Helicopter Summit Indonesia 2017: Indonesia Belum Memaksimalkan Potensi Helikopter

1016
Helikopter
Sumber gambar: Reni Rohmawati

Potensi helikopter dalam penerbangan sipil nasional belum dimaksimalkan. Padahal sebagai negara kepulauan yang luas dengan penduduk lebih dari 250 juta jiwa dan kekayaan sumber daya alamnya, peran helikopter sangat dibutuhkan di Indonesia.

“Kalau kita bicara tentang aviasi, yang dilhat hanya penerbangan berjadwal. Padahal bukan hanya itu karena di sana ada penerbangan carter, corporate, helikopter, dan lain-lain. Any aircraft yang engaged di airspace itu harus di-managed karena bicara safety harus dilihat secara keseluruhan,” urai Capt Imanuddin Yunus, Ketua APHI (Asosiai Pilot Helikopter Indonesia) di Bandung, Senin (15/5).

Maka APHI pun menggagas diadakannya Helicopter Summit Indonesia (HSI) 2017 yang pertama di Bandung pada 15-16 Mei ini. HSI 2017 ingin menggugah kesadaran seluruh pihak, khususnya Pemerintah sebagai regulator penerbangan sipil dan masyarakat, bahwa masih banyak potensi yang bisa diperankan helikopter.

“APHI memang ingin menggelar HSI ini setiap tahun. Kalau sekarang lingkupnya masih Indonesia, tahun depan bisa se-Asia,” kata Capt Yunus.

Selama ini, peran helikopter hanya diketahui beroperasi untuk mendukung perusahaan minyak & gas serta penerbangan di Papua. Padahal helikopter dapat berperan di berbagai sektor, seperti evakuasi medis, emergensi, pencarian dan pertolongan (SAR), bahkan transportasi kota dan wisata, juga untuk pengawasan illegal logging dan illegal fishing yang saat sedang digalakkan Pemerintah.

“Sekarang peran helikopter itu sudah beroperasi untuk public service. Pemerintah aware pada masyarakat, sehingga bukan hanya aspek komersial, tapi sudah public service,” ungkap Denon Prawiraatmadja, Ketua Penerbangan Carter INACA (asosiasi perusahaan penerbangan nasional Indonesia).

Sekjen INACA Tengku Burhanuddin menambahkan, Pemerintah sudah memberi perhatian penuh pada helikopter. “Pemberian izin sudah lebih terbuka dan hal-hal lain bisa dibicarakan bersama,” ujarnya.

Kepala Subdit Operasi Penerbangan DKUPPU (Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara) Capt Tri Nusiogo memang mengatakan, helikopter sangat penting dan sangat dibutuhkan, khususnya untuk mendukung kegiatan migas. Pihaknya pun memberi dukungan agar peran helikopter makin besar dan pelakunya tetap profesional walaupun bisnisnya naik-turun.

Menurut Manager Operasi Surya Air Capt Sugiyono, penyelenggaraan HSI sangat dibutuhkan oleh pelaku industri helikopter. Apalagi saat ini, masih banyak yang perlu dibenahi agar helikopter makin berperan dan maju. “Cuma bandara di Balikpapan yang punya prasarana khusus buat helikopter. Bandara-bandara lain belum mengakomodasikannya,” ucapnya.

Di sisi lain, Denon juga mengatakan bahwa perlu peran yang besar dari pengelola navigasi penerbangan agar utilisasi helikopter optimal. Sekarang ini masih ada pembatasan, terutama untuk terbang malam.

Menanggapi hal ini, Direktur Utama AirNav Indonesia Novie Riyanto dan Kepala Subdit Operasi Direktorat Navigasi Penerbangan Hasan Bashory mengajak untuk berdiskusi bersama untuk mencari solusi. Sampai saat ini, regulasi terkait Night VFR (Visual Flight Rule) memang belum ada dan tidak dibolehkan.

Banyak yang dibahas dalam HSI 2017. Banyak pula manfaat yang diperoleh para peserta, seperti para pilot helikopter, operator, regulator, juga pemangku kepentingan lainnya. Karena itulah, Capt Tri Nusiogo berharap HSI rutin diadakan setiap tahun.

Author: Reni Rohmawati