Pasar Wisata Muslim Akan Tumbuh Pesat Bernilai 220 Miliar Dollar AS Tahun 2020

330
wisata muslim
(Dari kiri ke kanan) Safdar Khan, Division President, Indonesia, Malaysia & Brunei Mastercard; Arief Yahya, Menteri Pariwisata Republik Indonesia dan Fazal Bahardeen, Chief Executive Officer CrescentRating & HalalTrip berfoto bersama untuk meresmikan peluncuran Global Muslim Travel Index 2017 di Jakarta, 3 Mei 2017. Sumber gambar: Weber Shandwick

Studi Indeks Wisata Muslim Global (GMTI) Mastercard-Crescent Rating 2017 yang diluncurkan di Jakarta pada Rabu (3/5/2017) menunjukkan bahwa pasar wisata muslim akan terus tumbuh pesat . Nilai dari sektor tersebut diperkirakan tumbuh hingga mencapai 220 miliar dollar AS pada tahun 2020. Proyeksi lebih jauh lagi, pertumbuhannya akan sampai bernilai 300 miliar dollar AS pada tahun 2026.

Hasil penelitian itu juga menyatakan, Indonesia sukses meningkatkan posisinya dalam dua tahun berturut-turut. Tahun ini, Indonesia naik satu peringkat dan menempati posisi ketiga sebagai tujuan wisata utama pasar wisata muslim dunia.

Peringkat pertama adalah Malaysia dan kedua Uni Emirate Arab. Indonesia menggeser Turki yang berada di posisi keempat, sedangkan di posisi kelima adalah Arab Saudi yang menggeser Qatar. Berturut-turut sampai posisi kesepuluh adalah Maroko, Oman, Bahrain, dan Singapura (non-OKI) atau Iran (OKI).

“Indonesia telah menanamkan investasi yang besar terhadap sektor ini. Hal tersebut tercermin pada peningkatan yang dicapai Indonesia dalam peringkat secara keseluruhan selama dua tahun berturut-turut,” ujar Fazal Bahardeen, CEO dari CrescentRating & HalalTrip, di Jakarta, Rabu (3/5/2017).

Di samping itu, indeks yang mencakup 130 destinasi wisata tersebut menunjukkan, sejumlah destinasi non-Organisasi Kerjasama Islam (OKI) di Asia berhasil menaikkan peringkat mereka. Singapura mempertahankan posisi puncaknya untuk destinasi utama non-OKI, yang bersama Thailand, Inggris, Afrika Selatan, dan Hong Kong, berada di peringkat lima besar. Jepang naik dua peringkat menjadi peringkat keenam, sementara Spanyol masuk peringkat sepuluh besar untuk pertama kalinya.

Asia sebagai wilayah yang memiliki daya tarik paling besar bagi para wisatawan muslim secara global memimpin dengan skor rata-rata GMTI mencapai 57,6. Posisi kedua ditempati kawasan Afrika dengan skor 47,0, diikuti oleh Oceania (43,8), Eropa (39,9), dan Amerika (33,7).

“Kami melihat adanya pengaruh dari wisatawan (traveller) generasi muda, milenial, dan gen Z. Mereka menggabungkan teknologi dengan keinginan yang nyata untuk menjelajahi dunia sambil tetap memperhatikan kebutuhan-kebutuhan yang sesuai dengan kepercayaan mereka,” ucap Bahardeen.

Bahardeen menambahkan, “Mereka akan menjadi pendorong bagi fase pertumbuhan selanjutnya. Destinasi wisata seperti Indonesia harus merangkul generasi ini untuk senantiasa mempertahankan dan meningkatkan peringkatnya pada masa mendatang.”

Division President Mastercard di Indonesia, Malaysia & Brunei, Safdar Khan mengatakan, keseluruhan pengeluaran para wisatawan muslim mencapai sekitar 155 miliar dollar AS tahun 2016. Secara global, tahun 2016 diperkirakan jumlah total kedatangan wisatawan muslim mencapai 121 juta orang, naik dari 117 juta orang pada tahun 2015. Jumlah ini mewakili 10 persen dari keseluruhan sektor perjalanan.

Menurut Khan, pasar wisata muslim menjadi pendorong yang kuat bagi pertumbuhan berkelanjutan pada sektor wisata di seluruh dunia. Sektor ini terus berkembang dengan dorongan utama dari  perubahan demografis dan digitalisasi.

Author: Reni Rohmawati