Briptu Christeel, Polwan Master CRT Didikan Amerika Serikat

20968
Sumber foto: Suharso Rahman

Isu gender ternyata tidak hanya diaplikasikan oleh Resimen Ranger 75 Angkatan Darat Amerika Serikat dengan mendidik dua perwira di sekolah Ranger. Korps Brimob pun melakukannya, dan hebatnya pada level strategis dengan mengirimkan tiga Polisi Wanita (Polwan) Brimob mengikuti pendidikan antiteror dalam program DS-ATA di Amerika Serikat. Ceritanya begini.

Akhir tahun 2013, dibuka pendidikan CRT (Crisis Response Team) di Virginia, AS yang rutin diikuti personel Brimob sejak awal tahun 2000. Sejak awal latihan ini hanya diikuti oleh personel Brimob laki-laki. Sehingga waktu itu oleh Danmen 1 Gegana Kombes Imam Widodo, diusulkan apakah bisa dalam pendidikan kali itu Brimob mengirimkan juga Polwan. Alasannya sangat taktis, karena dalam beberapa kasus terakhir ditemukan tersangka teroris juga ada perempuan.

Ide diterima dan seleksi pun berjalan. Delapan Polwan mengikuti seleksi ketat baik psikotes maupun kemampuan individu. Mereka pun diboyong ke pusat latihan antiteror Polri di Mega Mendung, Bogor, Jawa Barat guna mengetahui kemampuan gun handling dan mengenal peralatan unit antiteror. Bagi sebagian dari mereka, itulah kali pertama merasakan latihan di shooting house.

Setelah melalui rangkaian seleksi bersama anggota Polki (polisi laki-laki), akhirnya terpilihlah tiga Polwan Brimob. Mereka adalah Brigadir Martha A. Nainggolan, Briptu Pularwati, dan Briptu Christeel Racheltania Philip.

“Kami bertiga ikut rombongan Polki dari Gegana untuk ikut CRT dasar di fasilitas milik kontraktor O’Gara Group yang berada di Montross, Virginia. Total dari Indonesia 24 orang dengan rincian delapan dari Resimen 1 yaitu lima Polki dan tiga Polwan dan sisanya Gegana dari Polda Bali dan NTB,” ujar Briptu Christeel Racheltania Philip. Akhir 2014, rombongan berangkat ke Amerika untuk mengikuti pelatihan CRT selama 1,5 bulan.

Briptu Christeel mengawali kariernya di kepolisian setelah menyelesaikan pendidikan Polwan tahun 2009. Ia yang merupakan utusan dari Polda Kepulauan Riau, langsung mendapat penugasan di Korps Brimob. Pendidikan Brimob pun sudah dilaluinya di Pusdik Brimob Watukosek.

Bagai domba di tengah serigala, Briptu Christeel awalnya merasa canggung melatih para Polki, namun ia berhasil membuktikan bahwa ia pantas menjadi panutan. Sumber foto: Suharso Rahman
Bagai domba di tengah serigala, Briptu Christeel awalnya merasa canggung melatih para Polki, namun ia berhasil membuktikan bahwa ia pantas menjadi panutan. Sumber foto: Suharso Rahman

Peralihan dari musim dingin ke panas sempat menganggu konsentrasi mereka, meski tak lama. Kedatangan tiga Polwan itu tak pelak mengagetkan para pelatih. “Kok ada perempuan ya,” begitu kira-kira celetuk mereka. Namun menurut Christeel, kekagetan itu tidak lama. Karena dengan cepat ketiga Polwan ini menunjukkan kemampuannya yang tidak kalah dari Polki, sehingga menimbulkan kekaguman dari para pelatih yang rata-rata mantan pasukan khusus AS.

Memang selama ini tidak ada perempuan yang mengikuti pendidikan CRT. “SWAT wanita yang pernah dilatih di Amerika dari seluruh dunia hanya dari Indonesia. Belum pernah ada sebelumnya,” aku Kompol Agus Waluyo, Kaden C Resimen 1 Gegana Korps Brimob Polri.

Karena kemampuan ketiga Polwan ini menyerap materi dengan baik, akhirnya tim Indonesia dijadikan benchmark oleh para pelatih kepada tim dari negara lain yang kebetulan mengikuti latihan yang sama. Para pelatih ternyata punya standar tinggi untuk Indonesia, yang selalu diberi rangking terbaik.

“Entah kenapa Indonesia selalu jadi peringkat teratas menurut versi mereka, sehingga kami dijadikan contoh cara berlatih kepada tim lain,” ulas Christeel. Saat itu juga tengah berlatih tim dari Chad, Tunisia, dan Nigeria.

Sumber foto: Suharso Rahman
Sumber foto: Suharso Rahman

Meski ketiganya perempuan, tidak membuat pelatih mengendorkan kedisiplinan. Mereka diperlakukan tidak beda dengan rekan laki-lakinya. Jika salah, ya dihukum. Semua dikerjakan sendiri selama latihan dari Senin hingga Jumat. Namun Christeel menilai, hukuman yang diberikan lebih kepada moral.

Misalkan dalam latihan antiteror mereka salah menembak dan mengenai sandera, hukumannya dipersilakan melakukan upacara pemakaman. Sekitar 70% materi latihan lebih banyak dilaksanakan di lapangan tembak. Untuk menghindari kesalahan dalam menerima petunjuk dari pelatih karena keterbatasan bahasa, disediakan cukup banyak penerjemah.

Sekembalinya ke Indonesia, Christeel yang juga penerjun freefall ini kembali ke Resimen 1 Gegana. Ia pun melaksanakan beberapa penugasan bersama tim Wan Teror yang tidak mau ia sebutkan rinciannya.

Awal 2016 kemarin, DS-ATA kembali membuka program upgrade kemampuan personel Gegana lewat pendidikan Master CRT. Nama Briptu Christeel terselip sebagai satu-satunya Polwan di antara 11 nama anggota Gegana. Juga ikut utusan dari Densus 88, Resimen 4 Demolat Korps Brimob, dan dari Filipina. Latihan dilaksanakan selama lima bulan di Mega Mendung.

Master CRT adalah standar kemampuan tertinggi untuk seorang operator. Tingkatannya kurang lebih terdiri dari Operator CRT, Advance CRT, dan Master CRT. Seseorang yang sudah dianggap master dianggap memiliki kemampuan mumpuni dalam memahami semua materi di CRT. Sehingga mereka berhak (certified) untuk melatih para pelatih. Hal itu Commando saksikan sendiri saat Resimen 1 Gegana melaksanakan latihan penyegaran terhadap semua perwira Resimen. Saat itu Christeel dengan percaya diri, membimbing dan mengarahkan para perwira yang dinilai tidak sesuai prosedur.

Apakah Briptu Christeel percaya diri di antara para mitranya yang semuanya laki-laki?

“Justru saya makin percaya diri karena di samping saya orang hebat semua. Saya kan sudah punya ilmunya, tinggal praktik saja. Saya semakin termotivasi. Lah mereka yakin dengan saya masak saya tidak yakin dengan diri saya sendiri,” tutur Christeel menjelaskan.

Meski demikian, ia mengaku berusaha menutupi dirinya semaksimal mungkin saat melaksanakan penugasan untuk menghindari bidikan kamera dan perhatian masyarakat.

Author: Beny Adrian