Gremlin, Masa Depan Pertempuran UAV

2168

Menurut Anda, bagaimana pertempuran udara di masa depan? Pesawat nirawak (UAV) saling berhadap-hadapan, saling kunci dan berusaha menjatuhkan, dikendalikan ratusan kilometer jauhnya oleh awak yang mungkin mengendalikan UAV-nya sambil bersantai?

Mungkin ini akan terjadi dalam 10 tahun mendatang, akan tetapi Departemen Pertahanan AS punya ide yang lebih baik: daripada satu lawan satu, lebih baik keroyok saja musuh, pasti kita akan lebih unggul!

Ide inilah yang mendasari proyek Gremlin yang digagas oleh DARPA (US Defense Department’s Advanced Research Program Agency). Proyek Gremlin akan menggagas satu kumpulan UAS (Unmanned Aircraft Systems) yang dapat dioperasikan jarak jauh.

Tujuannya, UAS ini akan beroperasi di area yang rawan terhadap sistem pertahanan musuh dengan radar yang sensitif, atau wilayah dalam gangguan elektromagnetik yang tinggi.

UAS tersebut akan dibawa oleh sebuah pesawat induk, diluncurkan di tengah penerbangan, dan bisa kembali ke pesawat induk apabila sudah kehabisan bahan bakar.

Platform pembawanya beraneka ragam, mulai dari MC-130, B-52, F-15E, dan pesawat lainnya yang sudah dimodifikasi dengan memadai.

Awak pengendali UAS akan ikut terbang dengan pesawat induknya. Ia akan mengoperasikan kumpulan UAS itu dengan sistem kendali tunggal dari jarak aman. Dengan desain ini, dibutuhkan lebih sedikit awak untuk melaksanakan misi, dan tentu saja lebih aman.

UAS-UAS yang dioperasikan akan memiliki kecerdasan artifisial untuk saling mengenali satu sama lain, berbagi informasi dengan sistem datalink, menetapkan prioritas misi dan UAS mana yang akan melaksanakannya.

Sistem pengoperasian multi UAS tersebut dikembangkan dalam proyek CODE (Collaborative Operations in Denied Environment). Sejauh ini, proyek CODE sudah melalui Fase I dimana simulasi operasi berhasil didemonstrasikan.

Selain itu pengembangan teknologi pendukungnya yang dilakukan oleh enam perusahaan sekaligus.

Untuk platform UAS, DARPA minggu lalu menunjuk dua tim dari Dynetics dan General Atomics Aeronautical Systems. Masing-masing diberikan anggaran senilai US$21 Juta untuk membuat UAS yang sesuai untuk program Gremlin.

Mereka juga bertugas mengintegrasikan teknologi yang sudah dibuat di Fase I ke dalam UAS. General Atomics berpengalaman membuat UAV seperti MQ-9 Reaper, sementara di belakang Dynetics ada Sierra Nevada Corporation, Applied Systems Engineering, Moog, dan Systima.

UAS yang dibuat akan mampu membawa beragam muatan, mulai dari sensor elektro-optik, radar, dan bahkan senjata seperti SDB (Small Diameter Bomb).

Tak menutup kemungkinan bahwa UAS yang dikembangkan bisa dijadikan platform rudal jelajah pintar yang dikendalikan oleh manusia (man in the loop) untuk memastikan sasaran sebelum perkenaan.

Apabila fase kedua ini berhasil, maka fase ketiga akan dilanjutkan dengan pengembangan teknologi penuh dan uji terbang Gremlin.

Fase ini juga mencakup peluncuran dan juga pendaratan UAS-UAS tersebut ke platform pembawanya. Untuk tahap ujicoba, UAS akan dibawa dengan pesawat C-130 yang dimodifikasi.

UAS-UAS tersebut diharapkan hanya memiliki waktu turnaround yang rendah, cukup 24 jam masa persiapan dan perawatan sebelum diterbangkan kembali untuk misi berikutnya. Apabila lancar, maka diharapkan fase ketiga sudah dapat mulai dijalankan pada tahun 2019.

Faktor lain yang diharapkan akan membawa proyek Gremlin ke tahap operasional adalah biayanya yang rendah.

UAS untuk proyek ini didesain untuk bisa dipakai selama 20 kali pakai, sebelum diganti dengan UAS yang lebih baru. Material pembuatan untuk UAS-UAS ini akan memanfaatkan material komposit yang ringan sehingga biaya pembuatannya pun juga akan murah.

Sejauh ini mock up UAS yang dipamerkan oleh General Atomics menggunakan sistem propulsi jet mini, dengan desain silindris mirip dengan rudal jelajah.

Author: Aryo Nugroho