Bandara Rahadi Osman Ketapang Akan Dipindah

7254

Bandara Rahadi Osman yang terletak di Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat dinilai sudah tidak ideal dalam hal keselamatan penerbangannya. Bandara terletak di tengah pemukiman padat, lahannya terbatas sehingga sulit dikembangkan. Padahal tingkat pertumbuhannya penumpang sangat tinggi yaitu 15 persen pertahun.

Menurut Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso yang mengunjungi bandara tersebut pada Jumat- Sabtu (18 dan 19 Maret 2017), Bandara Rahadi Osman Ketapang mendesak untuk dikembangkan. Namun demikian biaya untuk mengembangkan bandara ini ditempat yang lama  akan sama dengan membangun bandara baru di tempat lain yang bisa dikembangkan lebih lanjut. Oleh karena itu pemindahan bandara ke tempat lain yang lebih baik merupakan opsi utama.

Selama dua hari ini, Agus Santoso meninjau Bandara Rahadi Oesman serta beberapa tempat yang disediakan oleh Pemerintah Daerah untuk relokasi bandara. Di antaranya di desa Tempurukan Kecamatan Muara Pawan Kabupaten Ketapang yang berjarak sekitar 26 km dari Bandara Rahadi Oesman dan Desa Riam Berasap Kecamatan Sukadana Kabupaten Kayong Utara yang berjarak sekitar 65 km. Beberapa tempat lain akan dikunjungi kemudian hari.

Menurut Agus, penurunan tingkat keselamatan juga akan mempengaruhi penurunan tingkat keamanan dan pelayanan serta bisnis transportasi udara di bandara ini.

Menurut Kepala Unit Penyelenggara Bandar Udara Rahadi Osman, Suhardoyo, saat ini ada 50 penerbangan per minggu di Bandara ini. Yaitu 8 kali sehari pada  hari Senin, Selasa, Kamis dan Sabtu. Serta 6 kali penerbangan  sehari pada hari Rabu, Jumat dan Minggu. Maskapai yang beroperasi di bandara ini adalah Garuda, Kalstar, Wings, Transnusa dan penerbangan perintis oleh Dimonim Air.

“Saat ini setiap hari ada sekitar 450 orang yang datang dan 450 orang yang berangkat. Namun kapasitas ruang tunggu terminal hanya 170 penumpang,” ujarnya.

Menurut Suhardoyo, pada tahun 2012 sudah pernah dilakukan upaya pembebasan tanah di ujung runway 17 oleh tim Appraisal. “Nilai jual obyek pajak (NJOP) tanah hanya sekitar Rp 100 ribu/ meter perswgi. Sedangkan harga pasaran hanya Rp 350 ribu/ meter persegi. Namun masyarakat meminta dibeli seharga Rp 1,350 juta / meter persegi,” ujar Suhardoyo lagi.

Terkait keselamatan penerbangan juga dinyatakan oleh General Manager Airnav Indonesia untuk Bandara Rahadi Osman, Teddy  Wahyudi.

Menurut Teddy, saat ini pemanduan untuk pesawat (instrument approach prosedur) adalah non precision. “Kita tidak bisa melakukan prosedur precision karena strip runway kurang. Harusnya ada 300 meter yaitu 150 meter masing-masing di kiri dan kanan runway. Sekarang yang ada hanya masing-masing 75 meter. Pindah (bandara) adalah pilihan terbaik,” ujarnya.

Author: Gara