kasus sebelumnya, jaringan JAKDN atau Jamaah Anshar Khalifah Daulah Nusantara yang dipimpin oleh Bahrun Naim menggunakan modus baru yaitu menyiapkan bom dalam panci, sesuai keterangan Kabag Mitraopenmas Divhumas Mabes Polri, Kombes Pol Awi Setiyono.

Jika ditilik dari bentuknya, panci yang digunakan tersebut bukanlah panci biasa, melainkan panci bertekanan (pressure cooker) atau di Indonesia jamak dikenal dengan panci presto. Bentuknya khas dengan pelat penahan (securing lid) dan tutup kaca yang dilengkapi dengan katup pembuangan uap. Di luar negeri, bom panci seperti ini merupakan modus favorit yang digunakan oleh teroris di Afghanistan, Nepal, dan Pakistan.

Sumber gambar: Suharso Rahman
Olah TKP oleh Polri. Sumber gambar: Suharso Rahman

Bahkan di Amerika Serikat, mayoritas serangan teror yang dilakukan juga menggunakan bom panci, seperti yang dilakukan pertama kali oleh Tsarnaev bersaudara yang merupakan imigran Chechnya di lomba Maraton Boston pada 15 April 2013 yang menewaskan 3 orang dan melukai 264 lainnya, dengan kasus cacat permanen. Kasus kedua adalah bom panci yang dipasang di dalam mobil dan ditinggalkan di Times Square pada 1 Mei 2010 dan gagal meledak. Kasus terakhir di Manhattan, New York, pada 17 September 2016 yang dilakukan oleh Ahmad Khan Rahami.

Ada dua hal yang menyebabkan modus bom panci menjadi populer. Yang pertama adalah ketersediaan manual pembuatan bom panci yang pernah diunggah oleh Al Qaeda di dalam majalah propaganda “Inspire” yang beredar di kalangan pro garis keras dan tersedia secara online. Alasan kedua, adalah bom panci dapat dibuat dengan bahan sederhana dengan efek yang sangat letal. Desain panci bertekanan, yang dirancang kedap udara, dapat meningkatkan efek ledakan ketika bagian dalamnya diisi dengan bahan peledak. Ketika peledak dipantik, maka ada jeda dimana tekanan ledakan terkungkung sementara di dalam panci, dan ketika akhirnya mencapai titik kritis, maka tekanan ledakan yang tercipta jelas sangat besar.

Ketika di sekeliling panci diisi dengan material logam berukuran kecil seperti paku, mur, atau ball bearing, maka material tersebut saat didorong tekanan ledakan akan melesat dengan kecepatan sangat tinggi, seperti proyektil peluru. Dan panci bertekanan memiliki kapasitas besar, sehingga mampu menampung lebih banyak isian dibanding katakanlah, bom pipa/ lontong yang selama ini populer. Gelombang kejut yang dihasilkan dari ledakan bom panci mampu merambat dengan kecepatan 19.000 mil/jam atau setara 30.000 km/ jam. Tidak berlebihan bila Polri menyatakan bahwa bom panci Bintara, dengan isian paku, mur, baut bisa melesat dengan kecepatan 4.000km/ jam.

Efek gelombang kejut bisa merusak organ dalam dan telinga korban yang berdiri di dekatnya, belum lagi trauma perlukaan akibat hantaman pecahan-pecahan logam tajam dan isiannya. Dengan bentuk serpihan-serpihan logam, perlukaan yang ditimbulkan masif dan sukar bagi tim medis untuk melakukan pertolongan rekuperasi karena pecahan logam yang menancap terlalu dalam dan dalam jumlah banyak. Bahkan tidak jarang, tindakan ekstrim seperti amputasi terpaksa dilakukan karena tingkat keparahan luka yang ditimbulkan.

Setelah melihat paparan dahsyatnya efek bom panci, ungkapan salut sekali lagi harus disampaikan pada Densus 88 yang atas dedikasi dan kerja kerasnya telah berhasil menghentikan aksi teror tepat waktu sebelum sempat dilancarkan. Sementara bagi pembaca, tingkatkan kewaspadaan di area sekitar. Apabila ada benda seperti koper atau tas ransel tak bertuan yang ditinggalkan di keramaian, jangan ragu untuk menghubungi petugas keamanan. Selalu waspada, itu antisipasi terbaik dalam menghadapi aksi teror.

Author: Aryo Nugroho