Airlines dan Pelni Jajaki Wisata Antar-Moda

1024
wisata
Sumber gambar: Reni Rohmawati

Prioritas untuk meningkatkan jumlah wisatawan mancanegara ke Indonesia dengan target 15 juta kunjungan dan 265 kunjungan wisawatan Nusantara pada tahun 2017 mendapat respons positif dari sarana angkutan laut dengan menggandeng sarana angkutan udara.

PT Pelni, salah satunya, sangat antusias untuk bekerja sama dengan maskapai-maskapai penerbangan nasional demi meningkatkan kapasitas angkut armada kapalnya, khususnya yang dioperasionalkan sebagai kapal wisata.

“Sudah berkali-kali kami melakukan penjajakan dengan pemilik Lion Group (Rusdi Kirana) untuk mengembangkan angkutan bagi wisawatan, khususnya di Manado dan sekitarnya,” ujar Elfien Guntoro, Direktur Utama PT Pelni di KM Umsini, 31 Desember lalu.

Rupanya ujud kerja sama antara Pelni dan maskapai di bawah Lion Group (Lion Air, Batik Air, dan Wings Air) itu belum membuahkan hasil konkret. Elfien mengatakan, masih banyak yang harus dibenahi, terutama dalam penyediaan armada kapal dan konektivitasnya.

Grup Lion memang makin gencar membuka rute-rute baru dan menambah frekuensi penerbangan, yang diprioritaskan untuk mendukung sektor pariwisata Indonesia. Beberapa destinasi dengan penambahan frekuensi penerbangan adalah Medan, Batam, Padang, Pekanbaru, Surabaya, Semarang, Solo, Malang, Banjarmasin, Balikpapan, Denpasar, Lombok, dan Ujung Pandang.

Presiden Direktur Lion Group, Edward Sirait mengatakan, selain rute-rute domestik,rute internasional pun akan dijajaki oleh Batik Air, yakni ke kota-kota di India, Australia, dan Tiongkok.

Baca Juga:

Tarakan Ingin Datangkan Banyak Wisatawan Tawau

Menteri Pariwisata Kritik Travel Fair Indonesia

“Kami akan terus berkomitmen kepada masyarakat untuk selalu memberikan pelayanan yang optimal, salah satunya dengan membuka rute baru yang dapat memberikan pilihan yang baru dengan aman, cepat, dan hemat biaya,” ucapnya.

Baru-baru ini, Lion Air juga membuka rute Jakarta-Ternate. “Semoga masyarakat dapat terbantu dengan rute baru ini, dan menstimulasi pertumbuhan daerahnya dari segiekonomi, industri, dan pariwisata,” tutur Edward.

Kalau dengan Lion Group masih dalam penjajakan, Direktur Komersial PT Pelni, Harry Boediarto menambahkan bahwa Pelni sudah bekerja sama dengan Garuda Indonesia untuk rute Jakarta-Batam. Namun, katanya, untuk meningkatkan arus wisatawan, kerja sama tersebut masih harus terus ditingkatkan dalam penambahan rute dan destinasinya.

Ubah pola pikir

Menurut Elfien, untuk turut serta dalam meningkatkan arus wisatawan diperlukan perubahan pola pikir. Sejak tahun 2014, Pelni memang sudah berupaya untuk mengembangkan bisnis wisata dalam operasional armada kapalnya. Namun sampai saat ini, walaupun ada peningkatan tapi belum optimal.

“Kapal laut itu bukan hanya sebagai moda angkutan penumpang. Pelni pun mulai merambah sektor pariwisata. Naik pesawat kan lebih murah, jadi orang lebih memilih naik pesawat sekarang ini. Untuk apa berlama-lama di kapal? Maka kita harus ubah mindset, kalau naik kapal Pelni itu bukan cuma untuk mencapai tujuan. Misalnya ke Raja Ampat, yang menjadi lini bisnis yang kami mulai sekarang. Termasuk pula target dari Arief Yahya (Menteri Pariwisata), Pelni harus jadi hotel terapung yang berlayar di sepuluh destinasi prioritas,” papar Elfien.

Berbagai paket wisata, termasuk untuk MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition), sudah ditawarkan Pelni. Yang terbaru, Pelni menyelenggarakan paket perayaan penggantian tahun ke tahun 2017 di atas kapal. Dengan KM (Kapal Motor) Umsini yang berusia 32 tahun, 536 penumpang berlayar dari Tanjung Priok ke perairan dekat Pulau Edam di Kepulauan Seribu, masih di wilayah DKI Jakarta.

Baca Juga:

Garuda Bidik Pariwisata Di Nusa Tenggara Timur

Fiji Airways Gaet Wisatawan Indonesia

“Awalnya kita hanya mau branding launching, tapi ternyata peminatnya banyak, sampai ada waiting list,” ungkap Elfien.  Dengan biaya Rp500.000 untuk orang dewasa dan Rp250.000 untuk anak-anak, Pelni menyediakan berbagai fasilitas dan acara, seperti face painting, photo booth,hiburan musik dengan DJ, serta berbagai permainan dan melihat kembang api, termasuk makan malam, makanan ringan, dan kamar tidur.

Melihat antusiasme masyarakat, Harry mengatakan tak menutup kemungkinan untuk menyelenggarakan lagi perayaan momen besar di atas kapal. “Di atas kapal ini atmosfernya berbeda dengan didarat,” ujarnya, seraya menyebut bahwa ada 26 kapal Pelni yang menyediakan fasilitas untuk penyelenggaraan pesta dan MICE itu.

Aerofood ACS

Elfien mengakui, masih banyak yang harus ditingkatkan dalam armadanya agar peminat makin berminat menggunakan kapal sebagai sarana wisata dan MICE. “Kami akan tingkatkan, terutama hospitality dalam faslitas kapal,” ujarnya.

Salah satu yang sudah dilakukannya adalah bekerja sama dengan PT Aerofood Indonesia (Aerofood ACS) dalam penyediaan makanan. “Ada dua kapal yang sudah memiliki fasilitas frozen food bekerja sama dengan Aerofood, yakni kapal dari Surabaya ke timur dan Jakarta-Batam,” kata Elfien.

Baca Juga:

Sengketa Teritorial Kepulauan Spratly dan Potensi Objek Wisata

Sultan Iskandar Muda  Jadi Bandara Terbaik untuk Pelancong Muslim

Direktur Utama PT Aerofood Indonesia, Bambang Sujatmiko berujar, “Waktu itu, untuk mengubah mind set di Pelni itu sangat sulit. Pro-kontra banyak. Kami produksi di Surabaya dalam bentuk frozen. Kita siapkan cool room. Awalnya untuk Kelud (kapal), lalu Sinabung. Kita latih pegawainya dan mem beli combi oven dengan kapasitas 800 porsi makanan. Jadinya efisien. Tadinya, untuk menyediakan makanan itu mereka masak di kapal. Chef-nya belanja, tapi tak bisa dikontrol.”

Bersama jajaran manajemennya, Elfien memang terus berupanya untuk mengubah pola pikir dan gemcar berpromosi untuk meningkatkan jumpah pengguna jasanya. Bekerja sama dengan maskapai penerbangan, juga hotel-hotel berbintang terus dilakukan untuk menjadikan armada kapal wisatanya diminati masyarakat.

Author: Reni Rohmawati