Duet Maut HK-Steyr RS556 Pengganti G36

5583

Pemerintah Jerman yang kecewa dengan kualitas senapan buatan Heckler & Koch (HK) diberitakan sedang mempertimbangkan untuk mengganti 176.544 pucuk G36 karena masalah manufaktur yang di bawah standar, terutama dalam material polimer yang digunakan untuk handguard dan receiver. Akibat buruknya kualitas pembuatan G36, senapan-senapan tersebut ditengarai mudah macet terutama setelah digunakan untuk penembakan otomatis.

Kejadian memalukan seperti penarikan mundur pasukan linud Jerman saat diserang Taliban di Afganistan pada April 2010 terjadi karena senapan serbu G36 mereka macet. Dalam kontak tembak yang menewaskan tiga prajurit tersebut, sebagian besar G36 yang digunakan mengalami masalah overheat. Pemerintah Jerman sampai maju ke pengadilan dan menuntut Heckler & Koch untuk mengganti seluruh senapan serbu yang berasal dari pengadaan tahun 1996 tersebut, tetapi keputusan sementara pengadilan berpihak kepada HK.

Karena masalah senapan serbu tersebut dianggap kronis, Pemerintah Jerman pun meluncurkan tender penggantian senapan serbu G36 dengan target bahwa Bundeswehr akan memiliki senapan serbu baru mulai 2019.

Pabrikan HK, yang mungkin merasa kalau kans mereka jadi sempit setelah kasus litigasi, dengan cerdik memilih partner perusahaan Austria Steyr Mannlicher yang kebetulan sedang mendesain senapan serbu baru. Kalau nanti menang, Steyr sebagai perusahaan Austria sudah pasti harus mencari partner lokal, dan dalam hal ini Heckler & Koch pasti bisa membantu.

Uniknya, kolaborasi keduanya justru akan menawarkan senapan serbu berbasis berkode RS556 yang berbasis Steyr STM556, senapan serbu yang diperkenalkan oleh Steyr pertama kali pada 2012. Dikatakan unik karena STM556 sendiri sesungguhnya menggunakan desain dan layout standar karabin AR-15/M4 milik Amerika Serikat. Ini merupakan langkah berbelok dari tradisi, meninggalkan desain unik khas Eropa yang sejak lama sudah mengakar kuat.

Walaupun menggunakan layout standar seperti AR-15/M4, Steyr Mannlicher tentu mencangkokkan sejumlah fitur khas yang pernah diperkenalkan Steyr pada senapan serbu STG77/AUG (Armee Universal Gewehr).

RS556 direncanakan akan memiliki sistem pengoperasian berbasis gas-piston yang dapat disetel volumenya. Fitur ganti laras tanpa bantuan alat yang membuat AUG begitu revolusioner juga akan dimiliki oleh RS556. Di dalam satu senapan serbu tersebut nantinya dapat disiapkan berbagai format, mulai dari karabin (14,5 inci), senapan serbu (16-18 inci), senapan mesin ringan (20 inci), sampai dengan senapan tembak runduk (laras heavy barrel).

Tuas untuk ganti larasnya disediakan di sisi kiri depan handguard. Sistem magasen polimer tembus pandang yang diperkenalkan Steyr pada STG77 juga dibawa serta, tentu dengan bentuk desain STANAG 4179.

Popor RS556 juga dirancang dengan setelan 7 posisi sehingga penembak akan mendapatkan setelan yang paling sesuai dengan preferensinya. Soal aksesoris, pabrikan menyediakan sistem rel pada kuadran atas yang tak terputus dari upper receiver sampai handguard, dan rel di sisi bawah handguard.

Rel bawah bisa dilepas untuk menempelkan pelontar granat 40mm. Tersedia slot di sisi kiri dan kanan yang dapat dipasangi rel tambahan dengan bantuan mur dan baut. Secara total, bobot senapan serbu STM556 mencapai 4,2 kilogram, cukup berat jika dibandingkan dengan M4.

Yang jadi pertanyaan adalah, Kenapa tidak menjajakan HK416 terlebih dahulu kepada Bundeswehr? Padahal Heckler & Koch memiliki senapan serbu dengan format AR-15/M4, yaitu HK416. Penjualannya juga sangat moncer, bahkan Norwegia telah menjadikannya senapan serbu standar. Perancis pun sampai memensiunkan FAMAS dan mengadopsi HK416F, apalagi varian HK417 malah sudah digunakan untuk tembak jitu.

Banyak pihak mengatakan bawha HK terlanjur malu dan merasa kans menang sangat kecil jika mereka maju sendirian. Sekali reputasi tercemar, sudah tentu butuh waktu lama untuk mengembalikan kepercayaan.

Author: Aryo Nugroho