F-18XT, Sang Penjegal F-35

4906

Dalam kunjungan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ke pabrik Boeing di South Carolina, di hadapan 5.000 pegawai Boeing, para veteran, dan pendukungnya, Trump menyaksikan peluncuran perdana Boeing 787-10 Dreamliner.

Dalam kesempatan ini Trump sekali lagi menyinggung mengenai F/A-18E/F Super Hornet Block III yang kini sudah memperoleh julukan resmi sebagai F-18XT.

Seperti diketahui, Departemen Pertahanan AS kini sedang mengebut untuk menyelesaikan proses review atas program F-35. Tahap review ini juga menilai apakah platform yang ada saat ini dapat dimodifikasi untuk memenuhi tuntutan tugas yang akan diemban oleh F-35.

Trump sendiri kepada wartawan sambil setengah mengancam mengatakan bahwa kalau harga F-35 tidak diturunkan juga, maka pemerintah AS akan membatalkan sebagian pesanan F-35 dan mengalihkannya kepada F-18XT untuk AL AS.

Dukungan yang disampaikan Trump kepada program F-18XT merupakan angin segar bagi Boeing, karena lini produksi F/A-18E/F Super Hornet sebentar lagi akan ditutup.

AL AS diketahui hanya memesan dua unit tambahan Super Hornet di tahun fiskal 2017 dan memesan tambahan 14 unit lainnya pada tahun fiskal 2018. Setelah itu, kalau tidak ada order tambahan, maka lini produksi akan ditutup dan fasilitas produksinya akan diubah untuk memproduksi pesawat lainnya.

Tampilan kokpit F-18XT.
Tampilan kokpit F-18XT.

F-18XT sendiri didasarkan pada program F/A-18E/F Advanced Super Hornet yang sudah dimulai Boeing sejak 2014. Program peningkatan tersebut meliputi peningkatan kemampuan stealth dan kewaspadaan situasional.

Jarak terbangnya juga akan ditingkatkan dengan peningkatan kemampuan mesin General Electric F414-440 sebesar 20%.

Peningkatan kemampuan stealth dilakukan dengan pemasangan EWP atau Enclosed Weapon Pod. F/A-18XT akan kebagian pod yang didesain dengan bentuk yang mengurangi radar cross section dan dipasang pada bagian tengah atau centerline pylon.

Satu pod EWP dapat menampung sampai enam SDB (small diameter bomb) dan dua rudal AIM-120 AMRAAM atau dua bom 250kg berpemandu laser Paveway. Dua AIM-120 AMRAAM, atau gotongan lainnya juga dapat digendong sampai bobot 1.200 kg.

F/A-18XT juga akan dipasangi CFT (Conformal Fuel Tank) di bagian punggung fuselage. Ini didesain untuk mengurangi radar cross section jika dibandingkan harus membawa tangki bahan bakar cadangan di bawah sayap.

Gabungan dua unit CFT yang terpasang akan menambah kapasitas bahan bakar sebesar 3.500 pon yang jika diterjemahkan menjadi tambahan radius terbang 150 mil. Jadi, nantinya F/A-18XT akan memiliki radius aksi sampai 700 mil dengan persenjataan terpasang.

Gabungan EWP dan CFT mampu menurunkan RCS F/A-18E/F sampai 50% dari ambang batas yang ditetapkan oleh AL AS.

Perubahan besar lainnya adalah penggantian avionik kokpit menjadi sistem berdasarkan layar lebar sehingga kewaspadaan situasional meningkat.

Program F/A-18XT sendiri didesain untuk dapat diadakan secara terpisah per komponen paket. Pesawat tersebut dapat pula diretrofit ke standar F/A-18E/F maupun EA-18 Growler yang saat ini sudah berdinas aktif di jajaran AL AS.

Boeing tentu berharap, dengan dukungan Presiden Trump di belakangnya, F-18XT akan dibeli sehingga lini produksi Super Hornet akan tetap berjalan.

Tidak hanya Boeing yang beruntung, AL AS pun dalam pandangan administrasi Trump akan lebih punya kepastian kemampuan serang. Perlindungan armada juga dapat lebih terjamin dibandingkan masih harus menunggu program F-35C yang terus bermasalah.

Author: Aryo Nugroho