Captain Pilot Penentu Jumlah Bahan Bakar

2436
bahan bakar

“Sebagai Captain Pilot, saya menentukan berapa jumlah bahan bakar pesawat yang harus saya bawa untuk menjalani penerbangan non-stop dari Kuala Lumpur, Malaysia ke Sidney, Australia”. Hal itu dikatakan Denni Hartanto, Captain Pilot pesawat Airbus A330 Air Asia saat akan terbang dari Low Cost Carrier Terminal (LCCT) Kuala Lumpur International Airport (KLIA) ke Bandara Kingsford Smith di Sidney, Australia yang berjarak 3.638 NM (ground distance).

Lama penerbangan non-stop 8,5 jam dengan penumpang penuh 377 orang, ia menentukan berapa bahan bakar yang diisikan ke pesawat A330, termasuk hitungan ke alternate base terdekat di bandara Tulamerine, Melbourne yang jaraknya 386 NM ditempuh satu jam lima menit penerbangan.

“Bandara-bandara di Australia sering bermasalah dengan cuaca dan angin kencang, mengharuskan saya memilih alternate base terdekat seperti Melbuorne (386 NM) atau Brisbane (418 NM) seandainya tidak bisa melakukan pendaratan di Sidney.”

Selanjutnya Captain Denni Hartanto yang lulusan Australian Aviation College (AAC) di Adelaide tahun 1992 dengan empat rating yaitu pesawat Fokker F-27, Boeing 737, Airbus A320, dan Airbus A330 itu menjelaskan, bahwa panduan jumlah bahan bakar yang harus dibawa oleh sebuah pesawat komersial seperti Airbus A330 sudah dirinci oleh perusahaan IT Jeppesen. Yaitu untuk penerbangan non-stop Kuala Lumpur-Sidney lengkap dengan penerbangan ke alternate base-nya, pihak Jeppesen menentukan 57.000 kg.

Baca Juga:

Gunakan Peranti Lunak Ini, Maskapai Bisa Hemat Bahan Bakar

Air BP dan AKR Bangun Koalisi Menangkan Bisnis Bahan Bakar Penerbangan

Denni mengatakan hal itu sambil menunjukkan iPad bekal terbangnya, dimana di layarnya ada serangkaian daftar perhitungan penggunaan bahan bakar itu dan bahkan dapat menunjukkan seluruh biaya yang harus dikeluarkan perusahaan sebesar 47.000 dolar AS untuk penerbangan satu kali jalan Kuala Lumpur-Sidney, untuk bahan bakar dan biaya melewati udara Indonesia.

Ada dua cara

Menurut Denni, ada dua cara untuk menentukan jumlah bahan bakar yang dibawa terbang. Cara itu adalah Can Flight Plan dan Live Flight Plan. Can Flight Plan biasanya digunakan untuk penerbangan jarak dekat dan jumlah bahan bakar yang dibawa relatif tetap. Sedangkan Live Flight Plan diterapkan bagi penerbangan jarak jauh yang sangat dipengaruhi kondisi cuaca maupun angin di tempat-tempat tertentu saat penerbangan itu dilakukan.

Jumlah bahan bakar yang dibawa sudah termasuk hitungan adanya kemungkinan-kemungkinan di perjalanan (contingency plan) sebanyak 3% atau sebesar 1.200 kg, bahan bakar untuk holding sebelum mendarat sebesar 2.150 kg, dan gerakan taxi di landasan tujuan sebesar 400 kg. Faktor umur pesawat juga menjadi salah satu yang diperhitungkan.  Sementara pihak perusahaan, Air Asia, menentukan bahwa setelah mendarat pesawat harus masih memiliki bahan bakar untuk 30 menit penerbangan.

“Memang ada informasi perhitungan bahan bakar yang seyogyanya dibawa, namun saya sebagai Captain Pilot bisa menentukan lain, bisa kurang atau bisa lebih dari informasi itu. Perhitungan saya dalam menentukan jumlah bahan bakar yang dibawa terbang, merupakan bagian dari profesionalisme Captain Pilot dan hal itu secara terus menerus dipantau pihak perusahaan.”

Baca Juga:

Airbus Demonstrasikan AAR dari Pesawat C295W ke Helikopter H225M

Capt Rubijanto Adisarwono: Instruktur Terbang Harus Tangguh

Bila penerbangan pada hari itu ramai, banyak pesawat di udara, sehingga tidak memungkinkan untuk terbang lebih tinggi, lalu dalam perjalanan terjadi cuaca buruk yang harus dihindari dengan menempuh jalur yang lebih jauh, atau bahkan menunggu antrean di saat taxi, semuanya harus menjadi perhitungan penggunaan bahan bakar.  Dikatakan, penentuan jumlah bahan bakar harus dihitung secara cermat, tanpa mengesampingkan faktor keselamatan terbang namun juga tidak merugikan perusahaan tempat ia bekerja.

Dengan sekitar 47.000 dolar AS yang harus dikeluarkan maskapai penerbangan untuk menjalani rute terbang pesawat A330 berpenumpang penuh 377 orang dari Kuala Lumpur ke Sidney melalui wilayah udara Indonesia satu kali jalan, berarti sekitar setengah miliar rupiah harus dikeluarkan oleh perusahaan penerbangan pemiliknya.

Author: Soenjoto