British Parachute Regiment, Cepat dan Menusuk

16594
Pangeran Charles saat mengunjungi British Parachute Regiment di medan tempur Irak tahun 2004. Sumber gambar: Royal Air Force/Cpl. Gary Wort

 

Ultrinque Paratus

The Parachute Regiment (UK) atau The Paras merupakan pasukan jenis airborne infantry (infanteri linud/lintas udara) Angkatan Darat Inggris (British Army). Sifat yang melekat padanya adalah gerak cepat dan memiliki kemampuan untuk memberikan pukulan mengejutkan dengan menusuk langsung ke titik lemah pertahanan lawan.

Kemampuan yang disebut terakhir itulah yang membuat The Paras disebut juga sebagai shock troop. Dalam konflik bersenjata, The Paras digerakkan untuk misi-misi gerak cepat yang memberikan pukulan pertama (first strike) sambil menunggu datangnya kekuatan lebih besar sebagai pemukul utama.

British Parachute Regiment dibentuk tahun 1941. Di palagan Eropa, batalion The Paras bersama unit-unit AD Inggris lainnya ikut membentuk antara lain 1st Airborne Division, 6th Airborne Division, 2nd Independent Parachute Brigade serta British Indian Army. Yang disebut terakhir ditempatkan di India dan Myanmar.

Sebagai infanteri linud, The Paras pernah ikut serta dalam serbuan besar-besaran lewat udara ke sejumlah posisi Axis, di antaranya Italia, Perancis, Afrika Utara dan tentunya Jerman. Tak jarang British Parachute Regiment diterjunkan paling awal, lebih dulu ketimbang unit pasukan payung lainnya. Selepas PD II, kekuatan The Paras diciutkan menjadi tiga batalion, yang lantas digabungkan ke 16th Parachute Brigade sebelum akhirnya menetap di 5th Airborne Brigade.

Sekarang ini British Parachute Regiment terdiri dari empat batalion, terdiri dari tiga batalion reguler AD Inggris (1st, 2nd dan 3rd Battalion Parachute Regiment/1, 2, 3 PARA) serta satu batalion Army Reserve (4th Battalion Parachute Regiment/4 PARA). 1st Battalion/1 PARA juga bertugas di dalam Special Forces Support Group (SFSG). Di SFSG, 1 PARA berkontribusi sebagai kekuatan pemukul bantuan tambahan bagi pasukan khusus yang kekuatannya lebih kecil dan bersifat surgical entah itu SAS maupun SBS.

Tiga batalion lainnya merupakan kontributor penting 16th Air Assault Brigade yang merupakan pasukan gerak cepat AD Inggris berkualifikasi lintas udara.

Anggota Batalion 2 PARA sedang berlatih menembak dengan senapan Giat Famas buatan Perancis. Sumber gambar: Corporal Andy Reddy
Anggota Batalion 2 PARA sedang berlatih menembak dengan senapan Giat Famas buatan Perancis. Sumber gambar: Corporal Andy Reddy

Dalam kesehariannya, 4 PARA lebih diposisikan sebagai kekuatan cadangan, namun dalam situasi mendesak batalion ini dapat cepat digerakkan bersama dua batalion lainnya (2 PARA dan 3 PARA) dalam 16th Air Assault Brigade. 1 PARA bermarkas di St.Athan, 2 PARA dan 3 PARA bermarkas di Colchester, sedangkan 4 PARA bermarkas di Pudsey.

Bagaimana membedakan anggota batalion yang satu dengan lainnya? Lihat saja flash bagian bawah Wing PARA mereka. Flash 1 PARA berwarna merah hati, untuk 2 PARA berwarna biru, 3 PARA warna hijau sedangkan 4 PARA berwarna hitam.

Sejak PD II

Berbicara mengenai palagan yang pernah diikuti The Paras, nyaris semua palagan besar yang melibatkan Inggris melibatkan pula British Parachute Regiment. Dari sini saja sudah terlihat arti penting dan nilai strategis The Parachute Regiment terhadap kekuatan militer negerinya Ratu Elizabeth II.

Mulai dari PD II, Krisis Terusan Suez,  Gejolak di Irlandia Utara, Perang Falklands (Perang Malvinas), Konflik di Semenanjung Balkan, Krisis di Sierra Leone, hingga Konfrontasi Indonesia-Malaysia. Yang terkini adalah invasi ke Irak dan Perang Afganistan.

Lambang British Parachute Regiment dijadikan tato kebanggaan. Sumber gambar: Pinterest
Lambang British Parachute Regiment dijadikan tato kebanggaan. Sumber gambar: Pinterest

The Parachute Regiment senantiasa dituntut untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan, termasuk jika besok pun harus dikirim bertempur demi kepentingan Inggris Raya. Sesuai motto: Ultrinque Paratus, semboyan bahasa Latin yang berarti “Ready for Anything” atau Bersiap untuk Segala Sesuatu. Termasuk tentunya bersiap menghadapi sutuasi terburuk yang menuntut level bakti tertinggi dari seorang prajurit pada ibu pertiwinya.

Author: Antonius KK