Pilot-pilot OV-10F Bronco Bikin Paguyuban

1808
Sumber gambar: Reni Rohmawati

“Oleh-oleh” Indroyono Soesilo dari Fort Worth, AS, memberi kebanggaan bagi para penerbangan TNI AU yang pernah menerbangkan OV-10F Bronco. Di sela-sela kunjungannya ke Amerika Utara sebagai Utusan Menteri Perhubungan untuk ICAO (International Civil Aviation Organization) bulan lalu, ia memang berkunjung ke Museum OV-10 Bronco sekaligus bertemu asosiasinya di Texas itu.

Rupanya, penerbang-penerbang Bronco Indonesia belum eksis di asosiasi tersebut. Jim Hodgson, Ketua OV-10 Bronco Association, sangat antusias untuk mengajak mereka bergabung.

Sebelum berangkat ke AS, Indroyono memang sudah mengenalkan OV-10F Bronco TNI AU lewat museum ayahnya, Museum Soesilo Soedarman di Cilacap, Jawa Tengah.

“Bedanya museum ini dengan yang lain adalah mempublikasikannya lewat internet dan berbahasa Inggris,” ujarnya. Jadilah sekarang, aksi-aksi Bronco TNI AU termasuk pilot-pilotnya, dikenal luas di dunia dan tergabung dalam asosiasi dunia tersebut.

Waktu itu, Indroyono Soesilo bertemu dengan Marsdya (Purn) Wresniwiro dan Marsda (Purn) Kusnadi Kardi , Marsda TNI Agus Munandar, dan lainnya. Para pilot Bronco ini kemudian memberikan buku dan foto-foto untuk disimpan di Museum OV-10 Bronco di Fort Worth itu. Di samping itu, pilot-pilot OV-10 pun membentuk paguyuban untuk bisa bertemu dan berkumpul . Pertemuan pertama paguyuban ini berlangsung atas prakarsa Indroyono di Jakarta pagi tadi (12/4).

“Organisasi resmi memang belum, tapi paguyuban ini ada,” ujar Wresniwiro, Ketua Paguyuban OV-10F Bronco, Indonesia. Ia pun bercerita bahwa dirinya bangga ketika bertugas sebagai penerbang OV-10F karena didewasakan di Mandala Operasi atau medan pertempuran. “Kami ini penerbang yang bau asap mesiu,” ungkapnya.

Selama 31 tahun mengemban tugas di TNI AU, OV-10F Bronco memang banyak melaksanakan operasi keamanan di dalam negeri. Bahkan satu bulan dari awal kedatangannya pada September 1976, Bronco sudah bertugas keTimor Timur sebagai bantuan tembakan udara (BTU). “Sehari bisa tiga-empat sorti BTU, terbang dari Kupang,” tutur Wresniwiro.

Hampir tidak ada operasi keamanan dalam negeri tanpa kehadiran OV-10F Bronco yang skadronnya bermarkas di Lanud Abdulrahman Saleh, Malang ini. Sebut saja Operasi Seroja (1976-1979), Operasi Tumpas (1977-1978), Operasi Halilintar (1979), Operasi Guruh dan Petir (1980), Operasi Kikis Kilat (1980-1981), Operasi Tuntas (1981-1982), Operasi Halau (1985-1997), Operasi Rencong Terbang (1991-1993), dan Operasi Oscar (1991-1992). Seperti halnya bagi AS, pesawat OV-10 memang sangat berperan dalam Perang Vietnam.

Pada silaturahim pertama Paguyuban OV-10F Bronco, Indonesia itu, selain nama-nama di atas hadir pula Marsekal (Purn) Rilo Pambudi dan para veteran pilot Bronco lainnya, juga Marsekal (Purn) Chappy Hakim. Chappy yang veteran penerbang C-130 Hercules ini menyebut OV-10F Bronco sebagai pesawat yang disegani lawan. “Peran OV-10 sangat menentukan pada titik tertentu dan menjadi ukiran emas dalam sejarah,” ujarnya.

Author: Reni Rohmawati